
Isi surat.
Kak, tolong jangan datang kesini. Kakak ipar udah bilang semua, Kakak pengen ketemu aku kan?
Maaf Kak, gak bisa. Kakak lagi hamil kan? Katanya kandungan kakak lemah, mending kakak jangan kesini, cuaca disini dingin terus. Kakak disana aja oke? Jaga diri dan jaga anak kakak.
Kak, aku sayang banget sama kakak. Kakak baik-baik aja kan? Apa suami kakak kejam? Kayaknya enggak kan?
Disini ga boleh paka hape kak, kalo ada alat elektronik semuanya demi kepentingan belajar, maaf ya Kak jarang hubungin.
Selamat udah jadi calon ibu, jaga kesehatan dan jaga diri, jaga juga calon bayi kakak.
Dari Rendi, Adik kakak yang selalu sayang sama kakak. Dan ingat, jangan kesini, sekali lagi jaga kesehatan kakak, aku mau lihat keponakan aku lahir dengan sehat dan kuat.
__ADS_1
Selamat ya kak, kakak bakal jadi seorang ibu, dan aku bakal jadi Om yang baik, aku bakal cepet-cepet lulus biar bisa cepetan main sama keponakan aku nanti, :)
Begitulah Rendi mengakhiri isi suratnya dengan tanda tangan, dan sebuah bunga kecil yang indah yang menempel disana, sangat cantik, ada juga bekas coklat.
Tes ...
Gisha meneteskan air matanya, antara sedih bercampur haru, rindu bercampur sayang, semua perasaan itu tergabung dalam hatinya.
"Ada apa sayang? adik ipar bilang apa?" Will sedikit penasaran, dia ikut melihat isi surat itu. Wah, William tidak seposesif itu kan? Padahal sejak awal Will memegang surat itu, tapi dia tidak membukanya lebih dulu dan memeriksanya sendiri, Will bahkan memberikan itu langsung pada Gisha, agar Gisha sendiri yang membukanya.
"Astaga, adik mu sangat penyayang sekali, aku jadi ingin terus membiayainya sekolah." Will menarik Gisha dalam pelukannya, dia terus mengusap kepala sang istri lembut.
"Benar kan? Adik ku itu sangat menggemaskan, dulu saat kecil dia nakal dan penurut secara bersamaan, tapi dia sangat menggemaskan, apalagi saat dia tampak marah wajah dan ekspresinya lucu sekali tau!" Gisha bercerita dengan antusias, dia menceritakan soal dirinya dan Rendi saat kecil.
__ADS_1
Rendi anak yang nakal dan keras kepala, tapi dia juga sering mendengarkan perintah Gisha, tak jarang Rendi selalu menuruti apapun yang Gisha minta. Walau dia sering ribut dan berkelahi di sekolah, tapi tetap Rendi selalu saja lembut dan hangat pada sang kakak.
"Kalau begitu, ayo jaga anak kita disini, dan rawat dia dengan baik sampai adik mu datang dan bermain dengan keponakannya." William tersenyum dengan sangat manis seperti biasanya, matanya tampak tulus, dirinya sangat hangat sekarang.
"Iya!" Gisha juga menjawabnya antusias dengan penuh semangat, dia suka sekali menerima surat dari Rendi. Surat itu membangkitkan semangat dan mengembalikan moodnya yang buruk, tadi ia sempat gelisah karna harus terus tinggal di rumah ini, tapi surat Rendi benar-benar merubah segalanya.
William sadar, bahwa Rendi sangat berharga untuk Gisha, Gisha sangat menyayangi adiknya, makanya William merasa ...
Kesal. Aku kesal sekali, menyebalkan. Sangat menyebalkan sekali bocah itu, Gisha bisa begitu menyayangi nya. Syukurlah aku sudah mengganti isi suratnya.
Gisha sangat menyayanginya, aku tidak boleh membunuhnya kan? Atau istri ku bisa stress nanti.
Ah, dia tersenyum puas saat dia mengingat sudah mengganti isi surat dari Rendi. Rendi memang mengirimkan surat tapi bukan itu isinya. Isinya sudah Will manipulasi, surat yang asli ada di tangan William sekarang, tanpa sepengetahuan Gisha.
__ADS_1