Married With Mr Mafia

Married With Mr Mafia
Peluk aku, 3 Detik saja


__ADS_3

"Maafkan aku ayah, aku terlalu lelah, jadi aku pulang lebih dulu. Ayah tau kan, kalau tubuh ku ini sudah lemah." William menjawabnya dengan tenang, suara yang agak pelan seperti orang yang menyesal, mungkin dia sedang berakting sakit?


Tapi, saat ini tangan William malah fokus menurunkan resleting istrinya yang ada di punggungnya. Seolah tidak peduli apa yang sang ayah katakan.


"Dasar anak penyakitan! Entah bagaimana kau bisa lahir dari benih ku! Mungkin saja ibumu berbohong! Dan kau bukan anakku! Kau anaknya dari pria lain! Ya, ibu mu kan seorang pel*curr!" Semakin lama suara pria disebrang telepon sana semakin kuat, kata-kata kasar menyakitkannya semakin bervariasi.


William menghentikan gerakkan tangannya, untuk sepersekian detik dia diam setelah mendengar itu.


"Ya, ayah benar, wanita itu memang seorang pel*curr. Tapi aku ini tetap putra ayah, ayah dan kakek sendiri kan yang sudah melakukan tes DNA padaku."


"Cuih! Dasar anak tidak tau diri! Kakek meminta mu menemuinya lusa! Aku harap dia akan murka dan mengeluarkan mu dari keluarga Moran!"


Setelah mengeluarkan umpatan dan makian itu, pria yang disebut ayah oleh William menutup ponselnya. Dia adalah Tuan Moran, ayah kandung William. Tapi dia tidak pernah mengakui keberadaan William, baginya William hanya parasit pengganggu yang harus segera dienyahkan.


"Bukannya tadi katanya makan malamnya sudah dibatalkan?" Gisha bertanya dengan serius, dia sendiri yang mendengar itu makan malam itu sudah dibatalkan.


William hanya mengeluarkan senyuman manis. "Ganti baju, dan kita akan makan malam, hanya berdua, aku dan istriku yang manis ini."


"Tapi, tadi Hatson dan Kitty juga mendengarnya, mereka bilang mereka akan pulang juga." Gisha kali ini tidak mau mengalah, entah kenapa dia penasaran sekali dan ingin William menjawabnya sendiri.


"Setelah ganti baju, mandi dulu oke?"


"Kenapa malah hanya kita berdua yang tidak hadir? Harusnya mereka juga kan. Kalau mereka diberitahu makan malam itu tetap berlangsung, kenapa kita tidak? Kenapa mereka tidak menghubungi kita?"


"Karna aku anak haram yang menjijikan, sayang." William tersenyum ramah. Kalimat itu sukses membuat Gisha terdiam seketika. Dia langsung tidak mengatakan apa-apa lagi. Badannya beku seperti batu.


"Maaf ...." Gisha menunduk merasa bersalah, kali ini tulus. Mungkin dia merasa sudah menyinggung William tanpa sengaja.


"Tidak apa-apa, sudah ku bilang kan, ini sudah biasa. Sekarang pergilah mandi, aku akan menghubungi Fredrin dulu, oke?" William menghujani pucuk kepala Gisha dengan banyak sekali kecupan, dia akhiri dengan kecupan terakhir di bibir mungil Gisha. Tatapan mata Will dalam untuk sang istri.


"Baik." Gisha berdiri, bangkit dari pangkuan suaminya. Turuti saja apapun kemauan Will sekarang, hari ini suasana hatinya pasti buruk, dan Gisha tidak ingin menjadi alasan kemarahannya lagi.


"Boleh aku minta satu hal?" Will menahan tangan istrinya pelan.

__ADS_1


"Ya, apa?"


"Peluk aku, tiga detik saja. Aku mohon ...."


Gisha tidak bisa melihat ekspresi Will, karna pria itu memintanya dengan wajah menunduk. Gisha tidak tau ekspresi apa yang suaminya buat. Tapi sungguh, hatinya bergetar, untuk kali ini, dia tidak ingin menolak permintaan William. Entah atas dasar rasa simpati atau apapun itu, Gisha ingin menghibur orang yang malang ini.


"Sepertinya sepuluh detik lebih bagus." Gisha memeluk Will, dengan hangat dan penuh ketulusan. Dia memeluknya bukan karna terpaksa, tapi yang ini memang keinginan Gisha. Entah apapun yang Will rasakan saat ini, itu pasti perasaan yang buruk. Walau hanya sedikit saja,  Gisha ingin mengangkat beban berat yang dia tanggung.


"Terimakasih." William memeluk Gisha sangat erat, hingga sulit bagi sang istri bergerak.


