
Sulit membenci, begitu juga sulit untuk pergi bagi Gisha. Selain hari dimana Will memberinya pisau, tidak ada hal kasar lagi yang William lakukan pada perempuan itu.
Gisha bahkan sadar selama ini William selalu menyentuhnya dengan penuh cinta dan kasih sayang, melindunginya walaupun lebih sering mengurungnya.
Tidak mudah untuk pergi, apalagi sudah ada janin di dalam dirinya. Hasil dari cinta yang dia terima dari William selama ini. Walau agak berat rasanya untuk bertahan di tempat yang aneh ini.
"Kadang aku pengen pergi, kadang pengen terus menetap. Will, dia sulit banget buat ditebak, apa maunya, gimana orangnya, kerjaannya." Gisha menghela napas panjang.
Perempuan manis itu duduk di balkon, pemandangan matahari yang terbenam begitu indah memanjakan mata. Warna jingga yang singkat, perlahan terganti menjadi gelapnya langit malam.
"Aku cuma mau kamu terus disamping ku apapun yang terjadi, tetap menjadi istri ku sampai aku mati, bersama ku mengurus anak-anak kita sampai mereka dewasa."
Will tiba-tiba datang dari belakang tanpa Gisha sadari. Langkah kakinya benar-benar tidak terdeteksi. Gisha bahkan sampai merinding heran, keberadaan Will seperti keberadaan yang tak terasa.
"Will?!"
__ADS_1
"Ya?" William menyelimuti Gisha dengan kain yang sudah sengaja dia bawa dari kamar. Dia tau ini akan dingin, dan dia sudah mempersiapkan kain ini khusus untuk sang istri yang sedang mengandung.
"Kenapa istri ku ini suka sekali sendirian?"
"Karna aku gak berdua." Gisha menjawabnya dengan ketus.
"Ada apa lagi? Apa yang membuat mu marah lagi? Kita udah di puncak sekarang, mau apa?" Will mengingat lagi, apakah ada detail yang salah, yang membuat Gisha marah.
Gisha terdiam seketika, dia juga bingung, kalau di dekat William akhir-akhir ini dia memang selalu ingin marah terus. Entah apapun sebabnya, Gisha mau mencari masalah dan terus marah.
"Gak mau, masih mau disini." Gisha masih bersikukuh atas kehendaknya sendiri.
"Ppfffttt." William mencoba menahan tawanya saat menatap sang istri. Tawa kali ini benar-benar tulus dari hati William, benar-benar khusus dia tunjukkan untuk sang istri.
Gisha mengernyitkan dahinya, antara kesal dan heran yang manapun itu, sekarang benar-benar terasa lebih menyebalkan.
__ADS_1
'Tapi dia ganteng banget sih.' pujian itu akan Gisha kubur dalam-dalam dihatinya, William tidak boleh sampai tau.
"Apa sih tiba-tiba ketawa gak jelas gitu. Aneh banget. Masuk sana." Kekesalan ibu hamil itu semakin menjadi-jadi saat tawa suaminya tak mau berhenti.
"Bukan tiba-tiba, cuma lucu melihat wajah mu. Padahal saat malam pertama, atau saat kita baru-baru menikah, kau selalu takut padaku, sangking takutnya kau selalu menuruti perkataan ku. Jangankan memarahi ku, membantah perintah ku juga kau tidak berani. Istri ku benar-benar mengalami kemajuan yang pesat ya."
William menarik Gisha lebih erat ke pelukannya, menatap dua bola mata yang indah bagaikan candu. Mengecup bibir mungil sang istri dengan penuh kelembutan dan kasih sayang, tidak akan dia lepaskan semudah itu.
Semerbak angin malam yang menyapa mereka tak lantas membuat Will melepaskan pelukannya, dia masih ingin lebih, lagi dan lagi.
Gisha tidak kuasa untuk menolaknya, dirinya terlalu sering menerima hujanan cinta dari Will, hingga dia terbiasa dengan tubuh orang itu.
'Itu bener, kayaknya sejak aku hamil, aku jadi sering ngelawan kata-katanya Will deh.'
Gisha mulai sadar, dia jadi lebih berani, dan dia juga menyadari satu hal lain.
__ADS_1
'Will gak semenyeramkan itu, mungkin?'