Married With Mr Mafia

Married With Mr Mafia
Ngambek


__ADS_3

......................


Will sudah pergi, Gisha hanya menatapi pintu yang sudah tertutup setelah William pergi.


Aneh, Gisha tidak suka. Dia merasa ada yang aneh.


Gisha menghela napasnya. Dia menutup matanya perlahan, dia rebahkan tubuhnya, ibu hamil tidak boleh terlalu lelah kan?


Gisha menyadari satu hal, hidupnya saat ini berjalan tidak konsisten, hanya dalam beberapa waktu dia bisa merasa bahagia, dan juga merasa sedih. Berita duk seperti bisa datang kapan saja.


Dulu Gisha pikir segala kekhawatirannya karna dia sedang hamil.


Tapi Gisha tau sekarang, bahwa dirinya sering gelisah dan merasa tidak tenang itu karna William. Tapi, Gisha juga bisa merasa begitu bahagia seperti terbang melayang juga karena William.


Apa ini yang namanya benar-benar cinta?


Gisha tidak pernah merasakan gejolak seperti ini, hatinya seperti bukan miliknya, hatinya bergejolak bisa bahagia bisa sedih hanya dengan mendengar perkataan William saja.


Seolah, perkataan William adalah kunci mood hatinya.


Apa ini bakal baik-baik saja?

__ADS_1


Gisha menghela napasnya, dia memilih untuk keluar sebentar, dia ingin berjalan-jalan sendirian mencari rasa kantuk yang sempat hilang.


Tapi, belum ada lima langkah Gisha keluar dari kamarnya, William sudah berdiri memblokir jalan sang istri, dengan senyuman manis yang terlukis diwajahnya.


"Sayang mau kemana?"


"Nyari angin." Gisha menjawab ketus, moodnya buruk, Gisha juga tidak tau pasti, yang jelas setelah Will pergi tadi moodnya buruk dan dia ingin marah dengan William.


Gisha mencoba melanjutkan perjalannya, namun satu tangan William menghentikan langkah mungil sang istri.


"Istirahat oke? Kalau hari ini kamu tidur, aku bakal pastiin besok pagi kamu bisa ngomong sama adik kamu." William tersenyum manis. Tawarannya sangat menggiurkan, bagi Gisha yang sudah sangat merindukan sang adik, tawaran berbicara secara langsung ini tidak bisa ditolak harusnya.


Tidak apa-apa meski suaranya saja, tidak masalah meski tidak bisa bertemu langsung, setidaknya Gisha yakin bahwa sang adik baik-baik saja.


Wajah William yang tersenyum sangat tampan, tapi apa yang William katakan barusan berhasil membolak-balikkan perasaan Gisha. Ia yang semula badmood, kini memiliki suasana hati yang lebih baik.


William tersenyum ramah.


Detik ketika Gisha masuk ke dalam kamar, senyuman William hilang, terganti dengan lirikan mata yang tajam, aura ramah tamah seketika hilang, bibirnya kembali mengatup.


Bocah sialan ini, berani-beraninya dia mengancam ku.

__ADS_1


Will menatap ponselnya, tampak sebuah pesan singkat terpampang di layar miliknya.


Adik ipar :


Aku ingin berbicara dengan kakak ku, jika kau menolak, akan aku pastikan kakak ku tau segala kelakuan busuk mu tanpa sepengetahuannya.


Hah


William menghela napasnya, padahal dia sudah berusaha semaksimal mungkin untuk tidak menyakiti adik kesayangan istrinya itu, tapi kalau dia melunjak begini, bahkan sampai berani mengancam Will, Will kan jadi tidak sabar untuk membungkamnya dengan berbagai cara.


Will tidak suka ada yang mencampuri urusannya dengan Gisha.


Kenapa semua orang sulit sekali membiarkan aku hidup bahagia dengan istri ku? Aku hanya ingin membangun keluarga kecil yang bahagia, bersama istri kecil ku dan calon anak ku.


Ya, tampaknya niaga William itu tidak bisa terlaksana dengan begitu mudah, mengingat banyak sekali musuh-musuh brengsek yang mengincar keamanan sang istri, apalagi mereka juga sangat menginginkan kepala William.


Termasuk bajingan sialan itu, baiklah pertama-tama aku akan urus yang terdekat dulu.


......................


Halo, terima kasih sudah menunggu, dan terima kasih untuk yang tetap memilih melanjutkan cerita ini.

__ADS_1


Author benar-benar mintaa maaf kalau salah, dan berterimakasih udah mau maklumi kesibukan aku.


__ADS_2