
......................
Gisha diam, menatap luka William yang ada dikeningnya, bukannya dia tidak ingin percaya pada sang suami, tapi masalahnya suaminya adalah William.
Gisha memilih percaya.
Dia percaya bahwa hari ini suaminya benar-benar tidak membunuh siapapun.
Kenapa ya aku bisa terjebak dalam situasi saat ini?
Gisha tidak mengerti, semula hidupnya normal, ketika ayah tirinya datang semuanya kacau, semuanya semakin tidak terkendali saat dirinya menikah dengan Will, meski begitu Gisha tetap bersyukur karna Will tampaknya tidak sekejam suami-suami dalam cerita.
Bahkan bisa dikatakan Will sangat lembut terhadap Gisha kan? Tapi ada satu lagi masalahnya, bagaimana cara Gisha untuk membujuk Will agar segera berhenti dari dunia yang seperti itu?
*Tok tok tok!
Tiga ketukan kamar membangunkan Gisha, Gisha terpaksa harus turun dari ranjangnya dengan malas.
__ADS_1
"Ya, ada apa?" Gisha bertanya ramah, namun senyuman ramahnya itu seakan ingin pudar saat dia melihat siapa yang mengetuk. Dia adalah Hatson.
Sang kakak ipar yang sangat menyebalkan itu.
"Ah, adik ipar. Apa William ada? Walau ini sudah larut malam, tapi dia belum tidur kan? Ada banyak hal penting yang harus aku katakan padanya sekarang." Hatson menarik senyuman smirknya, dia menatap Gisha menyeringai.
Merinding.
Jujur saja Gisha ngeri melihat pria ini.
Walau tampaknya Kitty selalu berisik, menyindir, dan menggosip, tapi aura yang Kitty keluarkan tidak semenyeramkan aura yang tersebar di sekitar Hatson.
Untuk Gisha yang sedang hamil, berada disekitar Hatson adalah sebuah hukuman.
"Tapi ini sangat penting, aku janji ini sebentar." Kata Hatson lagi meyakinkan Gisha, sepertinya itu memang sangat penting ya? Sampai Hatson memaksa segitunya? Tapi Will baru saja tertidur satu jam yang lalu, tidak tega bagi Gisha membangunkan suaminya yang sudah lelah itu.
"Tapi dia sedang istirahat, Kakak ipar bisa datang besok pagi, ak--"
__ADS_1
"Masuk dan tidurlah sayang, aku ada urusan sebentar. Kak, pergilah ke halaman belakang, aku akan menyusul mu nanti." Tiba-tiba suara Will memotong ucapan Gisha, dalam sekejap Will sudah sampai di belakang Gisha.
Will menahan gagang pintunya, tubuh kekarnya tepat berada di punggung sang istri. Dia menatap Hatson serius.
"Ah baiklah, kalau begitu aku duluan, segera menyusul karna ini sangat penting." Tambah Hatson lagi, melihat tatapan Will yang itu, Hatson langsung pergi meninggalkan sepasang suami istri itu.
"Baiklah sayang, sekarang cuci kaki dan tidur lagi, oke? Aku akan segera kembali, jangan tunggu aku dan tidur saja. Begadang tidak baik untuk ibu hamil."
*Cup
Will mengecup mesra kening sang istri. Sebenernya Gisha tidak ikhlas Will pergi, padahal Will baru saja tertidur.
Padahal wajah suaminya tampak sangat lelah sekarang.
"Aku tidak meminta barang mewah dan mahal, artinya kau kan tidak harus bekerja terlalu keras sampai menyita seluruh waktu mu, bahkan waktu istirahat mu." Gisha sedikit menggembungkan pipinya, dia masih tidak rela waktu istirahat suaminya diganggu.
Will tersentak halus. "Astaga, apa yang terjadi akhir-akhir ini, istri ku jadi manis sekali."
__ADS_1