
...***...
"Oh aku, aku Kitty, istrinya Hatson. Ehm, mungkin kau tidak ingin mendengar ini, tapi aku ini mantan tunangannya William." Ujar Kitty memperkenalkan dirinya dengan ramah, ia bahkan mengulurkan tangan sebagai bentuk ramah tamah versinya.
"Ya, aku Gisha, istrinya William. Lalu, kenapa kalian tidak menikah? Dan anda malah menikah dengan kakak sepupunya William? Bukankah itu artinya kejam?" Sejujurnya Gisha sih tidak begitu peduli, tapi tanya balik saja, mungkin dia bisa memiliki informasi yang lebih berguna.
"Gisha, kau menikah dengan William karna perjodohan kan?"
Gisha mengangguk tanpa mengeluarkan suara.
"Sudah berapa lama kau mengenal William?"
"Mungkin satu minggu sejak kami menikah. Kami pertama kali bertemu bahkan saat kami menikah. Hanya itu." Kalau diingat-ingat lagi, rasanya menyebalkan, bahwa hari itu adalah hari dimana Gisha dijual dengan tega oleh ibu kandungnya. Dulu Gisha selalu ingin hari itu cepat berlalu, dia bahkan tidak peduli siapa pengantin prianya.
"Nah itu yang aku maksud. Gisha, jika kau ada kesempatan, larilah dari William. Ini saran ku, dia itu kasar, tidak suka disentuh, tidak suka hubungan badan, sulit untuk mendekatinya, dia begitu asing." Wah, apakah ini Kitty mode curhat? Dia mengatakan apa yang dia alami?
"Tidak suka disentuh dan berhubungan badan?" Gisha melirik heran, soalnya aslinya kan tidak begitu. Bahkan William selalu ingin melakukannya ketika ada kesempatan, William bahkan tidak absen untuk menyentuhnya.
"Ya, kau tau kenapa kami putus? Memang sih pertunangan kami juga ide dari orang tua kami. Saat pertama kali melihatnya, aku terpesona padanya, makanya aku tidak menolak dijodohkan dengan dirinya. Tapi kau tau, selama bertunangan, dia tidak pernah menyentuhku, sangat aneh, asing, dan kadang dia agak mengerikan, ternyata benar, mentalnya agak terganggu. Ah maaf aku berkata seperti itu." Kitty melirik Gisha yang masih terlihat tenang. Soalnya Gisha kan tidak peduli.
"Ya tidak masalah, aku sudah tau itu sebelum kami menikah." Gisha santai, tenang, sesuai ajaran William.
"Tapi saat aku mencoba mendekatinya karna ingin melakukan hubungan badan, dia malah mendorong ku menjauh, bahkan sampai kepala ku terluka hingga berakhir di rumah sakit. Ah, hari itu benar-benar sial. Kenangan terburuk dan menjadi trauma untuk ku." Dia memegang kepalanya, yang mungkin ada bekas lukanya. Gisha tidak tau pasti, dia juga tidak ada niat untuk bertanya.
"Hem, aku mengerti, pasti sakit ya."
"Ya makanya itu, aku memberikan saran untuk mu." Kitty berjalan mendekati Gisha, mendekatkan wajahnya di telinga wanita itu, kemudian berbisik pelan. "Larilah dari William, dia itu menyeramkan."
'Aku tau kalau orang itu sangat menyeramkan.' jawab Gisha dalam hati, dia juga tidak ingin Kitty tau apa yang dirinya pikirkan.
"Aku mengerti, terimakasih sarannya kakak ipar. Senang bertemu dengan anda, anda banyak membantu saya." Gisha menunduk hormat, dengan senyuman yang manis. Entah Kitty musuh atau bukan, Gisha tidak perduli, dia hanya ingin menarik diri dari keluarga Moran dan tidak ikut campur soal apapun.
__ADS_1
Pembicaraan keduanya terhenti saat seorang pria, berkemeja putih datang mendekati mereka. Dari seragamnya, Gisha tau kalau dia adalah salah satu pelayan di rumah besar ini.
"Ah, Nyonya Kitty, anda disini. Dimana Tuan Hatson?" Tanya pelayan itu yang sudah sampai pada mereka. Sebelumnya dia sudah memberikan salam hormat sebelum bertanya.
"Dia disana, ada apa?" Kitty menunjuk ke arah Hatson yang masih berbincang dengan William tak jauh dari mereka.
"Tuan besar Moran tiba-tiba mengatakan tidak bisa hadir."
'Tuan besar Moran itu maksudnya Kakek kan? Kakek yang penuh kuasa?' tanya Gisha dalam hati, sengaja, dia tidak ingin ada yang menjawabnya.
