
......................
"Aku ingin pergi dari rumah ini, kau menjanjikan rumah yang kosong untuk ku dan istri ku, tapi apa yang ku lihat sekarang? Mereka bisa mengganggu mental istri ku."
William menyilangkan kakinya, tangannya membakar rokok, dia hisap perlahan, lalu dia hempaskan semua asap-asap itu.
Dan yang ada di depannya adalah Kakek Moran, dia adalah orang yang sangat berpengaruh, dan Will tidak peduli soal itu, yang terpenting untuknya adalah pria tua ini membiarkan dirinya dan Gisha untuk segera pergi karna rasanya sangat menyebalkan.
Gisha merasa sesak.
Saat kemarin Gisha menangis dengan tulus, dan air mata yang hangat itu tumpah khusus untuk mengkhawatirkan Will, sang suami itu jadi tidak tega melihat istrinya menangis tersedu-sedu begitu.
__ADS_1
Kemarin malam, akhirnya Gisha menangis selama setengah jam di dalam pelukan Will, sebelum akhirnya ibu hamil itu tertidur dan berhenti menangis. Will bisa merasakan dengan jelas, ketulusan, kehangatan yang menyegarkan dari air mata dan tatapan Gisha. Kekhawatirannya begitu terasa nikmat untuk William.
Meski begitu, Will tidak ingin melihat Gisha sang istri terus menangis dan khawatir, bisa-bisa itu tidak baik untuk anak mereka yang ada di dalam kandungan. Makanya, Will berusaha agar Gisha tetap tenang dan bahagia, mentalnya harus terjaga demi kebaikan sang ibu dan janin yang ada di dalam sana.
Kakek menatap Will datar, tanpa ekspresi apa-apa. "Kitty juga hamil, aku harus bertindak adil kepada setiap cucu ku."
"Kalau begitu izinkan kami pindah." Will juga tidak mau mengalah.
William terdiam, kalau dipikir-pikir apa yang kakek katakan itu benar, apalagi kemarin malam dia baru mendapatkan berita bahwa markas mereka yang biasanya baru saja diserang oleh sekumpulan orang yang sangat membenci William.
Kalau Gisha ada disana, kemungkinan Gisha terluka cukup tinggi.
__ADS_1
Tapi kalau menatap disini, kemungkinan Gisha terluka jadi menipis, karna ini adalah rumah utama keluarga Moran, kemananannya sangat ketat, dan tidak sembarang orang bisa masuk dan menyentuh orang-orang yang ada di dalam sini, karna pengaruh kakek sangat besar bahkan di dunia politik sekalipun.
Kakek Moran memang seluar biasa itu, makanya walau kakek memiliki musuh, tidak ada musuh yang berani langsung menyerang ke arah rumahnya, karna mereka akan menerima akibat yang lebih buruk lagi. Seluruh media akan menyorot kasus itu, intel-intel luar biasa dari negara lain juga akan datang, dan kemungkinan mereka tertangkap jadi lebih tinggi, makanya tidak sembarang orang bisa masuk dan tinggal di rumah utama keluarga Moran ini.
Karna kakek memang seluar biasa itu.
"Kau sibuk membicarakan bahaya yang ada di luar, kau selalu berkoar mengatakan akan melindungi istri dan calon anak mu, tapi apa yang kulihat sekarang sangat berkebalikan. Kau bahkan merokok saat kau memiliki istri yang sedang hamil?"
William terkejut, dia lupa kalau rokok sangat tidak baik untuk ibu hamil, walau tidak ada Gisha disini, Will tetap tidak ingin menyentuhnya.
William langsung memadamkan rokok itu, dia buang jauh dari tangannya.
__ADS_1
"Anda benar, Gisha dan calon anak ku tidak boleh menghirup racun seperti ini, pastikan setiap orang yang tinggal di rumah ini tidak boleh merokok."