
Alice sekarang sedang memyetrika di ruangan khusus untuk memyetrika, disana sudah ada tempat untuk menyetrika juga. Tempat yang khusus Alex berikan untuknya. Alice sekarang menyetrika, namun tidak sepenuhnya disana. Pikirannya melayang kemana-mana, dia masih memikirkan perihal Tiara.
Tentu saja dia tidak lupa, betapa romantisnya suaminya dulu dengan Tkara sampai semua orang selalu saja menggosipkan mereka. Ketika Alex tiba-tiba menyatakan perasaannya dan memintanya untuk menjadi kekasihnya, Alice tidak langsung menerimanya. Dia minta diberikan waktu, dia hanya takut menjadi pelampiasan saja.
Ketika nanti Tiara kembali, Alex akan lebih memilih Tiara. Bertahan-tahun mereka menjalani dan tidak ada Tkara disana. Tapi sekarang..
Tiara kembali.
Allce menjadi benar-benar takut.
"Sayang.." Alice terkejut ketika bisikan itu terdengar di telinganya bersamaan dengan pelukan melingkar di perutnya.
"Astaga Alex." Tidak perlu menoleh, Alice sudah tahu ini Alex.
"Sayang. Aku memanggilmu dari tadi, tapi kamu sama sekali tidak meresponnya," bisik Alex.
"Benarkah?" Alice terkejut. "Maafkan aku," ucapnya merasa bersalah.
Alex tersenyum. "Tidak apa-apa sayang." Alex mematikan setrika, kemudian membalik tubuh Alice ke arahnya. "Kenapa denganmu? Kau tahu melamun saat menyetrika itu sangat berbahaya. Ada masalah apa?"
Alice menghembuskan nafas. Alex sudah sangat mengenal dirinya. "Tidak apa-apa. Aku hanya lelah, jadi aku melamun."
"Sudah berapa lama kita bersama dan kamu masih mau berbohong kepadaku, hm?" Alex memberikan tatapan mendominasinya. "Aku mengenalmu dengan baik sayang. Kamu tidak akan melamun saat-saat seperti ini, kecuali jika kamu ada masalah. Beritahu aku, apa yang terjadi sebenarnya sayang?"
"Aku baik-baik saja."
"Kamu menganggapku sebagai suamimu kan?"
"Untuk apa kamu bertanya begitu? Tentu saja aku menganggapmu sebagai suamiku."
Alex tersenyum. "Maka kau harus menceritakan masalahmu. Dalam hubungan suami-istri, kamu tidak boleh menyembunyikam apapun dari suamimu. Setiap masalah harus dihadapi bersama-sama."
Alice menghembuskan nafasnya, menundukkan kepala. "Sebenarnya aku khawatir tentang kamu dan Tiara."
Kening Alex mergenyit. "Kami?"
Alice mengangguk. Kemudian memunggungi Alex. "Alex, aku masih mengingat jelas bagaimana kamu sangat mencintai Tiara dulu. Kalian sangat romantis dulu, sampai satu sekolah membicarakan kalian. Aku juga melihat bagaimana terpuruknya dirimu karena ditinggalkan oleh Tiara."
"Karena iru saat kamu menyatakan perasaan kepadaku, aku meminta waktu karena aku ragu kalau kamu hanya menjadikan aku sebagai pelampiasan. Tapi akhirnya aku menerimamu dan mengesampingkan resiko yang akan aku terima karena aku benar-benar mencintaimu." Alice menghela nafas. "Tapi sekarang, dia kembali. Aku hanya takut. Takut kalau sampai kamu---"
__ADS_1
Alice tidak melanjutkan perkataannya. Karena dia tahu Alex sudah mengerti maksudnya. Alex yang mematung, perlahan berjalan mendekati Alice, lalu kembali memeluk Alice dari belakang. Alice hanya membiarkannya, tanpa memegang tangan Alex yang ada di perutnya seperti biasanya.
"Sayang. Sudah berapa lama kita bersama?"
"Berpacaran 4 tahun, menikah 1 tahun."
"Aku dan Tiara?"
Alice terdiam sebentar, berusaha mengingat-ingat. "2 tahun."
"Itulah perbedaannya. Aku bersamamu jauh lebih cepat, jadi cintaku kepadamu tentu saja lebih besar dibandingkan dengan Tiara sayang. Kenapa kamu harus khawatir? Tiara itu hanyalah masa laluku, kamu tidak perlu khawatir."