"Ada apa sayang?" Hatson dan William yang agak merasa aneh, menghentikan pembicaraan mereka, dan berjalan mendekat ke arah Kitty dan Gisha.
William langsung memeluk Gisha untuk segera merapat dengannya. Sudah Gisha bilang kan? William akan menyentuhnya jika dia punya kesempatan. Hal ini sudah Gisha pelajari selama 24 jam terakhir.
"Dia bilang Kakek tidak bisa hadir."
"Apa itu benar?" Hatson melirik pelayan itu setelah mendengarkan penjelasan istrinya.
"Hah, kalau tidak ada Kakek. Apa gunanya makan malam ini? Keluarga kita kan bukan keluarga harmonis yang akan makan malam bersama karna saling merindukan, benarkan adik ku William?" Hatson melirik William.
"Itu benar Kak, mungkin lebih baik kita pulang. Kalau begitu kami akan pulang lebih dulu." William tersenyum ramah. Dia langsung menarik tangan Gisha, pulang jauh lebih baik baginya dibanding dia menetap disini.
"Ya, hati-hati di jalan adikku, kami juga akan segera pulang."
...***...
"Apa perempuan itu ada mengatakan hal yang tidak-tidak?" Tanya William sembari membuka jas hitamnya.
Kali ini keduanya sudah sampai di rumah, tepatnya berada di dalam kamar mereka. Anehnya, kenapa William malah bertanya sekarang? Bukannya dia bisa bertanya saat mereka di mobil?
"Enggak ada. Dia kenalin diri kalau dia istrinya Hatson." Gisha sengaja berbohong, dia tidak ingin masalahnya jadi lebih panjang. Dia sedang dalam proses menenangkan dirinya sendiri dulu. Dan tidak ingin ribut dengan William, dia juga tidak berani sih.
__ADS_1
"Oh, gak ada? Apa dia gak bilang kalau kami pernah bertunangan sebelumnya? Dan luka di kepalanya karna ulah ku?"
Seketika badan Gisha menjadi kaku, dia langsung diam membeku. Sepertinya William tau banyak hal, dan sepertinya juga ini pelajaran untuk Gisha bahwa dia tidak boleh berbohong lagi ketika William bertanya. Karna William tau segalanya.
"Ya, dia bahas soal itu." Gisha duduk di tepi kasur, menatap lurus ke arah lantai, dia bahkan tidak berani menebak ekspresi seperti apa yang William keluarkan.
"Lalu? Kau tidak ingin bertanya padaku? Meminta penjelasan ku? Aku ini suami mu, kan?"
"Itu kan masa lalu kamu, sekarang kan istri dan masa depan kamu itu aku. Jadi aku tidak ingin meributkan hal yang tidak penting. Ja--"
"Padahal aku lebih suka jika kau bertanya." William duduk di sebelah Gisha, menarik dagu perempuan itu sampai akhirnya mereka saling menatap mesra.
"Tapi aku tidak suka ribut."
"Kita tidak akan ribut hanya karna wanita itu, mengerti?"
"Aku lapar." Alihkan saja topiknya, itu adalah usaha terakhir Gisha untuk lari dari pembicaraan yang menyesakkan ini. Karna kalau topiknya tidak berubah, rasanya akan ada hal buruk yang terjadi.
"Aku tau, karna kita tidak jadi makan malam, aku sudah meminta Fredrin membelikan makan malam untuk kita. Tunggu sebentar lagi dia akan datang."
William menarik tangan Gisha, melepaskan kedua sarung tangan hitam tadi. William yang memasangkannya, dia pula yang melepaskannya.
"Kenapa kita tidak makan di restoran saja tadi?"
"Ide bagus, lain kali kita makan di luar ya." William tersenyum manis. Tiba-tiba dia merogoh kantungnya, ah ternyata ada satu panggilan yang masuk ke dalam ponselnya.
Will mengangkat tubuh mungil Gisha, untuk duduk di pangkuannya. Menyandarkan kepalanya dalam pelukan hangat Gisha.
Lalu Will mengangkat telepon itu.
"Kau sudah berani ya anak haram! Berani-beraninya kau tidak hadir saat makan malam! Saat ini semua perintah Kakek mu! Saat seluruh anggota keluarga hadir! Hanya kau yang tidak hadir! Dasar bajingann tidak tau terima kasih! Berani-beraninya kau! Merasa paling hebat!"
__ADS_1
Entah suara siapa itu, tapi Gisha bisa mendengarnya karna teriakannya begitu kuat.