...***...


Gisha menutup matanya sebentar, sembari terus berendam di dalam bath up yang sudah di tutupi dengan banyak busa.


Entah mengapa, Gisha malah terus mengingat wajah William dan perkataan ayahnya.


"Ternyata beban orang itu jauh lebih besar daripada aku, sepertinya hubungannya dengan ibunya buruk, apalagi dengan keluarga ayahnya. Mereka bahkan berani menipu Will. Ha, orang normal juga akan gila jika ada di posisinya."


Gisha langsung membuka matanya lagi saat mendengar ada suara yang tidak asing disekitarnya.


Tepat di atas wajah Gisha, sudah ada William yang menatapnya.


*Cup


Belum sempat Gisha mengatakan apa-apa, bibirnya sudah diserang begitu saja. Dia bahkan belum bisa mengatur napasnya dengan baik.


"Kenapa anda disini?" Tanya Gisha dengan napasnya yang masih terengah-engah, William bahkan tidak memberinya jeda untuk bernafas tadi.


"Karna ingin mandi bersama, dan yang ini tidak boleh ditolak."


William dengan segala kuasanya atas Gisha, masuk kedalam bath up yang sama. Menghabiskan waktu mandi bersama, berdua, tanpa gangguan siapapun. Melakukan hubungan yang biasa dilakukan suami istri, memadu kasih di dinginnya air malam.


......................

__ADS_1


Kali ini keduanya duduk di meja makan setelah mandi bersama yang menyenangkan untuk William dan berat untuk Gisha. Soalnya itu dilakukan tanpa keinginan dirinya, dia hanya terpaksa dan memaksakan dirinya saja.


"Kau sakit? Atau makanannya tidak enak?" Tanya William melihat istrinya yang sedari tadi diam, makan pun rasanya tidak nafsu. Padahal berbagai makanan enak sudah tersaji di hadapannya.


'Ini semua kan karna kau! Gara-gara siapa aku jadi kedinginan seperti ini!' protes itu biar Gisha simpan sendiri saja dalam hati, soalnya bisa bahaya kalau Will mendengarnya.


"Enak kok, ini kan lagi makan. Aku makan memang lama. Kalau kamu sibuk, silahkan saja makan duluan."


"Tidak juga, oh ya istriku, besok aku ada urusan penting. Kau tetap di rumah dan jangan kemana-mana. Aku sudah perintahkan Adamson untuk menjagamu. Jangan lari lagi, kalau kaki mu tidak mau aku patahkan." Will tersenyum, lagi-lagi dengan senyuman aneh yang mengintimidasi apalagi kalimat terakhirnya sukses membuat lidah Gisha tercekat sempurna.


'Rugi aku simpati padanya tadi. Dia ini orang menyebalkan dan mengerikan! Amat sangat mengerikan!' Ketus Gisha dalam hati.


"Aku gak akan pergi. Tapi, siapa Adamson?" Itu pertama kalinya Gisha mendengar nama itu.


"Oh, dia supir kita yang tadi, yang sedikit tidak sopan padamu." Will menunjuk seseorang yang rapi mengenakan kemeja putih, berdiri dibelakangnya, tepat di sebelah Fredrin.


Gisha mengangguk mengerti, setidaknya dia sudah dua kali bertemu dengan pria itu walau pertemuan pertamanya menyebalkan.


"Saya akan menjaga anda, menjamin keselamatan anda." Adamson menunduk hormat di hadapan Gisha.


"Termasuk menjamin keselamatan kaki ku dari amukan seseorang?"


"UHUK!" Pria itu langsung terbatuk seketika. Dia sendiri bingung harus menjawab apa. Mana mungkin dia bisa menyelamatkan Gisha dari Will apapun yang terjadi.


"Ppffftttt." William mencoba menahan tawanya, sepertinya kali ini dia tertawa dengan tulus, tidak ada aura menyeramkan yang biasa Gisha rasakan dari Will.


"Kaki mu akan aman kalau kau tetap di sini, jadi jangan khawatir." William mengusap kepala Gisha perlahan, dengan penuh perhatian dan kelembutan.


"Kamu jamin?" Gisha melirik Will dengan pasti, kadang Will ini baik, kadang lebih menyeramkan dari yang terlihat.


"Aku jamin." Will mengeluarkan senyuman manisnya yang penuh misteri, hanya dengan senyuman itu sanggup mengintimasi Gisha.


"Kaki aku sangat berharga, tolong jangan sampai terluka." Gisha menatap kakinya dengan serius. Disisi lain, Will hanya mencoba menahan tawanya saja, melihat tingkah laku istrinya yang mungil ini.

__ADS_1


__ADS_2