
...***...
"Jadi katakan, siapa yang menyuruh mu merusak rumah ku?" Suara William dingin, matanya tajam, tampak banyak kebencian menumpuk dimatanya, menatap pria yang kini sudah berlutut di kakinya.
Pria itu adalah orang yang melempar kaca jendela rumah, hingga membuat Gisha terluka dan trauma. Bahkan meminta perceraian dengan Will, tau kan sebenci apa Will pada pria ini?
Dia sudah bersimbah darah, lebam di wajahnya sudah tak terkira, kaki dan tangannya sudah terantai sempurna, beberapa kuku sudah copot dari jari tangannya, ah itu ulah Fredrin, tentunya dengan perintah William. Bahkan William masih belum puas menyiksanya.
Ruangan yang gelap, hanya ada satu lampu kecil tepat di atas kepala pria yang disiksa itu. Membuat suasana semakin berat.
"Tidak ada yang menyuruh ku, aku melakukannya karna aku membenci mu." Meski sudah babak belur, meski darah sudah membasahi nyaris seluruh tubuhnya, dia masih kekeuh menyimpan rahasia itu sendiri.
Bukh!!
Pukulan keras Fredrin berikan menggunakan balok, tepat di belakang leher pria itu. Pria itu menjerit kesakitan, tapi dia masih belum mengaku apa-apa.
William berdiri angkuh, dia menatap jijik pria itu. "Pergerakan mu terstruktur, butuh banyak orang dan upaya hebat untuk menyentuh rumah ku, dan itu mustahil dilakukan oleh mu sendiri. Jadi katakan siapa dalangnya?
"Heh, aku membenci mu aku harap kau mati."
Krekkk
William memijak kuat jari jemari pria itu, agak menunduk sedikit mensejajarkan wajahnya dengan wajah hancur pria itu sekarang.
Pria itu masih mencoba mati-matian bertahan untuk tidak berteriak, tapi pijakan Will benar-benar kuat, dia tau beberapa jarinya pasti sudah patah. Pijakan Will sukses membuat pria itu ingin mati saja.
"Siapa?" Kali ini William menatapnya dengan lebih tajam, memberikan tekanan tersendiri yang membuat siapapun takut.
"Aku, hanya aku, aku membenci mu. Yah walau kau tidak ada di rumah, hanya ada istri mu. Apa istri mu mati, dia-- arghhh!!!"
Tiba-tiba saja Will menusuk mata kiri pria itu menggunakan pisau yang selalu Will simpan. Tatapan Will benar-benar penuh amarah. Siapapun yang berani menyinggung Gisha, inilah akibatnya.
"Siksa dia sampai dia mengemis untuk kematiannya sendiri, tidak perlu bertanya lagi. Akan ku cari mereka semua!! Jangan sampai dia mati, karna kematiannya akan bersamaan dengan dalang dari semua ini."
"Baik Tuan." Fredrin tau, bahwa Tuannya sedang murka, dan penyebabnya adalah pria ini yang berani menyinggung Gisha, dan soal kematiannya.
William keluar dari ruangan itu, dengan hati yang penuh amarah. Dia benci sekali orang itu. Dia benci siapapun yang mencoba menyentuh istrinya.
"Berani-beraninya dia membahas istri ku! Berani-beraninya mencoba membunuhnya! Akan kuhabisi kalian semua yang terlibat." Langkah yang gusar mempercepat jalan Will. Hatinya tidak tenang, dia kacau, dia ingin segera kembali ke kamar dan memeluk Gisha erat-erat. Dia tau, hanya dengan itu dirinya bisa tenang.
__ADS_1
Tkk ....
William berhenti sebentar, dia tidak sengaja memijak sebuah pisau yang masih bersih. "Ini kenapa disini?"
"Maaf Tuan, tidak ada yang berani menyentuh benda kesayangan anda ini. Anda yang melarang kami untuk menyentuhnya kan."
Tiga orang yang tadi sedang duduk berdiskusi langsung menghadap William.
William tau, itu adalah pisau kesayangannya, dan pisau itu juga selalu dia bawa kemana-mana biasanya. Tapi, pisau itu berakhir di lantai karna Gisha melemparnya tadi. Pisau itu adalah pisau yang sama yang William gunakan untuk mengancam istrinya sendiri.
"Musnahkan itu." Perintah Will.
"Tapi itu pisau kesayangan anda sejak kecil."
"Gisha membencinya. Aku tidak ingin memakainya lagi."
"Baik, akan kami musnahkan."
"Mulai sekarang, jauhkan pisau darinya, dan jangan sampai ada yang memecahkan kaca di dekatnya. Dan ya, karna kami akan tinggal sedikit lebih lama disini, kurangi anggota, pindahkan tiga perempat ke Gudang lain. Sisakan seperempatnya disini untuk menjaga istri ku. Jangan terang-terangan lagi membawa orang berdarah, sembunyikan senjata. Buat dia nyaman, jika dia benci ada disini, maka tempat ini harus di musnahkan, kalian mau?"
Ketiga orang itu diam mematung, mereka nyaris tidak percaya William bisa berbicara sepanjang itu. Soalnya, selama ini William itu jarang bicara. Mungkin karna membahas istrinya? Begitu kira-kira maksud ekspresi dari ketiganya.
"Tidak, kami akan berusaha yang terbaik membuat Nyonya muda nyaman!"
