
...***...
Satu Minggu sudah berlalu sejak pemilihan Asisten rumah tangga versi William. Dan akhirnya hari ini dia akan datang untuk mulai bekerja. Satu mimggu adalah waktu yang Gisha minta untuk mempersiapkan dirinya.
"Hari ini aku akan pulang larut. Tidur saja lebih dulu." Kata Will sembari mengusap mulutnya dengan tissue. Dia baru selesai melahap habis nasi goreng buatan sang istri.
"Ya, oke." Gisha menjawab seadanya, meski sudah satu minggu berlalu, dia tetap kesal pada orang ini.
"Ingin ikut ke kantor?"
"Enggak."
"Sudah satu Minggu, dan istri ku tidak bertanya apa-apa soal Rumah itu ya? Padahal isinya orang-orang gila seperti mereka? Kau tidak takut atau tidak penasaran? Makanya tidak bertanya apapun?"
Entah kenapa pagi-pagi buta seperti ini William malah membahas hal ini. Padahal Gisha tidak membahasnya karna tidak ingin menyinggung topik ini. Dia tidak mau terlibat lebih dalam soal William.
"Karna saya takut makanya gak nanya apa-apa." Lebih baik jujur saja, Gisha tau Will bisa tau kalau Gisha berbohong.
"Bagus, sepertinya aku tidak perlu mengingatkan apa-apa. Mereka tidak akan menyakiti mu selama menurut padaku, soal Rumah itu, tutup mata dan seolah tidak tau apa-apa, kau mengerti?"
"He'em." Gisha mengangguk sembari terus memakan nasi goreng di depannya. Sudahlah, sesuai perkataan William. Selama Gisha tidak membantah orang itu dan terus menurutinya saja, dia akan baik-baik saja. Toh meski agak menyeramkan selama ini Will tidak pernah kasar padanya kan?
"Kalau begitu aku pergi ya sayang. Nanti asisten rumah tangga kita akan datang."
"Asisten rumah tangga itu untuk mengawasi ku biar gak kabur kan?"
"Istri ku sangat cerdas, aku bangga padamu." Will meninggalkan satu jejak sayangnya di pucuk kepala sang istri, dengan senyuman manis di pagi hari.
"Perlu saya antar sampai pintu?"
"Gak usah, makan dan sehat oke?"
"Okee."
__ADS_1
William pergi dengan mengusap kepala sang istri dengan lembut.
Benar, Gisha sudah tidak punya pendirian, tujuan, dan harapan. Dia hanya terus mengikuti alur yang mengalir dalam hidupnya, dia sudah kehilangan harapan. Ah, mungkin satu-satunya harapan yang dia punya saat ini adalah hidup dengan tenang dan damai.
Ting!
Rasanya baru sepuluh menit yang lalu William berpamitan, jangan bilang dia datang lagi. Mungkin ada sesuatu yang tertinggal?
Gisha berjalan ke arah pintu, padahal dia sedang tidak ingin bergerak. Soalnya kemarin malam William sukses membuat kakinya keram. Mau ditolak, tapi itu tanggung jawab seorang istri untuk melayani suaminya. Sudahlah pasrah saja.
"Ehm? Kak Kitty?"
Gisha baru saja membuka pintu rumahnya, dan seorang tamu yang tak terduga berdiri di depannya. Dia adalah Kitty, istri Hatson, mantan tunangannya William.
"Ah, halo adik ipar. Astaga, terima kasih, kau masih mengenali kakak ipar mu ini." Kitty memeluk Gisha dengan erat, beramah tamah layaknya kakak-adik ipar yang dekat. Tapi nyatanya apa? Gisha bahkan sedikit membenci orang ini karena telah menipunya terakhir kali.
"Ada apa? Kenapa kakak datang kesini?" Gisha masih memiliki sopan santun loh untuk memanggil Kitty dengan panggilan kakak.
Tanpa izin, dengan gampangnya Kitty langsung masuk ke rumah Gisha, dan duduk di sofa berwarna abu-abu itu.
'Gak ada yang nanya soal Hatson, gak niat nanya juga. Mending kau pergi dari sini.' Setidaknya Gisha sudah menjerit walau hanya dalam hati.
Urat-urat kekesalan sudah muncul di kepala Gisha. Dia sudah mulai berpikir bagaimana cara mengeluarkan perempuan ini dari rumahnya. Padahal sejak kepergian William, Gisha sudah merasa tenang dan damai, dia ingin menikmati waktunya, tapi yang datang malah orang menyebalkan ini?
