Married With Mr Mafia

Married With Mr Mafia
Surat


__ADS_3

Kitty tidak ada di rumah ini, dia dan Hatson pergi keluar entah kemana, Gisha tidak tau, tapi dia bersyukur akan hal itu, dirinya jadi bisa lebih tenang dan santai sekarang.


Dia bisa menjadi lebih rileks, menghabiskan waktu minum teh di balkon kamar jauh lebih baik, pemandangan sore yang begitu indah dan memanjakan mata.


William juga tidak ada, dia bilang sedang pergi bekerja. Kakek juga tidak ada, tidak heran sih, orang seperti beliau memang selalu sibuk.


Sudah dua hari Gisha tinggal di rumah ini, tidak ada yang spesial, semuanya menyesakkan, Kitty selalu berisik datang padanya dengan menjelek-jelekkan William di hadapan dirinya.


Tak lupa, Misha juga datang dan ikut menghasut Gisha untuk membenci William. Sampai saat ini Kitty dan Misha juga tidak tau bahwa Gisha sedang hamil, sejauh ini Gisha menyembunyikannya dengan sempurna, tapi sampai kapan?


Gisha juga tidak tau, di tidak ingin memikirkan soal itu, itu hanya akan membuatnya sakit kepala saja.


Kalau sedang duduk sendirian di sore hari sendiri begini, Gisha jadi merindukan markas. Biasanya kalau dia sendiri, selalu ada orang lain yang menemaninya, entah itu Aila, Adamson, atau bahkan Fredrin.


Tapi sekarang tidak ada. Mungkin karena Will tau, Gisha tidak akan bisa menembus pagar rumah ini sendirian, rasanya agak mustahil bagi Gisha bisa keluar dari rumah ini.

__ADS_1


"Sayang, ngapain? Kok sendiri? Aila mana?"


Gisha menoleh ke belakang saat dia mendengar suara yang hangat dan familiar menyapa dirinya, mungkin bagi orang lain suara William bagaikan suara malaikat maut, tapi tidak untuk Gisha, suara William terdengar sangat hangat dan tulus, benar-benar menenangkan, perut Gisha yang sakit mendadak menjadi lebih baik setelah mendengar suara William.


Tampaknya anak di dalam kandungan itu saja sudah tau siapa ayah yang sangat mencintainya bahkan sebelum kelahirannya, anak itu sudah dihujani oleh cinta William, bahkan saat Will sendiri belum melihat wajah dan rupa sang anak.


"Ada apa? Apa ada sesuatu yang mendesak? Bukannya kau bilang akan kerja ya? Terus kenapa disini?" Gisha sih cukupenyukai keberadaan William disini, dengan begitu dia tidak terlalu kesepian lagi.


Dulu dia sangat suka ditinggal William karena rasanya sangat bebas, tapi akhir-akhir ini rasanya ada sisi hari Gisha yang kosong saat William pergi meninggalkannya.


"Sungguh? Ini dari adik ku?" Gisha tersenyum puas. Dia dengan cepat mengambil surat itu dari tangan William.


Dia sangat senang.


Gembira.

__ADS_1


Dan begitu antusias, di tidak sabar membaca rangkaian kata yang adiknya tuliskan untuk dirinya, karna memang Gisha sangat merindukan sang adik.


Tidak peduli lagi soal ibu, Gisha hanya peduli soal adiknya sebagai keluarga satu darahnya.


"Bagaimana bisa kau mendapatkan ini?"


"Tentu saja bisa, apapun untuk bisa melihat senyuman ceria di wajah istri tercinta ku."


*Cup


Will mengecup pipi Gisha lembut, dia bisa berlaku apa saja asal Gisha bahagia. Will sadar kalau akhir-akhir ini Gisha terlihat agak tertekan, namun dengan memberikan surat dari sang adik tersayang, mungkin mood dan suasana hati Gisha bisa membaik dan cepat pulih.


Tapi sepertinya tidak.


Wajah Gisha membeku, dia terdiam, wajah penuh senyuman itu hilang sempurna setelah dia melihat dan membaca isi surat yang ada di tangannya.

__ADS_1


Surat yang dia yakini bahwa itu benar-benar ditulis oleh sang adik.


__ADS_2