Ketiga orang tadi terdiam, tidak pernah mereka bayangkan akan datang masa dimana Bos mereka yang kejam jatuh cinta, dan sangat mencintai seorang perempuan sampai melakukan apapun untuk membuat perempuan itu bahagia.
"Hati-hati, menyinggung Nyonya muda artinya berakhir celaka."
...----------------...
Jam masih menunjukkan pukul tiga pagi, William kembali berbaring di sebelah istrinya, memeluk sang istri hangat.
"Jangan mati, jangan benci aku, jangan pergi dari ku." William mengusap kembali luka yang sudah agak mengering itu.
"Kau sungguh berharga Gisha, kau adalah dunia ku." William mencium rambut Gisha perlahan, menenggelamkan wajahnya di leher sang istri yang hangat.
William selalu bisa tenang dan terkendali jika berada di dekat Gisha. Dia yang tadi penuh amarah, kembali tenang seperti biasa.
"Akan ku habisi semua orang yang berani menyakiti mu." William mendaratkan kecupan bertubi-tubi di leher sang istri. Membuat sang pemilik leher mengerang tidak nyaman.
__ADS_1
"Will?" Gisha mengucek matanya, dia menatap William yang sudah bermanja-manja ria dengan tubuhnya. Gisha mengusap rambut William lembut. Namun seketika tangannya berhenti saat dia mengingat pria itu pula yang memberikannya pisau untuknya bunuh diri.
"Ada apa?" Gisha bertanya lagi. Sejujurnya dia masih agak takut dengan pria ini, kalau bisa Gisha ingin segera menjauh, jantungnya tidak baik-baik saja setiap kali Will mendekatinya, dan Gisha tau pasti itu bukan debaran cinta, melainkan debaran ketakutan.
William tidak menjawab apapun, dia hanya diam, semakin memeluk Gisha dengan erat, semakin banyak kecupan yang dia daratkan disana. Leher Gisha sudah menjadi milik William sepenuhnya.
"Will, ada apa? Aku masih ngantuk, aku mau tidur. Tidur atau kau ku benci selama-lamanya!" Sebenarnya sih Gisha asal ngomong, tapi dia tidak tau ternyata kalimat itu malah berefek. Will melepas cengkramannya, dia menatap wajah sang istri, menatap matanya lekat-lekat.
"Kau merindukan adik mu kan? Aku sudah tau dia dimana. Dia ada di sebuah Asrama di London, kalau kau mau bulan depan kita kesana. Harusnya besok, tapi pihak sekolah melarang karna Minggu depan mereka ujian, dan harus banyak belajar."
"Sungguh?!" Mata Gisha berkaca-kaca, dia begitu senang sekarang. Sepertinya dia lupa bahwa dia mengalami hal buruk beberapa jam yang lalu. Berita soal Rendi mampu menepis ketakutannya.
"Ya."
"Kita kesana bulan depan?" Gisha masih sangat antusias.
"Jika kau mau?"
"Aku pasti mau! Terima kasih!" Gisha memeluk William erat, untuk pertama kalinya, Gisha-lah yang memeluk William lebih dulu. Sepertinya perempuan itu benar-benar lupa soal William yang memberinya pisau.
"Jadi, ayo tidur lagi." William menarik kepala istrinya untuk menempel di dada bidang miliknya.
"Apa besok kita akan pulang?" Sejujurnya Gisha merasa tidak nyaman ada di rumah ini, setiap dia melewati lantai itu dia pasti akan ingat dengan Will juga bisikannya saat memberikan pisau itu.
"Maaf ya, tapi rumah kita masih di perbaiki, untuk sementara kita akan tinggal disini. Apa kau mau di hotel?" Will menjawabnya dengan lembut, dia mengusap pipi sang istri lembut. Matanya tidak teralihkan dari hal lain, retina Will hanya fokus untuk terus menatap Gisha.
"Gak deh, disini aja." Gisha merasa tinggal di hotel jauh lebih ribet, sudahlah disini saja. Jujur, Gisha tidak mau mengakuinya, tapi tubuh dan suara William begitu hangat, membuatnya sangat nyaman ada di posisi ini. Tapi terkadang dia juga masih takut.
"Mungkin berat dan tidak nyaman untuk mu, tapi bertahan oke? Ini hanya sementara saja. Aku janji kita tidak akan lama disini."
"Sebenernya, aku lapar. Apa tidak ada makanan disini? Biasanya di rumah sana, aku selalu sediain makanan di kulkas."
"Kau tau, sebenarnya satu orang disini ada yang masakannya enak. Aku akan minta dia buat makanan untuk mu sekarang." William mengambil ponselnya. Mengetik beberapa pesan, mungkin?
"Sungguh? Sekarang? Ini jam tiga pagi tau." Gisha tidak percaya Will menyuruh orang lain memasak di jam begini. Ya, Will kan memang orang tanpa perasaan, mungkin?
"Kalau dia menolak, dia tinggal pindah alam." William tersenyum manis, Gisha yang mendengarnya saja sudah begidik ngeri. Pemaksaan versi William benar-benar mengerikan.
"Apa makannya memang enak? Lebih enak dari masakan ku?"
__ADS_1
"Mana mungkin, walau agak asin masakan mu tetap favorit ku." Will memeluk istrinya dengan erat, menghujani wajah Gisha dengan banyak sekali kecupan.
"Will!"