
Harusnya hari ini adalah hari bahagia untuk dirinya, harusnya hari ini dia merasa tenang dan damai, harusnya begitu, sampai akhirnya ada yang datang ke vila mereka.
Dia adalah beliau yang saat ini sedang duduk di hadapan Gisha dan William. Pria tua dengan kumis dan rambut yang sebagian sudah memutih, meski begitu kharismanya masih terasa. Memang, wibawa seorang Presdir tidak pernah bohong.
Dia adalah Khan, Presdir Moran Grub, kakek kandung William. Entah apa maksud orang tua yang sibuk itu datang jauh-jauh ke vila ini.
Padahal tadi Gisha sudah lebih tenang, tapi sekarang jantungnya jadi kacau dan berdebar begitu kencang lagi.
"Kau tidak ingin memperkenalkan diri cucu menantu?" Tatapannya tajam ke arah Gisha.
Ini pertama kalinya Gisha melihat kakek yang selama ini hanya digadang-gadang hebat oleh anggota keluarga Moran yang lain. Karna saat pernikahan Gisha dan William, tidak ada Kakek disana.
"Oh, sa-saya Gisha, saya istri William. Senang bertemu dengan anda." Gisha memperkenalkan dirinya dengan hormat, namun gugup yang dia rasakan di hati sedikit mengacaukan perkenalan dirinya.
"Tolong jangan terlalu menekan mental istri saya, itu bisa mengganggu perkembangan anak kami. Gisha hamil ... Anak ku." William merangkul Gisha hangat. Suaranya dingin, matanya tajam menatap tepatĀ di mata retina sang kakek.
__ADS_1
Gisha sedikit terkejut, padahal yang dia tau dari Kitty, bahwa Kakek itu sangat berjasa dan sangat ditakuti, bahkan oleh ayah William sendiri. Tidak ada yang berani menatap matanya saat berbicara, tapi lihat William sekarang? Jangankan menatap matanya, Will bahkan berbicara sedingin itu terhadap pemilik perusahaan Moran yang terkenal.
"Jangan berbohong kepadaku William." Kakek juga tidak kalah dingin. Mungkin dia berpikir ini bagian dari trik William?
"Terserah mau percaya atau tidak, tapi apa yang anda lakukan disini? Menganggu bulan madu orang lain saja."
"Kau benar-benar hamil?" Pandangan Kakek berfokus pada Gisha. Dia mengabaikan segala peringatan William. Duh matilah Gisha, ditatap saja sudah membuatnya gugup.
"Iya." Terkadang menjawab singkat akan menyelamatkan mu dari masalah.
Jantung Gisha berdegup begitu kencang, dia tidak menyangka bahwa suaminya masih menyimpan laporan itu. Padahal itu sudah cukup lama, tapi masih Will simpan dan bawa kemana saja seperti harta berharga.
Kakek melihatnya dengan seksama. "Ya, untuk hari ini aku sepertinya percaya. Lalu, apa yang kalian lakukan di puncak begini saat istri mu sedang hamil?"
"Dia mau liburan katanya." Jawab William santai.
__ADS_1
"Bagaimana bisa kau tinggal dengan istri mu di markas mu, apa kau pikir itu tidak membahayakannya? Apalagi dia sedang mengandung anak mu. Mulai besok, pindah lah ke rumah utama dan tinggal lah disana. segala kenyamanan dan keamanan istri dan anak mu, aku jamin. Bagaimanapun juga, dia adalah keturunan ku." Kakek menatap Gisha, maksudnya keturunannya adalah anak Gisha kan?
"Tidak perlu repot-repot mengurus istri dan calon anak ku, aku sendiri bisa mengurusnya. Dan aku tidak akan pernah membiarkan Gisha tinggal di sana. Yang ada dia bisa semakin stress."
'setuju!' Gisha menyahut dalam hati, untuk kali ini dia sangat setuju dengan pendapat suaminya. Keluarga suaminya kan bukan orang-orang humble yang ramah, lebih baik Gisha tinggal di rumah yang disebut markas dengan orang-orang itu dibanding di rumah utama keluarga Moran.
"Ini perintah! Selama kalian masih menyandang nama Moran! Perintah ku mutlak!" Astaga kakek sepertinya benar-benar murka.
"Tapi kenyamanan istri ku yang utama." Will juga tidak mau mengalah, dia tau benar istrinya akan tertekan lahir dan batin jika menetap disana.
"Rumah utama itu kosong, hanya ada aku yang tinggal disana, tidak ada anggota keluarga Moran yang lain." Kakek masih bersikukuh pada pendiriannya.
Will menghela napasnya panjang. "Maaf ya sayang, kayaknya hari ini kita harus ngalah, oke? Nanti aku bakal cari cara lain buat kita keluar dari rumah itu." William mengecup lembut pelipis Gisha.
Deg!
__ADS_1
Mata Kakek membulat seketika, dia terkejut, sungguh demi apapun, dia tidak percaya William yang dia kenal memberikan kecupan kasih sayang yang selembut itu. William yang dia tau bisa memotong tubuh orang lain tanpa berkedip bisa sehangat itu. Itu William yang sama kan, yang selalu tanpa perasaan?