Married With Mr Mafia

Married With Mr Mafia
Apa kau baik-baik saja?


__ADS_3

......................


Belum ada 24 jam Gisha ada di rumah ini, rasanya dia ingin segera pergi dari sini, bagaimana tidak, sore tadi saja sudah terjadi pertikaian, mereka menghina Will di depan Gisha.


Sedangkan Will masih diam saja, selama yang mereka hina masih Will, dan bukan Gisha, Will tidak akan marah, tinggal menunggu saatnya pembalasan nanti.


Gisha tidak betah! Gisha yang tidak suka kalau Will dihina! Gisha mau marah, tapi Will selalu menghalanginya.


Dan seperti sekarang.


Gisha duduk di kamarnya, dengan piyama birunya, dia memanyunkan bibirnya, menggembungkan kedua pipi menggemaskan itu. Tangannya terlipat sempurna, dia membuang wajahnya dari Will.


Itu karna Gisha kesal.


Will dihina sejak tadi oleh Misha, tapi Will sendiri hanya membalasnya dengan senyuman. Aneh sekali rasanya! Padahal jika itu di markas utama, semua orang selalu takut dan hormat pada Will, tapi tidak berlaku disini.


*Cup


Will mengecup pipi Gisha lembut, satu tangannya mengusap perut sang istri, mata Will hangat menatap sang istri yang sedang marah.

__ADS_1


"Apa ini? Istri ku marah? Sungguh? Kau marah karena aku dihina?" Will menarik pipi Gisha, membuat wajah sang istri berhadapan dengan wajahnya. Kedu retina mata itu saling pandang, Will dengan tatapan penuh cinta, dan Gisha dengan tatapan penuh kekesalan.


"Aku mau pindah! Aku bisa gila dan stress kalau disini terus sampe melahirkan!" Ketus Gisha, sebagai calon ibu dia tidak rela ayah dari anakny dihina terang-terangan begitu.


"Satu bulan, tunggu satu bulan dan akan aku kabulkan itu, oke?"


William berjanji, dia juga tidak nyaman tinggal disini, tinggal di rumah berdua saja jauh lebih baik. Tapi ada beberapa alasan yang membuatnya terpaksa tinggal disini.


"Ntahlah ya, aku mau tidur." Gisha menarik selimutnya, tidur memunggungi Will.


Mood ibu hamil ini sangat buruk sekarang, Gisha juga tidak tau, mungkin ini memang pengaruh perubahan nya? Dan ya, belum ada orang lain di rumah ini yang tau Gisha hamil, kecuali sang kakek. Tidak dengan Kitty, Hatson atau Misha.


"Sekarang sudah berani memunggungi ku ya?" Will memeluk istrinya dari belakang, menyandarkan wajahnya di tengkuk sang istri, Will mencoba mengganggu Gisha.


Benar.


Will merasa ini salahnya, sebagai seorang suami dan calon ayah, Will tidak memiliki kebebasan sendiri untuk memilih tempat tinggalnya.


Ah, kalau bukan karna pria tua sialan dan penawaran nya itu, aku tidak akan mau membiarkan Gisha tinggal satu rumah dengan mereka barang sedetik pun.

__ADS_1


Will menutup matanya, Gisha mengabaikannya, dia sama sekali tidak menjawab apapun. Mungkin Gisha sudah tidur?


"Will, apa kau baik-baik saja?" Tanya Gisha, suaranya parau, dia tidak menatap Will.


"Baik-baik saja, tenang saja, ini hanya masalah kecil, jangan khawatir, dan tidur nyenyak ayo. Istirahat yang benar agar kau dan anak kita tetap sehat." Jawab Will santai, masih dengan suara yang biasa, dengan senyuman manis walau matanya terpejam.


Dan lagi, Will sangat senang karna sekarang Gisha sudah lebih memperhatikan dirinya.


"Aku tanya sekali lagi! William Joy Moran, apa kau baik-baik saja? Kalau kau terluka katakan terluka, aku ini istri mu kan?" Gisha berbalik.


Deg


William tersentak, matanya membesar saat dia melihat sang istri dengan wajah yang sudah penuh air mata. Mata Gisha bergetar dengan air mata, dia khawatir, jelas terlihat Gisha terluka disana.


Deg.


William tidak bisa berkata-kata, Gisha yang ini terlalu tulus.


Ah, kalau seperti ini aku benar-benar tidak akan melepaskan mu, barang sedetik pun, istriku sayang.

__ADS_1


__ADS_2