
...***...
"Sayang, yakin tidak ingin ku gendong saja?" William mencoba meyakinkan istri disebelahnya.
"Enggak mau." Pikiran Gisha masih kacau. Dia tidak menyangka bahwa akhirnya akan begini.
Dua bulan dia sudah menikah dengan William, dan kini dia sudah hamil empat minggu. Gisha tidak percaya, padahal dia tidak ingin memiliki anak dengan William. Kondisi psikisnya saja sudah memburuk sejak bertemu dengan William, entah bagaimana selanjutnya.
Bukan Gisha membenci anugrah tuhan ini, bukan Gisha tidak menyukai anaknya, hanya saja, dia takut anaknya akan membenci dunia ini ketika dia lahir, hidup di dunia ini tidak mudah, apalagi itu harus terlahir menjadi anaknya dan William.
"Will, kayaknya kita harus masuk rumah sakit lagi deh, dokternya pasti salah periksa. Mumpung belum jauh." Gisha menahan lengan suaminya, mereka memang masih berada di halaman rumah sakit menuju parkiran.
"Kau sudah memeriksa itu empat kali Gisha, dan untuk keempat kalinya dokter bilang kau hamil, mengerti?"
Gisha tidak percaya, dia benar-benar mengandung anak William? Sungguh dia hamil? Dia tidak ingin itu.
"Jangan memasang wajah seperti itu, seolah hal ini tidak mungkin terjadi. Tentu saja ini mungkin, mengingat kita rutin melakukannya setiap malam." William tersenyum, merangkul istrinya, melangkah perlahan secara hati-hati.
"Bukan, aku cuma kasihan pada calon anak ku, yang akan memiliki ayah seperti mu. Dia pasti akan di kurung."
"Omong kosong. Dia akan ku latih sebagai penerus yang terbaik."
"Tapi bisa saja dia anak perempuan."
"Kalau perempuan kenapa? Tidak bisa jadi penerus yang terbaik begitu?"
Gisha tersentak halus, dia lebih tidak percaya yang mengatakannya adalah William. Gisha pikir, Will itu orang yang berpikiran bahwa wanita mutlak lemah sepenuhnya, tidak boleh kemana-mana tanpa perlindungan, tidak bisa apa-apa sendiri, lemah dan selalu butuh bantuan.
"Aku perempuan juga, kenapa ak--"
"Beda. Aku tidak bilang istri ku ini lemah, aku yang lemah, karna aku takut sekali jika kau terluka makanya jangan pernah kemanapun sendirian." Will memotong ucapan Gisha, seolah tau apa yang ingin Gisha perdebatkan dengan dirinya.
Gisha diam, bukan karna dia kehabisan kata-kata, tapi karna dia tidak lagi ingin beradu debat dengan suaminya ini, Gisha sudah tertekan sekarang. Dia tidak ingin menambah tekanan yang lainnya.
__ADS_1
"Melamun soal nama anaknya nanti saja, sekarang ayo masuk dan istirahat." Will menggendong Gisha masuk ke dalam mobil, memangkunya dengan penuh kasih sayang.
"Lusa kita akan benar-benar pergi ke luar negri, jadi besok kita harus belanja banyak pakaian hangat, sekarang istirahatlah." William tersenyum hangat, jelas sekali bahwa dia ingin mengalihkan pembicaraannya.
"Aku selalu bingung tentang mu, apa yang kau pikirkan, dan bagaimana cara kamu memandang ku." Gisha turun dari pangkuan Will, dia duduk sendiri menatap jalanan melalui jendela.
William tidak menjawab apapun, disana juga dia diam saja, tanpa mengatakan apa-apa.
......................
William menggandeng lengan istrinya, berjalan perlahan memasuki rumahnya. Ah itu masih markas, sudah lebih dari sebulan juga Gisha tinggal disini, tapi dia jarang bertemu orang lain. Dia hanya sering bertemu dengan Adamson, ataupun Aila karna asistennya. Sisanya, Gisha bahkan tidak tau nama yang lainnya walau sudah selama itu tinggal disini.
"Bos! Bagaimana keadaan Nyonya?" Aila adalah gadis pertama yang datang dengan berani, bertanya keadaan Gisha.
Dari belakangnya berdiri sekitar tujuh orang termasuk Adamson yang sama khawatirnya dengan Aila, tapi hanya Aila yang berani bertanya.
"Mulai hari ini, perhatikan makanan Gisha dengan baik, jangan sampai dia lelah."
