
...***...
Gisha memandangi perutnya yang belum membesar, menenangkan diri dengan berendam di air hangat. Dia terdiam, terus merenung. Sulit dipercaya Fredrin yang seperti itu malah berlutut padanya, untuk meminta mempertahankan anak ini?
"Padahal aku gak pernah niat buat gugurin anak ini. Will, walau dia kadang mengerikan, dia gak pernah kasar sih? Apalagi semenjak aku hamil, dia bahkan terus lengket."
Gisha menghela napasnya, bermain dengan kelopak bunga yang memenuhi baknya. Dia sengaja meminta Aila meletakkan banyak kelopak mawar merah, soalnya Gisha banyak pikiran, dia ingin lebih tenang dengan berendam di air mawar.
"Jangan pikirkan apapun, nanti anak kita bisa pusing di dalam sana."
Tiba-tiba ada sebuah tangan yang merayap di leher Gisha, tangan yang hangat, dan suara yang Gisha kenal. Suaranya William.
"Sudah berapa lama kau mandi? Jangan lama-lama sayang, nanti kau bisa sakit. Bagaimana suhu airnya?" Bisik William dengan penuh cinta, satu tangan lainnya memeriksa suhu air di dalam bak.
"Baguslah, ini hangat. Ternyata asisten mu berguna juga." William memeluk erat Gisha dari belakang, dia menghirup wangi tubuh sang istri, wangi manis yang menjadi candu setiap hari untuk Will.
"Ada apa? Kenapa diam saja? Apa Fredrin mengatakan sesuatu hal yang membuatmu sakit hati? Katakan saja." Will menyadari bahwa istrinya sangat aneh semenjak berbicara dengan Fredrin siang tadi. Gisha jadi lebih banyak diam sekarang.
"Dia bilang bahwa aku dan anak ini sangat berharga bagi mu, tapi aku gak merasa begitu tuh." Gisha menjawabnya tanpa melihat ke arah William sedikit pun. Sedangkan tangan Will, masih setia menetap, membasuh leher dan punggung polos sang istri.
"Kalian adalah dunia ku. Jadi, apa alasannya kenapa istri ku tidak merasa begitu?"
"Kau bilang kami sangat berharga, aku adalah dunia mu, segalanya untuk mu, tapi untuk membiarkan ku ke luar negri aja kamu gak bisa. Terus kau bilang akan bawa aku ke tempat adik ku, mana? Tidak ada tuh, semuanya cuma janji, dan soal kau menyayangiku juga cuma bulan semata." Gisha melipat tangannya, dia kesal, sedikit marah. Semua yang Will berikan hanya janji manis.
"Pfftt, apa ini yang namanya ngambek? Lucu juga, imut sekali." Will mengusap lembut rambut Gisha, tidak melepaskan tangan satunya dari posisinya.
"Ini gak ngambek! Ini marah namanya tau!" Gisha menoleh ke arah William, dengan wajah yang kesal dan mulut yang tertutup rapat akurat.
"Kalau begitu maafkan aku, tapi kau tau kesehatan mu belum meyakinkan untuk menjalani perjalanan jauh kan? Bagaimana kalau besok kita jalan-jalan? Mau kemana? Jangan jauh-jauh, dekat sini saja."
"Puncak boleh?"
"Boleh, aku punya sebuah vila di puncak, kita akan kesana besok pagi. Jadi jangan marah lagi ya." Will mengusap lembut pipi Gisha, mana mungkin akan Will lepaskan semudah itu.
"Janji?"
__ADS_1
"Ya, janji." Dia mengusap bibir merah muda yang sudah dia kuasai tadi.
...***...
"Aku tau Will itu suka berbohong. Jangan percaya kalau dia bilang hanya sekali saja, ini terakhir, atau semacamnya, ujung-ujungnya selalu sampai pagi!"
Gisha mengeluh, selain pinggangnya yang sakit, punggung dan bahunya terasa ingin patah. William itu gila, Gisha tau sekarang dengan pasti.
"Padahal dia sendiri yang bilang harus jaga diri dengan baik karna aku hamil, tapi ...! Orang itu bener-bener deh! Bangkit aja aku su--" Gisha langsung menghentikan ucapannya, sangat tidak sopan sekali mulutnya, mana dia tau kalau saat ini sudah ada Aila di dekat pintu.
