
Hari-hari Gisha berjalan dengan baik akhir-akhir ini, semuanya lancar, yah walau selalu saja ada gangguan dari Kitty karna mereka tinggal di rumah yang sama.
Harusnya hanya itu, sampai tiba-tiba William pulang dengan keadaan pakaian penuh darah, dan luka dikepala.
"Apa ini? Kau terluka? Bagaimana bisa? Ayo ke rumah sakit!" Gisha menarik tangan suaminya, mencoba mengajak ayah dari anaknya mengunjungi rumah sakit agar mengobati luka yang memang tidak begitu besar itu.
"Pertama, darah dibaju ku bukan milikku. Kedua, luka di kening ini hanya luka kecil, istri ku cukup mengobatinya dengan kotak P3K yang ada disini." Will mengambil sebuah kotak P3K yang ada disana.
Pria itu menarik istrinya duduk di tepi kasur, begitu juga dengan Will yang duduk di dekatnya.
Gisha diam, dan hanya terus memperhatikan wajah suaminya tanpa mengatakan apa-apa lagi. Gisha sudah tau bahwa pekerjaan suaminya bukanlah pekerjaan normal, tidak ada yang bilang menjadi bos mafia itu mudah dan aman. Pasti penuh dengan bahaya dari sisi mana saja kan?
"Ada apa? Kepala ku sakit, bisa tolong obati sayang?" Will menarik satu tangan Gisha, ia letakkan kapas putih dan ringan di tangan Gisha.
__ADS_1
Gisha ingin marah, tapi William juga terluka. Bagaimana cara mengekspresikan perasaannya saat ini? Disatu sisi Gisha kesal dan benci dengan pekerjaan kotor sang suami, tapi disisi lain Gisha sangat bersyukur bahwa suaminya masih hidup sampai saat ini, ia tidak menjadi janda, anak dirahimnya tidak menjadi yatim sebelum kelahirannya.
Gisha senang, tapi saat dia ingat lagi pekerjaan Will. Mungkin, dibalik kisah Will yang masih hidup, ada kisah orang lain yang sudah tiada kehilangan nyawa, terbaring kaku dengan raga yang tak lagi memiliki jiwa.
Bagaimana perasaan keluarga mereka? Pasti kaget, terpukul. Sialnya perasaan itu yang memenuhi hati Gisha saat ini, bagaimana jika perasaan keluarga korban itu adalah perasaan yang akan Gisha rasakan dimasa depan? Bagaimana?
"Berapa orang yang mati?" Gisha langsung bertanya terus terang saja. Meski begitu, meski berat, meski sebagian perkataannya masih tertahan di ujung lidah yang menyakitkan, Gisha tetap bertanya.
Gisha menempelkan kapas ringan yang lembut itu di luka Will, luka di kening yang tidak begitu besar, ia bersihkan darahnya secara perlahan-lahan, ia berikan obat antiseptik sebelum Gisha menutup luka itu dengan plester.
"Tidak ada, hari ini tidak ada." William menjawab dengan senyuman ramah.
Deg
__ADS_1
Gisha langsung membesarkan matanya tanpa bisa ia kontrol. "Sungguh tidak ada? Will?"
"Dia bilang dia harus cepat pulang untuk memberikan boneka beruang pada putrinya, jadi untuk hari ini aku tidak membunuhnya, mungkin melukainya saja cukup, yah setidaknya sampai kesepakatan dan hal yang kuinginkan bisa kudapatkan. Ah tenang saja, boneka untuk putrinya juga tidak kotor kok."
Gisha masih diam mendengar cerita suaminya barusan.
"Aku ini akan menjadi seorang ayah, sesuai janji ku, setelah urusan ku selesai aku akan keluar dari dunia mafia ini. Jadi, bisa tolong lebih percaya pada ku lagi?"
Gisha terharu. Sebuah tangisan haru keluar begitu saja dari matanya dia langsung memeluk William yang bahkan pakaiannya masih penuh dengan darah.
Tidak hari ini, aku niatnya besok sih. Tetap artinya aku tidak bohong kan? Hari ini aku benar-benar tidak membunuh siapapun, tapi gak tau kalau besok.
Ah, bagaimana ya cara menjelaskannya? Di dalam dunia gelap yang sudah Will jalani selama hidupnya, sulit untuk tangan tetap bersih setelah masuk kesana.
__ADS_1