Married With Mr Mafia

Married With Mr Mafia
Mati atau tetap disisi ku?


__ADS_3

...----------------...


"Saya bilang saya ingin cerai! Apa anda tidak mendengarnya!" Suara Gisha bergema di seluruh ruangan, lantang menyuarakan keinginannya. Kepanikan dan ketakutannya mendorong Gisha mengatakan hal itu, perkataan yang sebelumnya tidak berani ia suarakan. Jelas, setakut apa Gisha sekarang.


"Ah, cerai ya? Baiklah." William berjalan mendekat, berdiri tepat di depan Gisha. Tampak biasa saja, tidak marah.


"Baiklah, kalau gitu sekarang ayo kita urus perceraian ini!" Gisha menarik tangan William. Kemana saja harus pergi ketempat orang-orang yang mengurus soal perceraian.


"Tapi sebelum itu istri ku, gunakan ini dan potong nadi mu." Will memberikan sebuah pisau yang masih putih bersih mengkilap. Dengan wajah tersenyum yang sangat menyeramkan.


"Apa?" Gisha menatap William tidak percaya, ada yang salah kan? Gisha pasti salah mendengar kan?


Pisau yang bersih itu, akan terlumuri darah segar Gisha?


Gisha memegang pisau itu atas paksaan Will. Dia menatap kembali ke arah suaminya, tubuhnya gemetar, tatapannya penuh ragu. Dia tidak percaya suaminya bisa bersikap sekasar ini? Dia tidak percaya, pria yang setiap malam memuji dirinya cantik, memeluknya erat dengan hangat malah memberikan pisau dengan perintah memotong nadi? Sungguh? William yang setiap malam mengatakan cinta meminta Gisha untuk bunuh diri?


"Aku harap aku salah dengar, Will." Suara perempuan itu gemetar, tidak jauh beda dengan tubuhnya yang merinding, tapi dia masih memberanikan diri untuk berbicara dengan orang ini.


"Gak salah kok. Kau hanya punya dua pilihan, tetap bersama ku, atau mati? Satu-satunya kebebasan yang kau punya hanya kematian, karna saat kau hidup, kau hanya boleh menjadi milikku, dan selalu disisi ku, mengerti?" Will mendekat ke arah Gisha, membisikkan kalimat kejam dan dingin yang sesungguhnya. Pria ini benar-benar sudah gila.


Gisha langsung diam membatu, badannya membeku, jari-jarinya sulit di gerakkan, bahkan lidahnya seolah tidak bisa bergerak.


"Jadi, pilihlah istri ku. Aku bukan orang yang egois, aku memberi mu pilihan, tetap disisi ku atau mati? Bahkan sampai akhir hidupmu status mu tetap harus menjadi istri ku." Kata orang gila ini dengan penuh senyuman gila.


Bukan orang egois katanya? Memberi pilihan dia bilang? Bahkan seluruh bawahan yang menyaksikan tingkahnya saja, sudah tau bahwa Will itu berlebihan, dan ini adalah paksaan. Tapi, mereka semua hanya bawahan, semuanya diam, tidak ada yang berani membantah William. Tidak satupun, termasuk Fredrin. Mereka hanya diam melihat seorang perempuan disiksa mental dan psikisnya oleh sang bos.


"Ada apa? Kenapa diam? Pisaunya kan sudah kau genggam. Ingin ku bantu?" Will menyentuh tangan Gisha, menuntun tangan yang memegang pisau itu untuk mengiris tangan lainnya.


Prang!

__ADS_1


"Enggak!" Gisha melemparkan pisau itu jauh. Dia menolak saran William untuk membunuh dirinya sendiri. Meski dia kecewa dengan hidup, meski dia benci dengan dunia ini, saat dihadapkan dengan kematian, dia tetap masih ingin hidup, ironis bukan?


"Jadi masih ingin cerai?" Will bertanya lagi dengan penuh senyuman. Padahal jelas-jelas dia sudah melihat istrinya yang panik dan nyaris gila.


Gisha tidak menjawab apa-apa, dia hanya menggeleng.


"Jawabannya kurang jelas sayang."


"Gak usah cerai ...." Akhirnya Gisha mengatakan itu, pemaksaan versi William sudah berhasil, dan Gisha kembali menarik kata-katanya untuk cerai, bukan berarti menarik keinginan Gisha untuk menjauh dari orang gila ini.


Tentu saja berada di sisi William saat ini itu benar-benar paksaan, dibanding nyawa taruhannya. Mau minta tolong bagaimana? Banyak manusia di sekelilingnya memang, tapi semuanya juga hanya tunduk pada perintah William.


Ketakutan yang menyelimuti perempuan itu, memaksanya untuk menarik kembali permintaannya.


"Istri ku memang bijak, tau saja mana pilihan baik dan buruk. Sekarang ayo istirahat, kita akan tinggal di sini untuk sementara waktu, hingga rumah kita selesai di perbaiki. Maaf ya, ada sedikit kekacauan." William tersenyum ramah, dia mengambil sebagian rambut acak Gisha, disusun rapi ke belakang telinganya.


