Married With Mr Mafia

Married With Mr Mafia
Kau, mafia?!


__ADS_3

"Ha? Pistol? Pistol apa? Apa maksud mu dengan pistol? Memangnya apa pekerjaan William sebenarnya? Bukannya dia cuma seorang pengusaha?" Gisha menatap Adamson tajam. Adamson yang sedari tadi berdiri santai mendadak tegang, dia lupa kalau istri bosnya sama sekali tidak tau apa-apa soal pekerjaan sampingan William


"Ma-maafkan saya Nyonya, saya salah bicara, maksud sa--"


"Maksudnya aku jadi lebih penyayang setelah menikah dengan mu, lebih mudah melepaskan orang ketika menjadi calon ayah, Gisha." Will tiba-tiba datang, dia masih mengenakan jas kerjanya, sangat tampan dan menawan. Ah, Will memang selalu tampan sih, jangan heran.


"Apa maksudnya tidak lagi mudah menarik pelatuk pistol Will?" Gisha tau bahwa pekerjaan William selama ini mencurigakan, dan ini mungkin kesempatannya untuk mencari tau, sebenarnya apa pekerjaannya William sesungguhnya.


"Kalian berdua pergilah." Will mengusir Adamson dan Aila bersamaan. Jangan tanya, badan Adam sudah kaku, kakinya gemetar, dia tau bahwa dia salah dan dia pasti di hukum berat karna berani keceplosan di depan Gisha. Will selama ini menyembunyikannya dengan sempurna dari Gisha, tapi Adamson membocorkannya dengan polosnya.


Padahal tadi Gisha berencana mendesak Adamson yang ketakutan untuk mendapatkan jawaban yang sebenarnya, tapi akhirnya dia gagal kan? William datang sebelum Gisha bisa memeras informasi dari ajudan suaminya itu.

__ADS_1


"Jadi, apa yang ingin istri ku ketahui? Tanya apa aja, aku bakal jawab sebisanya." Will berlutut dihadapan Gisha, duduk dihadapannya, menyandarkan kepalanya di pangkuan sang istri, dia juga terus mengusap perut Gisha, dimana darah dagingnya sedang menunggu hari untuk keluar darisana.


Deg!


Sialan!


Kalau perilaku William semanis ini, sulit bagi Gisha untuk marah dan ketus padanya. Will yang katanya sangat mementingkan ego dan harga diri, kini berlutut di depan Gisha, menyandarkan kepalanya dengan manja di pangkuannya, sungguh?


"Kau tau mafia? Nah, kira-kira begitulah aku. Aku hanya bisa menjelaskan sampai sini saja, jadi cukup disini membahasnya."


"Mafia? Will? Kau gila! Kau menyuruh ku untuk melahirkan anak ini agar dia bisa mewarisi segala hal milikmu, apa kau ingin anak kita juga jadi seorang mafia? Kau mau dia menjadi seorang penjahat, William! Jawab aku!" Darah Gisha langsung mendidih, kemarahan sudah sampai puncaknya, kepalanya sudah penuh, dia tau pekerjaan William berbahaya, tapi dia tidak tau kalau itu adalah seorang mafia.

__ADS_1


Dia marah! seolah dibohongi, bukan hal seperti ini yang Gisha inginkan.


"Nggak tuh. Memangnya siapa yang bilang anak kita akan jadi mafia? Anak kita akan besar, dan menjalani hidup sesuai kemauannya, menggapai cita-cita yang dia punya nanti. Aku cuma mewariskan harta Gisha, bukan pekerjaan kotor itu. Aku tau pekerjaan itu berbahaya dan buruk, makanya mana mungkin aku membiarkan anak kita mewarisinya, mengerti? Tenanglah, anak kita akan tumbuh dengan cinta dan kasih sayang orang tuanya. Dia akan menjadi anak paling bahagia di dunia ini." Will memeluk Gisha. Memenangkan ibu hamil yang sempat murka tadi.


William perlahan-lahan menyentuh perut Gisha, menempelkan wajahnya di perut sang istri yang sudah sedikit membesar. "Anak kita akan menjadi anak paling bahagia dan beruntung di dunia, karna dia adalah anak ku dan kamu." Will tidak melepaskan pelukan.


Sebuah pelukan hangat, kata-kata penjelasan yang menenangkan penuh pengertian dan kasih sayang. Penjelasan yang masuk akal. Segalanya membuat Gisha perlahan-lahan kembali tenang. Bak sihir, kemurkaan yang dia rasakan sebelumnya menghilang begitu saja. Wah, selain tampan William benar-benar berbakat dalam memainkan hati seseorang.


"Sungguh dia akan lahir menjadi anak yang normal?"


"Tidak normal, tapi dia akan menjadi anak yang luar biasa. Karna dia adalah anak kita, aku berjanji dia akan bahagia." Will menatap retina Gisha yakin, dia berjanji. Saat Will berjanji, dia selalu menepatinya.

__ADS_1


__ADS_2