"Tidak, dia sedang mengandung pewaris ku, jadi harus ekstra hati-hati lagi."
"Sungguh? Nyonya selamat! Tuan selamat!"
William tersenyum dengan bangga. Semua orang disana terkejut, nyaris tidak mungkin William tersenyum seperti itu. Fredrin yang ada disana juga sama terkejutnya.
Jelas sekali, bagi mereka, itu adalah senyuman tulus yang pertama kalinya mereka lihat di wajah William. Walau Gisha sudah sering melihat senyuman tulus itu, dan senyuman aneh yang mengintimidasinya.
Semua orang tertawa bahagia, mereka merayakannya bersama William. Tidak ada kesedihan di wajah mereka, tidak sedikitpun. Yang ada hanya senyuman tulus dan murni, rasa bahagia seolah orang yang selama ini ditunggu hadir.
Tapi itu bagi mereka semua, tapi tidak untuk Gisha, yang ada dipikirannya hanya anaknya akan lebih menderita dari dirinya. Dibanding bahagia, Gisha merasa kasihan dengan janin di dalam dirinya.
...----------------...
Masih pagi, matahari masih bersinar cerah, tapi tidak terik. Sinar matahari yang bagus, dan sesuai permintaan Will, Gisha duduk di gazebo taman belakang rumahnya.
__ADS_1
William masih ada di dalam rumah, dia memiliki sedikit pekerjaan, mungkin rapat penting. Tapi, tidak apa, William bisa lebih tenang, karna dia meninggalkan Fredrin di sisi Gisha saat ini. Selain tidak khawatir Gisha terluka, Will juga yakin Fredrin bisa menjaga Gisha agar tidak kabur.
Hah~
Gisha menghela napasnya panjang, sesuai dugaan, dia semakin di kekang. Dia yang biasa saja sudah terkurung seerat itu, apalagi saat ini dia sedang hamil.
'Will bahkan selalu nempel di sebelah aku, gak peduli apapun yang terjadi. Ke luar negri juga di batalin karna kehamilan aku agak lemah, dan ini pertama kalinya William gak ada di sisiku, tiga hari terakhir dia terus nempel.' keluhnya dalam hati. Tetap mengumpat di hati saja, jika dikeluarkan dalam bentuk lisan, bahaya, Fredrin bisa mendengarnya.
Mana mungkin Fredrin lebih menuruti Gisha daripada William.
"Anda kesal karna anda hamil nyonya?"
Tiba-tiba Fredrin berbicara, Gisha sedikit terkejut, dia menatap ke arah Fredrin, tapi yang ditatap malah terus memandang lurus kedepan.
"Gak sopan, ngomong sama aku tapi gak liat aku. Gimana sih!"
"Karna saya sopan, saya tidak bisa melihat Istri bos saya tanpa izin beliau."
"Terserah." Gisha memutar bola matanya jengah, entah Fredrin atau William, dua-duanya sama saja, sama-sama menyebalkan dan membuat lelah.
"Pertanyaan saya tadi, tolong dijawab. Anda kesal karna anda hamil nyonya?"
Gisha melirik Fredrin sebentar, menghela napasnya. Gigih sekali asisten suaminya ini. "Aku gak benci atau kesal karna aku hamil anaknya William, tapi aku kesal karna kebebasan ku benar-benar sudah habis. Memangnya kapan aku punya waktu untuk sendiri?"
"Sembilan bulan sepuluh hari, saya sudah tau bahwa perempuan akan mengandung selama itu. Jadi, selama itu pula tolong bertahan dan lahirkan anak itu dengan selamat. 10 tahun saya sudah mengikuti Tuan William, hari itu untuk pertama kalinya saya melihat beliau tersenyum tulus dan seceria itu. Bahkan setelah itu, Tuan selalu tersenyum saat membahas anak. Jadi saya mohon Nyonya, tolong lahirkan anak itu dengan selamat. Saya mohon, sangat memohon. Tuan William sangat menginginkan kelahiran anaknya."
Brukh ...
"Saya sungguh memohon, tolong bertahan dan lahirkan anak itu untuk Tuan William."
Fredrin berlutut pasrah tepat di hadapan Gisha. Demi apapun, Gisha bersumpah, dia tidak pernah berpikir bahwa akan tiba hari dimana Fredrin akan berlutut padanya seperti ini.
"Apa yang kau katakan sih!"
__ADS_1