"Kapan kalian akan rencana pindah rumah?" Tanya Kitty lagi, sembari mengipas wajahnya dengan kipas berwarna hitam yang dia bawa khusus dari rumahnya.
"Ha?" Gisha mengernyitkan dahinya heran. Entah darimana informasi yang dia dapat, tapi itu semua tidak benar kan? Gisha tidak pernah berniat pindah dari rumah ini.
"Eh? Jangan bilang kalian tidak akan pindah rumah? Adik ipar, jangan bilang bahwa kau akan tetap di rumah ini sampai tua? Astaga! Bagaimana itu mungkin? Kau ingin menua di rumah yang kecil ini."
"Ya, memang gak ada niat pindah rumah kok. Rumah ini gak kecil, rumah ini juga nyaman. Dan aku juga Will tidak ada rencana pindah rumah." Gisha menjawab seadanya saja.
"Astaga! Apa suami mu itu pelit? Selain aneh, dan tidak suka perempuan, suami mu itu sangat pelit ya Gisha? Untung saja aku tidak jadi menikah dengannya, kalau jadi, hancurlah hidup ku. Entah bagaimana kau bisa bertahan dan memaksakan diri untuk tetap di rumah ini." Padahal Gisha yang tinggal disini, tapi Kitty lah yang terlihat heboh sendiri.
__ADS_1
"Tapi aku tinggal di rumah ini bukan karna terpaksa, ini nyaman."
"Ya ampun, kau rendah hati sekali. Jangan takut, jangan menangis juga. Kau tidak perlu berbohong dan menyembunyikan kesedihan di depan kakak ipar mu ini. Aku selalu berada di pihak mu, jadi kau katakan saja, ceritakan saja betapa sulitnya hidup dengannya. Jangan khawatir, kakak akan bilang pada Hatson, agar dia mengatakannya pada William kalau kau butuh rumah baru."
Gisha menatap datar dan dingin di depan Kitty, syukurlah Kitty tidak menyadarinya. Rasanya Gisha ingin memukul kepala wanita yang ada di depannya. Dia berisik dan sok tau, bebal dan menyebalkan.
"Tidak perlu Kak." Gisha masih mencoba bersabar, menghadapinya dengan senyuman alakadarnya yang bisa Gisha keluarkan.
"Kau pasti tersiksa batin tinggal di rumah kecil ini kan. Oh ya, kenapa pelayan mu tidak peka sekali. ada tamu disini, tapi dia tidak menyuguhkan apapun, entah makanan atau minuman. Mereka bahkan tidak menunjukkan wajahnya."
"Ehm, Kakak mau minum apa? Biar aku siapkan."
"Eh? Kenapa kau yang menyiapkannya? Dimana para pelayan tidak tau diri itu? Sebentar, jangan bilang mereka melawan padamu? Sini, biar aku hajar mereka, berani-beraninya mereka. Biar aku beri pelajaran mereka agar mereka tau, siapa majikan dan pelayan disini."
"Ehm, Kak, aku tidak punya pelayan. Tidak ada satupun asisten rumah tangga disini."
'yang satu masih otw.' lanjut Gisha dalam hati.
"Astaga! Apa-apaan itu! Apa William sudah gila? Bagaimana dia bisa menikahi anak orang tanpa memperkerjakan asisten rumah tangga?! Gisha, jangan bilang kau melakukan seluruh perkejaan rumah, menyapu, dan masak?"
"Y-ya." Gisha mengangguk gagu. Dia pemilik rumah ini, tapi dia juga yang bingung.
"Ini benar-benar buruk! Sudah ku duga, William itu benar-benar suami yang buruk! Terimakasih tuhan, telah menyadarkan ku untuk tidak menikah dengannya!"
"Ah, kami lagi cari asisten rumah tangga kok Kak."
"Benarkah? mau aku rekomendasikan? Aku tau beberapa asisten rumah tangga yang bisa diandalkan. Aku bisa mengirim beberapa orang dari Mansion milikku. Mereka bisa tinggal di rumah ini bersama mu untuk membantu mu." Tiba-tiba Kitty tersenyum, anehnya Gisha merasa ada yang tidak beres, firasatnya buruk. Sudah cukup lama tinggal bersama William, Gisha tau bahwa ini perasaan tidak enak.
"Tidak perlu, kami sudah dapatkan satu Assisten Kak."
"Satu saja gak cukup Gisha, kau harus punya banyak. Biar para pelayan ku tinggal disini dan membantu mu, mereka sangat profesional dan pengalaman."
Gisha diam sebentar. 'Kenapa maksa banget sih?'
__ADS_1