"Ka-kau? Kenapa kau masuk tanpa mengetuk pintu?!"
'Mati aku, apa dia denger ya aku jelek-jelekin bos nya, habislah aku!' suara hati Gisha menjerit.
"Sa-saya, saya tadi sudah mengetuk, karna tidak ada jawaban jadi saya masuk karna pintunya tidak dikunci, Tuan William juga bilang saya harus ada di sisi anda ketika anda bangun. Saya diperintahkan untuk memijat dan memastikan Anda sarapan dengan baik." Aila sedikit kikuk, dia juga bingung memangnya harus bagaimana dia beraksi terhadap istri bosnya yang mengoceh soal keburukan bosnya sendiri.
"Wah, aku cuma nanya satu pertanyaan dan kau jawab panjang lebar, sangat pengertian."
"Ma-maafkan saya Nyonya, lain kali saya akan menjawab apa yang ditanyakan saja."
"Oh astaga! Saya lupa! Saya akan pijat anda sekarang, anda ingin sarapan apa?" Aila segera duduk di sebelah Gisha, perlahan memijat seluruh tubuh bosnya.
"Apa aja yang baik buat kesehatan ku dan anak ku." Gisha berbaring, membiarkan seluruh tubuhnya rileks akan pijatan, yang mungkin seorang ahli?
Aila sedikit terkejut, sepersekian detik kemudian dia tersenyum manis. 'Syukurlah, Nyonya juga sepertinya menyayangi anaknya. Kekhawatiran ku sedikit berkurang."
"Baiklah, saya akan menghubungi koki di dapur."
Gisha menikmati seluruh pijatan Aila, soalnya Aila memang cukup berbakat sepertinya dalam hal ini.
"Dimana William?" Tidak salahkan seorang istri bertanya kemana suaminya saat dia baru bangun?
"Katanya anda bosan dan ingin ke puncak, jadi Tuan William sudah mempersiapkan segalanya dari subuh, beliau benar-benar sangat mencintai anda."
Deg!
__ADS_1
Gisha tidak ingin berdebar, tapi hatinya tidak ingin bekerjasama dan terus saja berdetak begitu kencang, ada angin segar yang menyapa hatinya, perasaan aneh, tidak menyenangkan namun dia suka.
"Uhm ... Ya dia harus melakukan itu, ini kan tanggungjawab nya, siapa suruh mengurungku selama dua bulan disini."
"Itu karna beliau sangat senang. Sebelum menikah dengan anda, kami tidak pernah melihatnya tersenyum. Tapi sekarang, setelah dia memiliki anda, bahkan calon anaknya, saya bisa melihat beliau tersenyum setiap hari."
Sudah cukup! Gisha tidak ingin goyah, dia tidak mau menganggap William itu pria romantis, bisa-bisa nanti dia yang kena masalah.
"Hmm."
"Anda tau, dulu beliau sangat sering tidur dikantor, tapi setelah kalian tinggal disini, beliau selalu pulang tepat waktu. Anda dan anak anda benar-benar orang yang berharga untuk Tuan William."
...----------------...
"Nanti malam saya ga terima yang gituan lagi, pinggang saya beneran sakit. Kalau beneran cinta sama saya tolong ngerti." Gisha berbisik manja di telinga William. Perjalanan menuju puncak menjadi lebih menyenangkan, setidaknya untuk William.
"Bukannya tadi baru dipijit ya? Masih mau pijat lagi?" Will menarik pinggang Gisha, lebih dekat dengan dirinya.
"Bukannya kemarin malam udah gituan ya? Kenapa mau gituan lagi?"
"Pfftt ... Istri ku ini benar-benar deh." Will menempelkan keningnya di kening Gisha juga.
"Jangan ketawa! Saya beneran sakit! Katanya sayang istri!" Gisha menatap William serius, dengan ekspresi marah tentunya.
"Imutnya ...." William juga jujur loh, tampilan Gisha saat ini benar-benar imut dimata Will.
"Tau ah!"
Will mengecup leher Gisha secara perlahan. "Baiklah, nanti malam kau akan bebas."
"Sungguh?!"
"Tergantung suasana hati ku." Will tersenyum manis, lebih manis dari buah manapun. Wajahnya yang tampan itu benar-benar deh, sangat menggugah iman.
"Saya benci anda! Anda jahat!"
__ADS_1
"Memang benar, aku jahat kok."