
......................
Gisha berjalan menuju halaman belakang rumah, dimana sudah ada Kitty yang menunggu disana, dengan seorang perempuan yang tampak elegan dan berkelas.
Dia adalah perempuan yang sama yang tadi duduk di dekat kakek.
Meisha namanya, Gisha kenal karna Will yang bercerita, Meisha adalah anak kandung dari ayah William, lebih tepatnya saudari tiri yang sangat membenci Will.
Meisha tidak akan melewatkan kesempatan apapun yang datang jika itu soal mengganggu dan mengacaukan William. Sejak dulu, Mei sangat membenci Will, kebencian yang begitu besar.
"Sini adik ipar, ayo bergabung."
Kitty menarik tangan Gisha, sebenarnya Gisha malas sih, tapi rasanya tidak sopan kalau dia menolak ajakan Kitty karna dia yang termuda tadi. Walau Will bilang Gisha boleh menampar atau melempar mereka dengan apapun yang ada di depan Gisha, tapi Gisha tetap tidak mau melakukannya.
Will memang mengerikan sih.
__ADS_1
Tapi satu hal yang sulit Gisha mengerti William tampak bisa sesukanya, tapi kenapa selama ini dia pura-pura lemah dan bodoh?
Gisha tidak paham.
"Astaga, pasti berat untuk mu harus tinggal dengan anak yang bodoh dan cacat mental itu kan? Fisiknya lemah, kau pasti lelah mengurusnya setiap hari, jadi duduklah nikmati teh ini dan istirahat lah."
Dia, gadis itu Misha berbicara sembari meminum tehnya, tampak elegan dan juga sangat berkelas.
"Ah? Tidak juga, Will baik kok." Gisha juga harus bingung menjawab apa. Dia berusaha mengatur ekspresi agar tidak ketahuan, Will selama ini menyembunyikan identitas nya sebagai mafia juga bukan tanpa alasan kan?
"Baik, astaga kamu pasti diancam, adik ipar ku yang malang." Kitty menepuk pundak Gisha, dia memasang ekspresi iba dengan adik iparnya ini.
"Cukup menyenangkan." Gisha menjawab sebisa mungkin pertanyaan dari Misha.
"Yah, semua orang juga tau kalau mental William kumat, dia bisa menghajar siapa saja. Oh ya, ngomong-ngomong Gisha, bagaimana kau bisa tinggal di rumah ini? Yang tinggal di rumah ini adalah orang-orang yang sedang mengandung keturunan Moran. Makanya kakek meminta ku tinggal sementara disini, karna aku sedang mengandung." Kitty tersenyum manis, dia memegangi perutnya yang tidak terlihat membesar.
__ADS_1
Sebentar.
Gisha paham, Kitty sedang hamil saat ini, dan usianya pasti masih muda karna perutnya belum membesar sama sekali. Lalu Gisha harus jawab apa? Apa dia juga harus jujur?
Gisha mengerti, artinya kakek juga mengundang Kitty karna dia mengandung keturunan Moran.
"Ah ak--"
"Gisha." Panggil William, dia berjalan mendekat dengan Hatson disebelahnya, sangat menyebalkan.
Tapi berkat itu, Gisha bisa bertanya pada William, jawaban apa yang nantinya akan dia berikan pada orang-orang ini. Gisha punya waktu untuk berpikir.
"Sayang? Bukannya kau bilang masih mengantuk, istirahat saja." William begitu lembut, senyuman hangat terpancar diwajahnya sesaat setelah melihat Gisha.
"Apa kau tidak liat? Gisha sedang beristirahat disini, dia sedang menghibur diri bersama kami, setelah kau mengacaukan setengah kewarasannya. Gisha pasti sangat tersiksa sekali dengan tingkah dan kegilaan mu." Ujar Misha, Misha menatap Will sinis, pada akhirnya memang beginilah Misha, dia seperti memiliki dendam pribadi dengan William. Misha sangat membenci William, dan Misha juga tidak tertarik untuk menyembunyikan kebenciannya.
__ADS_1
Dan ini pula salah satu kekhawatiran Will jika Gisha tinggal lebih lama di rumah ini dengan kedua wanita ini. Will takut, semakin Gisha tau segalanya, maka Gisha akan semakin membencinya dan gencar untuk kabur dari William.
Will tidak akan bisa kalau sampai Gisha benar-benar membencinya.