
...***...
Hari ini bukanlah hari kedatangan ART yang Will janjikan, gadis berambut pendek itu tidak jadi datang hari ini. Gisha tau dari Adamson. Baguslah, hari ini dia sudah bertemu dengan Kitty, tidak akan sanggup jika ada masalah lain lagi.
"Gila, tiga jam bareng Kitty, beneran nguras tenaga banget. Cape, kepala ku langsung sakit semua. Mana dia gak pulang-pulang lagi sampe siang. Will bilang malam ini bakal pulang terlambat kan? Dia juga izinin aku tidur duluan. Oke, makasih."
Gisha langsung berbaring di kasurnya, malam ini akan menjadi malam tidur nyenyaknya, karna tidak ada gangguan dari sang suami.
Gisha menutup matanya dengan tenang, memang ya semakin kita lelah, semakin nikmat rasanya istirahat. Tidur malam ini akan menyenangkan.
Prang!!!!
Gisha baru memejamkan matanya beberapa menit yang lalu, tapi suara berisik itu langsung membangunkannya. Suara pecahan kaca yang kuat.
Gisha berdiri, melihat kaca jendelanya yang benar-benar sudah pecah, karna sebuah lemparan?
Gisha melihat ada benda bulat berwarna putih. Ia menatapnya dengan lebih jelas, mencoba menyentuhnya. Ternyata itu sebuah batu yang cukup besar, dilapisi oleh kain berwarna putih.
Perlahan dengan agak gemetar Gisha mengambil benda itu, benda yang sukses membuat kaca jendelanya berserakan sempurna.
Kakinya melangkah menuju benda itu, berhati-hati agar kaki mungilnya tidak terkena sedikitpun pecahan kaca dilantai.
"KEMBALIKAN CHIPNYA!!!"
Gisha membaca tulisan yang ada di kain itu, tulisan menyeramkan yang berwarna merah. Amis darah masih tercium, Gisha yakin benar bahwa itu bukan tinta biasa, melainkan darah. Entah darah manusia ataupun hewan, yang jelas itu darah.
"Ini mimpi kah?" Setengah sadar Gisha mencubit lengannya, masih terasa sakit, artinya ini bukan mimpi. Dia tadi kan baru pergi tidur, mungkin kejadian buruk ini hanya mimpi.
Pranggg!!!!!
"Aw!! Sakit!!" Gisha harus segera sadar bahwa ini bukan lagi sekadar mimpi. Ini adalah nyata. Dia bahkan sampai terkena serpihan kaca dari lemparan kedua. Lengan Gisha sudah berdarah, pecahan kaca tertancap di lengannya.
"Sakit banget! Sumpah!"
Gisha mundur dengan cepat, dia berlari keluar dari kamarnya. Tidak tau apa yang terjadi, yang jelas kabur saja, yang pasti nyawanya sedang dalam bahaya.
"Sebelah sini Nyonya!"
Tiba-tiba ada seseorang yang menarik tangan Gisha, menuntunnya ke ruangan gudang di rumah itu.
__ADS_1
"Kamu? Asisten rumah tangga?" Gisha mengenali perempuan yang menariknya. Dia adalah gadis berambut pendek yang sama yang menawarkan diri menjadi asisten rumah tangga. Yang harusnya hadir hari ini.
"Iya Nyonya, maafkan saya, kita tidak punya banyak waktu. Anda harus segera pergi dari sini." Gadis itu membuka sebuah pintu. Ah ternyata itu pintu keluar. Gisha tidak tau jalur apa yang dia lewati, dia hanya tau jalan itu gelap, dan tiba-tiba saja dia sudah sampai di luar. Dengan dituntun gadis berambut pendek itu.
"Memangnya apa yang terjadi? Dimana Will? Aku harus kasih tau Will."
"Maaf Nyonya, saya tidak bisa menjelaskannya sekarang. Tolong pergi dari sini dulu, selamatkan diri anda. Keselamatan dan nyawa anda adalah yang terpenting, itu adalah prioritas kami, ini perintah langsung Tuan William. Tenang saja, Tuan William baik-baik saja, dan anda juga akan baik-baik saja jika pergi dari sini."
Gadis berambut pendek itu membuka pintu mobil yang sudah sedari tadi terparkir di pintu keluar mereka. Gisha tidak bisa berkata-kata lagi saat dia hanya dipaksa masuk. Seolah mimpi Gisha benar-benar terjebak disini.
"Kalau berbahaya, kau juga ikut aku! Ayo masuk!"
"Maaf Nyonya, seperti kata Tuan William, anda baik sekali. Tapi tidak bisa, ini adalah tugas saya untuk melindungi anda."
Belum sempat Gisha mengerti atau bahkan mengucapakan hati-hati pada gadis penyelamat itu, mobil mereka sudah jalan lebih dulu.
"Tolong tenang Nyonya, semuanya akan baik-baik saja. Tuan William juga akan baik-baik saja, yang terpenting anda sudah aman sekarang." Ujar supir di depan sana.
