Married With Mr Mafia

Married With Mr Mafia
Demi keamanan kaki tetap di rumah


__ADS_3

***


Hah ....


Perempuan itu menghela napasnya kasar, Gisha merasa tertekan ada disini, dia merasa sesak, kemanapun dia pergi, pasti ada satu atau dua orang yang akan mengawasinya, ini benar-benar menyesakkan, dan sudah jelas ini perintah dari William.


Entah Gisha ke dapur, atau ke taman, selalu saja ada orang yang berpura-pura berada disana. Kesal sih, tapi mau bagaimana lagi.


Gisha tidak lagi punya pekerjaan di rumah ini, entah masak, atau apapun itu semuanya sudah dikerjakan oleh orang lain. Bahkan barang-barang dari rumah lamanya sudah tersusun rapi di lemari kamarnya disini.


"Selamat pagi Nyonya, jika anda bosan, ingin berbelanja?"


Gisha menoleh, melihat gadis yang baru saja berbicara dengannya. Astaga! Gisha agak terkejut, dia adalah gadis rambut pendek yang sama yang menolongnya kemarin malam.


"Kamu? Apa baik-baik aja? Kamu terluka gak?" Wajar Gisha khawatir kan? Dia gadis yang menolongnya.


"Cuma tangan yang terkilir, sisanya baik-baik aja. Mulai sekarang, saya adalah asisten anda. Nama saya Aila, senang bertemu dengan anda." Aila menunduk hormat, dengan senyuman tipisnya.


"Ya, aku Gisha." Gisha tidak terlalu terkejut, toh dari minggu lalu, Aila adalah orang yang Gisha pilih untuk menjadi asisten rumah tangganya kan.


"Anda terlihat bosan, ingin berbelanja?"


"Mungkin kamu gak tau, tapi aku dilarang keras keluar rumah ini. Perintah William." Tukas Gisha dengan kesal. Dia masih ingat betapa mengerikannya wajah William saat menurunkan perintah itu. Membuat Gisha benar-benar tidak berani membantahnya.


"Siapa yang meminta anda keluar rumah? Para penjual itu yang akan datang kesini. Kita punya desainer langganan, jika anda mau, saya bisa memanggilnya dan anda bebas memilih apapun, Tuan William yang akan menanggungnya."


Gisha mengernyit heran, setahunya William tidak sekaya itu sampai memiliki desainer pribadi. Tapi, Gisha juga tau bahwa dia tidak tau apapun soal William, pekerjaan dan kekayaannya?


"Belanja itu sama dengan jalan-jalan, kalau belanja tetep di rumah, mending gak usah." Gisha menolak mentah-mentah, dia hanya ingin keluar, menjauh dari banyak mata yang mengawasinya.


"Hmm? Jadi anda ingin jalan-jalan, tapi dilarang Tuan William? Ah bagaimana kalau jalan-jalan ke kantornya! Anda pasti diizinkan, beliau juga pasti sangat senang."


"Males." Singkat, padat, dan jelas. Entah apa yang Aila pikirkan, bisa-bisanya dia menyarankan Gisha untuk menemui orang itu, sementara Gisha berusaha untuk menjauh dari pria menyeramkan itu.


Pandangan Gisha terarah pada supir William yang mendekat ke arahnya.


"Halo Nyonya, saya Adamson, anda masih ingat saya kan?"

__ADS_1


Gisha mengangguk tanpa menjawab apapun. Ingatannya masih kuat untuk sekedar mengingat nama supir suaminya.


"Kalau ingin ke suatu tempat, anda bisa mengatakannya pada saya. Saya pasti akan mengantarkan anda." Dia tersenyum ramah, senyuman persahabatan yang lumayan nyaman.


"Apa itu atas izin Will?" Gisha sedikit tertarik, mungkin ini saatnya dia keluar sebentar. Barangkali William mengerti dan mengizinkan Gisha pergi.


"Heee, Tuan William melarang anda untuk keluar?" Adamson bahkan lebih terkejut dari dugaan Gisha.


"Kau mengatakan akan mengantarku tanpa tau perintah Will?" Gisha memicing kesal, dia kecewa, padahal tadi sudah ada sedikit harapan.


"Saya gak tau kalau ternyata anda dilarang keluar rumah? Kalau begitu anda tetap di rumah saja, demi keamanan kaki kita berdua." Adamson memegang kakinya dengan cengiran permohonan. Ya sih, Gisha percaya bahwa Will bisa melakukan hal nekat seperti menghilangkan kaki mereka.


"Jangan dengarkan dia Nyonya, dia memang gila." Tukas Aila dengan tegas.


Pupus sudah harapan Gisha. Entah sampai kapan dia harus terkurung di sangkar emas ini.


......................


