Married With Mr Mafia

Married With Mr Mafia
Kamu hamil juga?


__ADS_3

......................


"Gisha, oh my God! Selamat ya! Kenapa kamu gak bilang kalau kamu juga hamil? Astaga! Senengnya! Nanti anak kita bisa jadi sepupu yang saling sokong, rekan seperjuangan, mereka bakal akrab banget pastinya kan!"


Kitty berteriak dengan gembira, dia sangat bahagia saat makan malam bersama ini.


"Selamat ya Will, kau sebentar lagi juga akan jadi seorang ayah sama seperti ku, sepertinya kita harus sering berdiskusi untuk menjadi ayah yang baik, tapi kenapa kalian sembunyikan? Padahal berita ini sangat membahagiakan loh." Tambah Hatson, senyuman manisnya tidak pudar, ekspresinya tak terbaca, entah di mengucapkan selamat secara tulus, atau hanya basa-basi saja di depan kakek yang saat ini juga ikut makan malam.


Dimeja makan, sudah ada kakek, Gisha, William, Hatson dan Kitty yang makan bersama malam ini.


Dan Kakek, baru saja membocorkan berita kehamilan Gisha, makanya Gisha dan William diminta tinggal di rumah ini.


Hatson dan Kitty tau barusan, itu semua karna kakek yang keceplosan. Ah, tapi apa sungguh keceplosan? Rasanya tidak mungkin kan? Soalnya kakek itu orang yang seperti apa? Rasanya agak mustahil orang seperti dirinya keceplosan tanpa sengaja?

__ADS_1


Jelas itu sangat disengaja, mustahil rasanya pria tua penuh kharisma yang setiap kata dan tindakannya selalu diperhitungkan dengan matang bisa keceplosan begitu saja.


"Tidak disembunyikan, kami hanya sedang memikirkan waktu yang tepat, kapan akan kami katakan." William menjawab, berusaha menghindari kecurigaan bahwa dirinya memang sengaja menyembunyikan berita itu.


Will melirik sang kakek sekilas, tampak lirikan kebencian yang begitu jelas, dan kakek sendiri juga bisa merasakannya. Entah apa yang pria tua ini rencanakan?


"Ya begitulah Kak, terima kasih." Gisha hanya bisa tersenyum manis, dia harus bingung jawab apa, dia harus hati-hati. Karna setiap orang di rumah ini mungkin adalah musuh, karna tidak ada yang menyukai William maupun Gisha.


......................


Akhirnya setelah beberapa hari berlalu, Aila datang juga. Aila sudah membereskan segala macam jenis tugas yang William berikan, hingga akhirnya Aila bisa menemani Fasya di rumah ini.


"Ah, Aila. Aku sudah makan tau, tenang saja, bagaimana keadaan mu dan orang-orang disana?"

__ADS_1


Gisha menjawab dengan cukup antusias, tampak Gisha jauh lebih bersemangat dari sebelumnya. Karena jelas Gisha senang akhirnya ada orang yang dia kenal dan cukup akrab dengan dirinya yang tinggal di rumah ini.


William dari pintu juga menarik senyuman tipis, sejauh ini semuanya baik-baik saja, kecuali soal kakek yang tanpa sengaja keceplosan, bagian itu harus dipertanyakan karena cukup mencurigakan.


Dulu William meletakkan Aila di sisi Gisha untuk mengawasi Gisha sang istri tercinta agar tidak kabur, tapi kali ini William meletakkan Aila di sisi Gisha untuk melindungi sang istri dari beberapa orang yang tampak mencurigakan, dan berpotensi membahayakan sang istri.


William tidak ingin ambil resiko sedikit saja jika itu soal Gisha dan anak mereka.


Semuanya lancar dan tenang. William suka, senyumannya semakin lebar saat semua alur berjalan sesuai keinginannya.


Ah, ada satu lagi yang aku lupa. Memusnahkan surat adik Gisha.


Ah, Will lupa untuk membakar hangus surat yang sudah dia sabotase itu. Isinya sangat menjengkelkan dan berpotensi merusak hubungan rumah tangga William dan Gisha, makanya Will membakarnya.

__ADS_1


Dan sekarang, sebelum memusnahkan surat itu, tampaknya William akan lebih dulu bertemu dengan pria tua itu, menagih jawaban apa yang akan dia beri ketika membahas soal keceplosan menyebalkan itu.


__ADS_2