
***
Tidak ada hal luar biasa yang terjadi hari ini, Gisha masih di rumahnya sedari tadi pagi, menghibur diri dengan membaca buku, nonton televisi, atau sekadar kesana kemari.
Tapi Gisha tidak marah, dia malah suka keadaan seperti ini. Sendirian di rumah tanpa siapapun, hanya dia sendiri dengan keheningan yang tercipta. Ah, damai sekali rasanya. Gisha jadi tau, tempat favoritnya adalah rumah yang sepi, yang nyaman untuknya tinggal sendiri.
"Dia benar-benar tidak kembali? Sampai kapan dia akan diluar? Ya, baguslah, aku bisa tidur lebih nyenyak."
Harusnya begitu, Gisha tidur dengan nyenyak biasanya dia kan terus diganggu William dulu, atau tidur dengan posisi menyebalkan penuh sesak di dalam pelukan orang itu.
"Ahhh!!!" Gisha berteriak saat dia merasakan ada seseorang yang ingin memukulnya. Refleks dia menghidupkan lampu yang ada di sebelahnya. Padahal baru beberapa jam sejak dia tidur tadi.
"Arghhh!!" Teriakannya semakin menjadi-jadi saat cahaya lampu menyebar, kamar menjadi lebih terang. Dan pengelihatan Gisha menjadi lebih jelas.
Bagaimana dia harus tenang? Saat seorang pria berdiri di depannya dengan pakaiannya yang berlumuran darah segar. Amis darah masih tercium jelas di hidung Gisha. Dalam hati dia sudah mengumpat dan percaya bahwa dia akan segera mati secara mengenaskan di tangan seorang pencuri.
'Padahal tadi aku merasa lebih tenang gak ada William! Ternyata datang orang yang lebih dari William.' batin Gisha menjerit-jerit.
"Will!! Pulanglah! Istri mu akan mati!!" Gisha berteriak sekeras-kerasnya, dia percaya bahwa itu adalah kata-kata terakhirnya. Karna dia akan mati dibunuh oleh orang yang penuh darah ini.
"Memangnya siapa yang berani menyentuh istri ku?"
Suara yang familiar, itu suara William. Gisha membuka matanya dengan jelas, menatap lebih fokus pria yang berdiri di depannya dengan pakaian berdarah. Saat Gisha fokus pada wajahnya, dia baru sadar ternyata itu William!
"Will? Kau?!" Sangking terkejutnya sepertinya Gisha lupa akan formalitas panggilan yang selama ini dia jaga.
"Ya? Maaf, pakaian ku buruk ya? Tadi aku memang ingin berniat mandi dulu sebelum tidur. Tapi saat melihat mu tidur nyenyak, aku tidak tahan untuk memeluk mu. Kau kaget ya?" Dia tersenyum manis, entah apa yang dia pikirkan dibalik senyuman menyebalkan itu bahkan dengan kondisi dirinya yang berlumuran darah.
"Kau terluka? Kecelakaan? Dimana? Ke rumah sakit ayo." Gisha langsung berdiri, memeriksa seluruh tubuh suaminya, melihat luka mana yang bisa dia tolong secepat mungkin. Walau Gisha takut pada Will, tapi itu bukanlah alasan untuk membiarkan Will terluka kan?
"Ini bukan darah ku, darah orang lain, jangan terlalu dipikirkan." Jawabnya dengan santai tanpa beban.
"Darah orang lain? Will? Apa yang kau lakukan?"
"Tadi saat perjalanan pulang, ada kecelakaan, aku membantunya, jadi darahnya yang menempel. Jangan khawatir, aku mandi dulu. Tidur saja lagi."
"Sungguh? Kau tidak melakukan hal yang aneh kan?"
"Enggak tuh, apa Gisha-ku mulai meragukan suaminya? Sayang, di dalam rumah tangga harus ada rasa saling percaya, mengerti?"
"Kau sudah makan?" Alihkan saja alur pembicaraannya, atau Gisha punya feeling dia yang akan lebih ketakutan nantinya.
"Sudah, sekarang tidur aja."
__ADS_1
"Baik." Gisha menurut, dia kembali berbaring di kasurnya dengan kepalanya yang masih terbayang banyak hal. Masih kacau balau tidak tertata. Jantungnya masih berdebar begitu kencang, masih takut pada seseorang yang berlumuran darah tadi. Entah bagaimana nasibnya kalau itu benar-benar seorang pencuri?
...***...
'Apanya yang tidur saja lagi? Semalaman bahkan aku gak dikasih kesempatan tidur.' gerutu Gisha dalam hati.
Matahari sudah naik tinggi, dan suaminya masih tidur dengan mendekapnya, dasar suami manja memang. Gisha benar-benar tidak mengerti apa yang sebenarnya William pikirkan.
"Berhenti mengomel di dalam hati, dan sekarang ayo tidur saja lagi." Entah William mantan cenayang atau apapun itu, kenapa ucapannya selalu menohok seolah tau isi hati Gisha.
"Tidak bisa, sudah pagi."
"Benarkah? Baguslah, sudah pagi dan kita tidur lagi."
"Kamu tau Rendi?"
William langsung membuka matanya saat mendengar nama seorang pria. "Oh, adik mu?"
Gisha mengangguk. "Boleh aku menemuinya? Aku merindukannya, terakhir kali kami berpisah dengan cara yang buruk, dia pasti kepikiran. Mungkin dia mengira aku hidup susah."
Gisha berusaha membujuk kan sekarang? Soalnya suara Gisha jauh lebih lembut saat ini, tidak masalah ini semua demi bertemu Rendi, satu-satunya keluarga yang Gisha punya.
