Married With Mr Mafia

Married With Mr Mafia
Pindah rumah


__ADS_3

...****************...


Apa ini akan baik-baik saja? Sungguh?


Gisha tidak tau pasti apa yang dia rasakan, dia menatap William yang kini terbaring dalam pelukannya, wajah William menempel sempurna di leher sang istri, tangannya bahkan masih memeluk Gisha erat di dalam tidurnya.


Kenapa dia mencintai ku ya?


Gisha tidak tau, tapi sejujurnya ini cukup aneh kan? William tiba-tiba menikah dengan Gisha, bahkan tidak seperti yang Kitty katakan, Will selalu lembut dan hangat pada dirinya, William juga sangat memanjakannya.


Walau kadang memang, Will itu sangat mengerikan.


Benar. Dia kan mafia? Gisha tidak mimpi kan? Dia benar-benar mendengar hal itu langsung dari Will, mendengar itu sekaligus penjelasannya.


Tidak pernah Gisha bayangkan bahwa sosok mafia yang hebat itu adalah suaminya, tidak pernah Gisha pikirkan bahwa dia akan menjadi istri dari seorang mafia.


Apakah ini baik? Atau ini malah menjadi sangat buruk?


Menikah dengan Mafia, menjadi istri mafia, bahkan akan melahirkan anak untuk seorang mafia? Apakah Gisha akan bahagia?


Posisi Will terlalu berbahaya kan untuk dirinya yang hanya ingin hidup normal, tapi mau bagaimana lagi? Semuanya sudah terlanjur.


"Ya, setidaknya aku akan mencoba menjalaninya dulu." Gisha memeluk William, tangannya mengusap rambut sang suami, bibir Gisha mengecup sempurna wajah William yang tengah tertidur.


Gisha sendiri kembali menutup matanya untuk segera tidur. Soalnya besok Gisha harus kembali, dan menyebalkannya dia harus segera bersiap karna akan pindah ke rumah utama keluarga Moran sampai rumah yang sebelumnya mereka tempati selesai di perbaiki.


Itu atas permintaan Kakek, Will sudah mencoba menolaknya, tapi kakek kembali menegaskan keputusannya saat dia tau Gisha sedang hamil.


Sesaat setelah Gisha menutup matanya dengan sempurna. William membuka matanya, dia menarik sudut bibirnya tersenyum smirk.

__ADS_1


Kau milikku, selamanya akan tetap menjadi milikku, entah harus mengurung mu atau mematahkan kaki mu, kau harus hidup untuk ku dan, selalu di sisi ku, sayang ...


Will tersenyum manis, tapi tatapannya sangat mengerikan, tatapan penuh obsesi kepada sang istri. Jangan tanya seberapa senangnya William dibelai lembut oleh sang istri, tangan Gisha terasa begitu hangat, dia suka, sangat menyukainya.


kecupan Gisha terasa manis, sangat hangat, William tertagih untuk terus merasakannya. Untuk membuat sang istri tercinta tetap disisinya, William akan selalu memastikan Gisha menjadi istrinya selamanya.


"Sejak dulu, aku selalu menantikan mu, jangan tinggalkan aku Gisha. Mungkin kau lupa, tapi kau adalah satu-satunya perempuan yang aku inginkan sejak usia mu 16 tahun, hari itu, di jembatan itu ..." Bisik William, tapi tidak masalah Gisha sudah tidur sempurna, dia tidak tau apa maksudnya.


Kejadian yang terjadi beberapa tahun lalu, membuat William sangat terobsesi pada dirinya.


......................


"Sayang, kalau tidak nyaman bilang oke?" Pinta Will, tangannya masih menggenggam erat tangan sang istri, tak kan dia lepas apapun yang terjadi.


Kini keduanya sudah berjalan melangkah masuk ke rumah utama keluarga Moran, yang dituntun oleh Desi--kepala pelayan di rumah ini.


"Ah, selamat datang adik ipar kesayangan ku!" Dari jauh, tampak Kitty sudah merentangkan tangannya, dia tersenyum manis, dress kuning yang dia kenakan benar-benar sangat cocok dengan dirinya, dia jadi terlihat cantik dan menawan, yah walau pada dasarnya Kitty itu memang sudah sangat cantik.