Semuanya hanya diam menunduk, tidak ada yang berani mengangkat suara, apalagi untuk membela Gisha. Bahkan Gisha hanya bisa diam dan menurut.


Will masuk ke ruangan itu, kamarnya gelap, hanya ada cahaya bulan yang terpancar dari luar. Bukan listriknya mati, atau lampunya rusak, Will hanya tidak ingin ada cahaya lampu malam ini.


Dia meletakkan sang istri perlahan di kasur berseprei putih itu. Bersamaan, dia juga merebahkan tubuhnya tepat di sebelah sang istri, menatap perempuan yang sedang ketakutan itu.


"Ini sakit?" Will menyentuh pelan luka akibat pecahan kaca di wajah Gisha.


"Sakit, tangan dan kaki ku juga sakit." Dia mengangguk, mengadu, mencoba menepis rasa takutnya, meyakinkan dirinya sendiri, segila apapun William, dia tetap manusia yang punya hati, mungkin?


"Maafkan aku, yang seperti ini tidak akan terjadi lagi. Besok kita akan ke dokter, oke?"


"Aku gak mau ke dokter, aku mau istirahat saja di rumah."

__ADS_1


"Begitukah?"


Gisha mengangguk yakin, dia sedang tidak ingin bertemu orang luar sekarang.


"Apa kau merasa aku iblis? Aku jahat? Apa kau merasa hidup mu sudah berakhir? Sudah tamat, kehilangan harapan? Apa kau merasa di kekang oleh ku? Sangat sulit bagimu hidup sebagai istri ku?"


Gisha menatap William dalam-dalam. Memberanikan diri menatap retina William. "saya tidak tau, kadang anda baik, kadang anda terlihat sangat mengerikan. Tapi memang benar, sepertinya saya sulit hidup berdampingan dengan anda, rasanya kebebasan saya direnggut paksa."


"Untuk mu, sebenarnya semuanya mudah, tidak ada yang berat. Entah bebas, atau hidup sebagai istri ku. Kau cukup tetap disisi ku, hidup dengan ku, bersama ku, menjadi istri ku selamanya, melahirkan anak-anak yang lucu untuk kita. Maka akan ku lakukan apapun untuk mu. Apapun yang kau inginkan Gisha, selama kau tetap disisiku." Will memeluk Gisha erat, mengusap wajah perempuan itu lembut, menatap matanya penuh cinta, atau obsesi yang gila?


"Bagaimana saya bisa berlagak sebagai istri anda, kalau anda sendiri masih banyak menyimpan rahasia, rahasia yang bahkan membahayakan nyawa saya. Tadi ada batu yang dibalut sebuah kain putih, tulisannya 'kembalikan chipnya' di tulis dengan darah, lalu di lempar ke arah kaca kamar saya yang percikan kacanya mengenai tubuh saya, lalu ada banyak kericuhan. Saya takut setengah mati tau! Saya tau pekerjaan Anda aslinya membahayakan kan? Melahirkan anak-anak? Anda pikir mereka akan bahagia hidup di situasi membahayakan itu?"


"Aku salah ... Maafkan aku, tapi jangan pernah minta cerai. Dan soal ini, ini memang kesalahan fatal dari ku, aku janji akan memperbaikinya, aku janji apapun yang terjadi, akan ku pastikan mereka tidak akan menyentuh mu lagi. Jadi ku mohon, tetap disisi ku Gisha. Jangan pernah tinggalkan aku." Semakin erat Will memeluknya, menenggelamkan wajahnya di leher hangat sang istri. Sangat hangat, William mencium luka yang ada di leher Gisha.


Gisha tau Will sedang menangis saat ini, dia tau karna dia bisa merasakan lehernya dibasuh dengan air hangat setetes demi setetes. Air mata William yang berharga.


"Aku takut ... Aku awalnya tidak berniat lari dari mu, tapi sekarang aku takut pada pekerjaan mu." Gisha tidak tau, terkadang sisi jujur Will yang begini, sisi lembutnya yang memohon, melelehkan hati Gisha.


"Aku janji mereka tidak akan menyentuh mu." Will menatap mata Gisha dalam-dalam, mengecup luka yang ada di pipinya.


"Tapi tadi anda menyuruh saya bunuh diri kan?" Tatapan benci masih ada di mata Gisha untuk kejadian yang tadi.


"Kau tau, apa yang akan ku lakukan jika kau benar-benar mengiris tangan mu?" William menggenggam tangan Gisha yang nyaris terpotong nadinya tadi.


Gisha menggeleng perlahan.


"Mati bersama mu di saat itu juga, mengiris tangan ku dengan panjang irisan yang persis seperti mu. Mati di sebelah mu, dengan begitu kita berdua akan bersama. Tidak ada gunanya hidup tanpa mu, Gisha. Dunia tanpa kamu, hanyalah seonggok tanah dibawah langit."


Gisha begidik ngeri, seluruh tubuhnya merinding. Dia tidak tau, sebenarnya perasaan apa yang Will punya untuk dirinya. Istri kontrak? Cinta? Atau ada kata lain yang bisa mendeskripsikan perasaan William untuk Gisha?

__ADS_1


__ADS_2