
...****************...
"Maaf ya sayang, nanti akan aku cari cara agar kita bisa kembali ke rumah kita lagi."
William berucap dengan lembut, meski sedikit perubahan ekspresi di wajah Will, Gisha tau bahwa saat ini suaminya sedang pusing. Sepertinya banyak hal yang harus dia pikirkan setelah kedatangan kakek tadi malam.
Pria tua berkharisma itu tiba-tiba datang, menurunkan perintah yang bahkan sulit untuk William tentang. Dia pergi dari Vila begitu saja, setelah dia menyampaikan maksud kedatangannya, benar-benar pria tua yang sibuk.
"Rumah yang mana? Yang lama atau yang markas?" Gisha tidak ingin marah, ketus, atau menjauh dari Will saat ini. Dia tau, suaminya yang banyak pikiran ini butuh ketenangan, dan Gisha tidak ingin jadi salah satu objek kekhawatiran William yang lain.
"Kau mau yang mana?"
"Markas? Lebih aman sepertinya."
"Baiklah, kita akan tinggal disana segera setelah aku menyelesaikan segalanya."
"Jangan terlalu dipikirkan, aku baik-baik aja oke? Jangan terlalu sering berpikir, nanti kepalanya bisa terbakar. Istirahat saja." Gisha dengan lembut mengusap kening William, mengusap manja rambut indah suaminya. Gisha juga tidak tau kenapa dia melakukan ini kepada pria yang sudah merenggut kebebasanya. Tapi satu yang pasti, saat ini Gisha ingin William lebih tenang dan berhenti khawatir.
Soalnya wajah khawatir William lebih tidak enak dilihat.
Will tersentak halus, dia benar-benar tidak percaya ini terjadi, Gisha yang sering dingin padanya mendadak bersikap lembut seolah memanjakan dirinya. Gisha yang selalu menolaknya, kini memanjakan dirinya seperti istri yang penuh cinta?
__ADS_1
"Astaga, aku jadi ingin hidup selamanya dengan mu." Will menggenggam tangan Gisha, mengecupnya pelan, menatap wajah mungil itu. Memandang retina sang istri dengan penuh kehangatan.
"Aku yang gak mau." Gisha refleks mengatakan itu.
"Jangan bohong sayang, nanti hidungnya panjang." Will tersenyum lembut, menarik istrinya ke dalam pelukannya. Satu tangan William menarik hidung sang istri.
"Aku gak bohong tau!"
"Iyakah? Astaga ngerinya." Suara pria itu seperti meledek, seolah ketakutan dengan penyataan sang istri.
"Tau ah, mau tidur!"
Will yang melihat itu hanya bisa menarik senyuman tipis, seraya memeluk sang istri dari belakang, tangannya ia letakkan di perut Gisha, yang sudah sedikit membesar berkat janin yang terus tumbuh di dalam dirinya.
Pria itu tersenyum begitu hangat dan tulus.
Dia benar-benar bahagia.
Sangat bahagia hingga sulit dijelaskan dengan kata-kata.
Sangat senang, hingga nyaris melayang.
__ADS_1
Gisha yang hamil, benar-benar sumber kebahagiaan yang tidak terbatas untuk Will.
"Tidur, oke?" Will mengecup leher Gisha dari belakang, memeluk sang istri erat, juga ikut memejamkan matanya, bermanja ria dengan rambut dan leher sang istri yang hangat.
......................
Ibu hamil moodnya memang mudah berubah-ubah, dan itulah yang Gisha alami saat ini. Padahal tadi pagi dia merasa baik-baik saja, entah bagaimana sore ini tiba-tiba dia merasa buruk dan ingin menangis. Tidak ada sebab pasti.
Dia hanya duduk di atap vila, menatap langit yang sudah mulai gelap perlahan-lahan. Matahari terbenam yang dilihat dari posisi ini sangat indah, Gisha tertagih untuk melihatnya. Ada perasaan tenang dan bahagia tersendiri yang Gisha rasakan saat menatapnya.
"Anda ingin makan sesuatu Nyonya? Ayolah makan, walau sedikit saja." Ini sudah kesekian kalinya Aila menyodorkan banyak cemilan dan buah di hadapan Gisha. Tapi tak ada satupun yang berakhir di mulut Gisha.
"Dimana Will?" Dibanding makanan yang ada di depannya, Gisha lebih tertarik dengan William saat ini.
"Tuan bilang sedang mempersiapkan segalanya agar keamanan Nyonya terjaga di rumah itu. Nyonya sendiri apa suka tinggal di rumah utama?" Wajah Aila agak tertunduk, sepertinya dia sedikit sedih? Mengingat sang nyonya akan segera pergi.
"Dibanding rumah utama itu, aku rasa tinggal di rumah kita sebelumnya lebih baik. Walau sepertinya aku terkurung, tapi orang-orang disana, mereka semua baik. Kau, Adamson, bahkan Fredrin yang seperti itu juga sangat perhatian dengan ku. Aku jadi merasa nyaman." Kali ini Gisha menjawabnya dengan tulus loh, bukan menjawab hanya sekedar menyenangkan hati Aila saja.
"Sa-saya juga merasa begitu. Mungkin anda tidak akan percaya, tapi sesungguhnya keadaan rumah itu jauh lebih hidup sejak anda masuk. Sifat dan kepribadian Tuan William juga sedikit melunak karna anda, beliau tidak lagi mudah menarik pelatuk pistolnya begitu saja." Adamson berceloteh dengan percaya diri. Dia sangat bangga atas perbedaan sifat bosnya yang dulu dan sekarang. Sampai Adamson lupa, siapa yang sedang dia ajak bicara saat ini, itu adalah Gisha, istri William, manusia paling berharga untuk Will di muka bumi ini.
"Ha? Pistol? Pistol apa? Apa maksudmu dengan pistol? Memangnya apa pekerjaan William sebenarnya? Bukannya dia cuma seorang pengusaha?" Gisha menatap Adamson tajam. Adamson yang sedari tadi berdiri santai mendadak tegang, dia lupa kalau istri bosnya sama sekali tidak tau apa-apa soal pekerjaan sampingan William.
__ADS_1