Tapi ...


Ada ayang aneh.


Bukannya kakek bilang bahwa tidak akan ada anggota keluarga Moran lainnya disini? Kakek bilang begitu kan? Dia yang bilang bahwa hanya akan ada William dan Gisha di rumah ini, lantas kenapa mendadak ada Kitty juga Hatson, bahkan ada dua orang lainnya disana.


Apa maksudnya ini?


William marah, tapi dia mencoba menahan amarahnya.


"Will? Kau sudah sampai? Baguslah, kamar mu ada di lantai dua, pergilah ke atas sana, Desi akan mengantar mu, ikuti dia. Ah ya, kamar di lantai satu adalah milik Hatson dan Kitty, mereka tinggal disini."

__ADS_1


Dan pria yang ada disana mengatakan itu, dia adalah kakek yang masih duduk sempurna di kursi kehormatannya dengan tangannya yang membuka sebuah koran.


Murka.


Will benar-benar ingin marah sekarang, padahal kakek tua itu yang mengatakan tidak ada orang lain di rumah ini. Lantas apa maksudnya tiba-tiba Hatson dan Kitty malah ada disini?


"Ada apa William? Kau marah? Tidak kan? mana mungkin kau marah satu rumah dengan ku kan? Kita ini sepupu, kita sangat dekat kau tau?" Tambah Hatson dengan senyuman yang benar-benar menjengkelkan, sangat menyebalkan melihat senyuman sialan itu.


"Tidak, ini menarik. Baiklah, aku akan mengantar istri ku dulu sekarang, dia lelah. kami permisi." Will tersenyum ramah, sudah biasa kan, Will memang suka tersenyum, tapi belum tentu senyumannya akan tulus seperti dia tersenyum di depan Gisha.


"Baiklah kalau begitu, kami akan menunggu mu, ayo minum teh nanti."


"Itu benar Gisha, nanti setelah kau istirahat aku akan mengobrol dengan mu, sangat menyenangkan bukan. Ada beberapa berita penting yang ingin aku bagikan pada mu, ini sangat menarik. Tapi tidak akan aku katakan sekarang, aku akan katakan nanti saja. Kalau begitu, silahkan beristirahat adik ipar ku yang manis." Kiryu tersenyum lebar, dia tampak sangat ramah dan bersemangat menantikan percakapan yang akan dia lakukan dengan Gisha nanti.


Benar.


Kitty sudah memikirkan banyak hal yang akan dia bahas dengan adik ipar tercintanya, dan lagi Kitty akhir-akhir ini lagi suka membuat orang lain overthingking, barangkali Kitty ingin melakukannya pada Gisha?


"Baik, Kak." Gisha tersenyum ramah, dia sudah belajar dari William cara mengatur ekspresi wajahnya agar terlihat sempurna.


Will tersentak halus, dia bahkan tersenyum tipis, istrinya yang seperti ini benar-benar menggemaskan di matanya, Will jadi ingin segera membawa Gisha ke kamar, dan memeluknya seerat mungkin.


...----------------...


"Bukannya kakek bilang gak ada orang lain ya? Kok tiba-tiba ada Kitty sama Hatson?" Gisha merengek, dia tidak suka, dia benar-benar tidak nyaman dengan kehadiran dua orang itu. Gisha masih ingat jelas penipuan yang Kitty dan Hatson lakukan, karna mereka akhirnya Gisha dan Will tidak ikut acara makan malam resmi itu.


"Menyebalkan ya? Boleh ku bunuh? Jangan lupa kalau suami mu ini mafia." Will tersenyum ramah dan hangat, seolah perkataan berat itu adalah candaan.


Gisha begidik ngeri sendiri. Dia sempat lupa bahwa suaminya adalah orang yang semengerikan itu, mengingat seberapa menakutkannya Will dari cerita Adamson, tampaknya Will bukan berkata omong kosong kali ini, mungkin saja Will memang bisa melakukannya kan?

__ADS_1


__ADS_2