"Boleh saja, tapi apa keuntungannya untuk ku?" Dan William, tentu tidak akan melakukannya begitu saja tanpa timbal balik kan?
"Tapi aku hanya menginginkan kakaknya." Jawab William santai dan tenang.
"Kalau tidak boleh! Aku akan kabur!"
William diam sebentar. "Padahal kau hanya perlu menciumku, maka aku pasti tidak akan bisa menolak keinginan mu."
Gisha mengernyitkan dahinya heran. Ini bahkan di luar pemikirannya. dia tidak tau semudah itu meminta pada William.
"Sungguh hanya itu?"
"Ya, kenapa tidak?"
Gisha agak ragu, meski begitu dia tetap maju dan menempelkan bibirnya, tepat di bibir suaminya. Gisha bahkan tidak berani menatap mata Will. Dia gugup, ini memang bukan yang pertama untuknya, tapi ini baru pertama kalinya Gisha mulai duluan.
William terlihat sangat menikmatinya, dia memeluk sang istri lebih erat lagi. Entah kenapa, William selalu merasa ingin berada di dekat istrinya.
"Aku akan mengantar mu." Will mengecup pelipis Gisha pelan dan lembut, dengan penuh perhatian dan cinta, mungkin?
"Eh bukannya anda diminta kesana ya? Ke rumah Kakek besar?" Gisha ingat perintah ayah mertuanya yang kejam, bahwa Will harus menemui kakeknya.
__ADS_1
"Setelah menemui adik mu, kita berdua akan kesana."
"Ingin berbagi duka dimarahi?"
Will tersentak halus, dia tersenyum sedikit setelahnya. "Ya, kita kan suami istri harus berbagi suka dan duka bersama." William mengusap wajahnya di leher sang istri yang hangat. Bermanja-manja di pagi hari adalah salah satu hobinya.
Pernikahan mereka mungkin atas dasar perjodohan, mungkin memang paksaan, tapi Gisha sendiri tidak mengerti, kenapa Will memperlakukan nya dengan romantis seperti ini? Diperlakukan semanis ini, Gisha tidak bisa hanya membalasnya dengan ekspresi dingin.
Terkadang Gisha juga heran, jelas-jelas ini pernikahan bisnis, tapi Will bertingkah seperti suami yang sangat mencintai istrinya, seolah-olah mereka menikah karna cinta yang murni. Terkadang, Gisha jadi takut sendiri.
...***...
Will dan Gisha keluar dari rumah mereka secara bersamaan, saling bergandeng tangan untuk kembali ke rumah orang tua Gisha. Tentu bukan untuk menemui ibu dan ayah tiri menyebalkan itu. Hanya ingin memastikan keadaan Rendi saja.
Gisha menghentikan langkahnya saat dia melihat beberapa orang berjas hitam berdiri di sebelah mobilnya. Ada Adamson-supir di antara mereka juga, ada dua orang wanita berwajah dingin juga disana.
"Ada apa?" Will mendadak berubah menjadi lebih dingin. Ini sepuluh kali lipat lebih mengerikan daripada Will yang biasanya. Tatapan William tajam memperhatikan satu persatu orang-orang berjas hitam itu.
"Apa saya harus masuk dulu?" Gisha bertanya, jaga-jaga kalau dia malah mengganggu disini.
"Kenapa? Tetap disini, kita kan akan segera pergi." Will menjawabnya dengan lembut dan senyuman manisnya. Suaranya begitu hangat.
Gisha mengangguk mengerti. Tapi Gisha tidak tau, kenapa orang-orang berjas itu malah terlihat bingung dan heran setelah mendengar Will berbicara dengan tatapan hangat dan suara yang lembut untuk Gisha.
"Sekarang aku tanya, kenapa kalian malah disini? Bukannya bekerja? Atau kalian tidak ingin bekerja lagi?" William semakin dingin, tatapannya seperti seorang pembunuh yang tidak akan pandang bulu. Atmosfer disekitar mendadak berat.
"Kata Adamson anda sudah menikah. Kami tidak percaya. Jadi kami datang kesini untuk membuktikannya, kami juga ingin melihat istri anda." Satu orang perempuan berambut pendek menjawabnya. Wajah mereka semua datar, benar-benar tanpa ekspresi, Gisha yang merasa normal sendiri jadi ngeri.
"Hasilnya?"
"Anda benar-benar sudah menikah, jadi beliau ini istri sah anda?" Timpal pria dengan rambut berwarna perak, dia cat sih pasti, tidak mungkin bawaan lahir, kira-kira begitulah yang ada di pikiran Gisha.
Gisha menggenggam erat lengan Will, dia sedikit gemetar, aura orang-orang yang di depannya memang berbeda sangat membuat takut, hanya dengan suaranya saja Gisha sudah gemetar.
"Kenapa?" Respon Will benar-benar sangat cepat, dia menggenggam jari jemari sang istri dengan lembut.
"Aku takut kalau kaki ku hilang. Entah kenapa perasaan ku bilang gitu." Gisha hanya berani menunduk saja.
"Ppfftt, itu hanya akan hilang jika kau mencoba lari dari ku. Jika kau tidak kabur, kaki mu tidak akan hilang sayang." Will tersenyum sebentar, sebelum dia meninggalkan kecupan singkat di kening istrinya. Ah, Will benar-benar tertagih untuk selalu meninggalkan jejaknya di bagian tubuh Gisha, kapanpun dan dimanapun itu.
"Tu-tuan!"
Jangan tanya, semua orang yang menyaksikan itu langsung merubah ekspresi mereka. Dari ekspresi dingin hingga datar, berubah total ke terkejut terheran-heran. Mereka ragu, apakah orang yang baru saja tertawa lembut itu benar-benar William atau bukan?
__ADS_1