"Cinta sejati sampai kapanpun akan selalu ada dan tidak akan hilang, Alex." Alice melepaskan pelukan, tanpa menoleh ke arah Alex. "Bagaimana kalau ternyata di hatimu yang paling dalam, kau masih sangat mencintai Tiara? Hanya saja kau terpaksa---"
"Maksudmu, aku mencintai Tiara? Cinta sejatiku adalah Tiara, bukan kau. Begitu maksudmu?"
Alice terdiam. Karena memang itulah yang dia maksudkan.
Alex menghela nafas frustrasi. "Sayang! Kita sudah berapa lama menikah dan kau masih meragukan cintaku?!" Alex menaikkan nada bicara karena kesal.
Alice yang mendengar nada bicara Alex menunggu, menoleh dengan wajah terkejut. Dia bisa melihat Alex kesal.
"Alex.."
"Kenapa? Lihat diriku, apa aku tipe pria seperti itu, huh?" Alics menggeleng. "Sudah berapa tahun kita bersama dan kau masih meragukanku?"
"Bukan Alex----"
Alex menghela nafas kasar. "Terserah kamu, lakukan apapun yang membuatmu senang. Tahu begini, lebih baik aku masuk ke kantor saja."
"Alex. Lex!"
Panggilan Alice tidak dihiraukan oleh Alex yang melangkah semakin jauh. Alice akhirnya terdiam dan matanya memanas, hingga genangan itu tidak bisa dia tahan. Alice terduudk di kasur, menangis disana.
"Maafkan aku Alex, aku hanya takut kehilanganmu."
--Marriage Life Part 8--
Alice terbangun ketika cahaya matahari menusuk matanya. Kesadarannya penuh seketika ketika sisi ranjangnya kosong, Alice membalikkan tubuh dan berlari ke kamar mandi dan tidak menemukan Alex. Hanya masih ada aroma sabun yang bisanya dipakai Alex, Alice lemas seketika.
__ADS_1
Alex benar-benar marah kepadanya.
Alice menggigit bibir, kemudian kembali ke kasurnya dan duduk disana. Matanya memanas dan air matanya kembali jatuh. Dia mulai menangis.
"Alex.. Aku takut kehilanganmu, kemarin aku benar-benar merasakan takut itu. Ada temanku yang ditinggalkan suaminya karena mantannya kembali," ucapnya sembari menangis. "Aku hanya takut, itu terjadi kepada kita. Aku mencintaimu dan tidak mau kehilanganmu. Aku--hiks.." Alice menundukkan kepala dan menangis.
"Sayang."
Alice melebarkan mata dan terkejut melihat Alex menghampirinya. "Alex?" Alex tak lama duduk disampingnya. "Kamu disini?"
Alice terdiam ketika Alex tiba-tiba memeluknya dan mengecup puncak kepala Alice. "Maafkan aku," ucapnya. "Kemarin aku hilang kendali, aku kebetulan sedang lelah karena Gavin mengatakan ada sedikit masalah di kantor. Aku tetap tidak bisa pergi, lalu kamu mengatakan itu dan aku jadi marah."
Alice membalas pelukan Alex, berusaha menghapus air matanya. "Alex. Berarti tadi kamu kemana? Aku mengira kamu marah kepadaku, lalu segera perg ke kantor tadi."
"Bukan begitu Alex. Aku di dapur, ingin memasak sarapan untukmu. Aku akan ke kantor agak siang, aku memasak untukmu, karena aku sedikit merasa bersalah katena kejadian kemarin."
Alice menggigit bibir, menangis sembari memeluk Alex. Alex membalas pelukannya dan sesekali mengecup pundak kepala Alice agar tenang. Alice menggeleng." Kau tidak perlu meminta maaf, aku yang salah Alex. Aku yang salah." Pelukan Alice kepada Alex semakin erat. "Alex.. Maafkan aku, aku hanya takut kamu mendengarku kan tadi?"
Alex mengangguk. "Ya. Kamu tenang saja, aku tidak sama seperti suami temanmu, aku benar-benar hanya mencintaimu dan cinta sejatiku benar-benar hanya dirimu, hanya Alice saja. Tiara hanya masa laluku saja sayang, Aku bersumpah kepadamu, serius sayang."
Alice tersenyum, terharu mendengar ucapan Alex. Dia pun memeluk Alex semakin erat." Terima kasih Alex, aku mencintaimu."
"Aku sangat.. Mencintaimu," ucapnya sembari tersenyum.
Keduanyapun terkekeh secara bersamaan, kemudian saling memeluk.
.
.
.
.
.
.
--**To Be Continue--
__ADS_1
Ayo gaes.. Dukungan sangatlah dibutuhkan**.