Waktu seperti berlalu dengan cepat, Gisha belum bisa mengerti dan mencerna satu persatu kejadian ini. Dia hanya terus mengikuti ucapan orang lain hingga sampai disini.
Gisha fokus menatap supir itu, dia sedikit mengenali suaranya.
"Tenanglah Nyonya, semua baik-baik saja. Yang perlu anda lakukan hanya tenang. Semua akan membaik, dan anda akan menerima kabar baik kalau anda tetap tenang."
Mau tenang bagaimana? Gisha, wanita yang sudah hidup normal selama hidupnya, tiba-tiba saja baru mengalami kejadian yang mungkin akan merenggut nyawanya. Tidak pasti dan tidak jelas apa yang terjadi.
"Apa gadis rambut pendek itu juga akan baik-baik saja? Adamson juga?"
"Ya, mereka akan baik-baik saja. Jangan khawatir, mereka itu kuat, dan dapat dipercaya."
Meski yang mengatakan itu adalah Fredrin, Gisha tetap saja gelisah, kepanikan yang sudah membara di hatinya tidak bisa padam begitu saja.
"Untuk malam ini, kita akan istirahat disini dulu Nyonya. Mungkin anda belum pernah kesini, tapi ini juga rumah Tuan William. Nanti beliau akan kembali kesini, ini adalah tempat yang paling aman untuk anda. Walau mungkin anda merasa tidak nyaman, tolong tahan." Fredrin menghentikan mobilnya, ia membuka pintu dengan penuh hormat untuk Gisha.
Gisha yang sedari tadi panik, jadi tidak fokus kalau dia berhenti di rumah ini.
"Rumah ini?" Gisha berjalan perlahan.
Fredrin sedikit terkejut. "Anda tau tempat ini?"
__ADS_1
Gisha mengangguk. "Ya, Will pernah mengajakku kesini untuk memilih asisten rumah tangga."
"Jadi begitu." Fredrin mengangguk mengerti, dia sudah paham beberapa hal sekarang.
"Kenapa memangnya?" Gisha mengernyit heran, ada banyak hal yang mencurigakan, baik dari William atau bahkan Fredrin, kedua bos dan asisten ini sama-sama misterius. Banyak sekali yang terjadi saat ini.
"Tidak ada, lebih baik sekarang anda istirahat dulu, silahkan masuk Nyonya."
Gisha ingin bertanya lagi, tapi wajah datar Fredrin membuatnya mengurungkan niat itu lagi. Lebih baik Gisha diam, setidaknya agar dia tidak dibenci oleh Fredrin.
"Anda datang Nyonya? Silahkan duduk! Kami khawatir sekali!"
"Anda terluka! Astaga! Mana kotak P3k!"
"Anda ingin makan apa?"
Suara mereka berisik sekali, bertanya ini itu pada Gisha yang masih setengah panik. Mereka tetap berisik walau personilnya hanya setengah dari saat Gisha terakhir kali datang kemari saat mencari asisten rumah tangga.
"Diam! Biarkan Nyonya duduk dan istirahat sampai Tuan William datang! Ahli medis, cepat obati lukanya!" Perintah Fredrin yang langsung membuat semuanya kikuk. Tidak ada yang berani bersuara lagi. Fredrin kalau marah memang mengerikan ya. ini pertama kalinya Gisha melihat Fredrin marah, biasanya dia hanya melihat asisten sang suami terus berwajah datar.
"Baik!"
...----------------...
Satu jam sudah berlalu, dan Gisha masih duduk di sofa abu-abu, diantara para bawahan Will. Tapi tidak ada yang duduk di sebelahnya. Semuanya duduk di lantai, dan hanya Fredrin yang berdiri di belakang Gisha. Semua posisi, situasi dan tekanan ini membuat Gisha tidak nyaman.
Perih di wajahnya masih terasa, sakit di lengan juga belum hilang, dileher juga masih terasa cenat-cenut. Beberapa luka akibat goresan kaca di tubuh Gisha memang sudah di obati, lantas tidak membuat perihnya hilang begitu saja, kan?
Pipi, leher, lengan, dan betis, adalah empat tempat yang terkenal luka gores itu. Agak banyak memang, karna posisi Gisha memang dekat jendela tadi.
"Gisha!!"
Teriakan familiar itu, menyita segala perhatian Gisha. Mengalihkan semua perhatian semua orang yang ada. Dari pintu, Gisha sudah bisa melihat William yang berlari dengan wajah yang begitu khawatir.
"Berhenti!" Gisha berteriak. Mungkin karna refleks, William juga menghentikan langkahnya.
"CERAI! SAYA MAU CERAI! SEKARANG JUGA!!"
Permintaan Gisha sukses besar menyita segala perhatian orang-orang yang ada disana.
__ADS_1
"Apa?" Ekspresi William langsung berubah dingin, dia yang begitu khawatir langsung terlihat sangat marah.