"Sampai kapan anda akan mengurung saya? Gak ada niatan buat bebasin saya? Saya gak akan kabur, saya butuh hidup biasa kayak orang normal." Gisha menatap William serius. Mungkin Will akan mengabulkannya saat ini, soalnya William tampak sedang bermanja ria dengan sang istri.


William menatap Gisha dalam-dalam. "Kebebasan normal yang kamu maksud itu seperti apa, sayang?"


Agak aneh rasanya Will bertanya dan tidak langsung menolak, padahal biasanya dia sudah tersenyum mengerikan kalau Gisha bahas soal kebebasan.


"Boleh jalan-jalan, kesana kemari, tidak terkurung terus di rumah ini."


"Aku izinkan kok, tapi jalan-jalannya harus dengan ku, belanja juga bersama ku."


"Apa tidak boleh sendiri?"


William mengggeleng pelan.


"Kenapa?" Gisha bertanya lagi, dia tidak ingin menyerah, entah kenapa rasanya malam ini William melembut dan dia siap sedikit merayu mungkin?


"Bahaya. Sejujurnya pekerjaan ku sedikit membahayakan mu kalau keluar sendirian, harus ada aku." Will mendekatkan wajahnya, semakin dekat hingga hidung keduanya bersentuhan.


"Kalau sedikit berbahaya, bisa bawa Adamson atau Aila, atau Fredrin juga kan? Mereka kan berbakat, sedikit bahaya pasti mereka bisa menanganinya kan?"

__ADS_1


"Aku tidak percaya mereka bisa melindungi mu. Kau tau Gisha? Jika kau tiada, itu hanya satu nyawa tidak berarti untuk dunia ini. Tapi untukku, aku akan kehilangan dunia yang merupakan kebahagiaan ku. Kau mengerti? Kau, adalah segalanya untuk ku. Kau seberharga itu sampai aku tidak bisa melepas mu. Aku izinkan pergi keluar, tapi harus dengan ku."


William mengecup bibir sang istri, tidak ingin melepasnya begitu saja. Dibanding dengan cara mengancam, mungkin kali ini William ingin menggunakan tehnik merayu saja.


Gisha tidak bisa mengatakan apa-apa lagi, Dia juga tidak terlalu ingin memaksa. Gisha tau, jika Will bilang itu bahaya, maka itu memang berbahaya. Toh, ada kemajuan dari hasil rengekannya malam ini. Dia diizinkan keluar kan, yah walau hanya dengan Will. Tapi tidak apa-apa, untuk sekarang seperti ini saja juga boleh.


"Pinggang saya masih sakit." Keluhnya, saat William sudah semakin intens menguasai tubuhnya. Padahal mereka baru saja melakukannya, Gisha tidak akan sanggup jika melakukannya lagi.


"Begitu? Tidurlah." William berhenti, dia menarik Gisha lebih erat dalam pelukannya.


Gisha nyaris tidak percaya, William yang tadi penuh nafsu menguasai seluruh tubuhnya, mendadak berhenti mengurung semua nafsu dirinya karna Gisha mengatakan itu sakit?


"Kapan kau akan libur?" Sudah hampir dua bulan mereka menikah, dan Gisha kadang formal, kadang informal dengan suaminya sendiri. Intinya tergantung situasi.


"Istri ku ingin jalan-jalan? Besok. Besok aku akan libur, kita akan kemana?"


"Ke luar negri boleh? Mau main salju." Rengeknya manja, untuk usaha agar rengekan ini berhasil, Gisha menatap William binar, seperti mata kucing saat memohon. Sebenernya Gisha malas melakukan itu, tapi ini kan demi diizinkan.


"Boleh, kita akan pergi lusa kalau begitu. Ada hal yang ingin aku selesaikan."


Gisha mengangguk, tertunda satu hari juga tidak apa-apa, toh juga kalau berangkat besok, Gisha masih bingung, dia belum bersiap.


"Tapi sebelum itu, bukankah istri ku ini harus berterima kasih dulu?"


Ck!


Gisha berdecak kesal, sudah sering seperti ini. Dan Gisha tau bahasa terima kasih apa yang William sukai. Ini bukan yang pertama kalinya. Gisha sedikit mendongak, mengecup pipi sang suami.


"Aku tidak pernah bilang di pipi. Bibir ... Aku maunya disana." Akhirnya senyuman William yang biasanya kembali muncul malam ini. Gisha pikir dia tidak akan melihatnya, ternyata dikeluarkan juga.


Gisha kesal sih, dia sudah menduga hari William melunjak pasti akan datang, tapi tidak secepat ini harusnya.


"Aku bis---hukk!!"


Gisha tiba-tiba merasa mual, kepalanya pusing. Perempuan muda itu berlari segera ke kamar mandi, memuntahkan makanan yang tadi.


"GISHA!!" William segera bergegas, dia khawatir, sangat khawatir. Karna dia pernah mengalami ciri-ciri begitu saat kecil dulu, itu racun tingkat rendah.

__ADS_1


__ADS_2