
***
"Dia sudah pergi ke London untuk sekolah. Gisha kakak yang baik ya." Ujar sang ibu ramah tamah.
Gisha dan William sudah sampai di rumah orang tua Gisha, saat mereka datang dengan maksud menemui Rendi. Tapi Rendi sendiri sudah pergi, membuat Gisha ingin segera angkat kaki dari sini, karna tujuannya kesini sudah tidak ada lagi.
"Ah tapi, bagaimana kalau kita makan siang bersama, Tuan. Pembantu rumah Ka--"
"Aku ingin pulang." Gisha menggenggam lengan William. Dia tidak ingin berada lebih lama lagi diantara orang-orang munafik ini. Dimana Rendi kesayangannya tidak ada disini.
"Baiklah, kami pamit undur diri dulu, ayah, ibu mertua." William tersenyum ramah, seperti seseorang yang tidak berbahaya, seperti orang bodoh dan anak haram buangan pada umumnya.
"Kenapa cepat sekali, kalian bisa lebih lama disini. Menginap juga boleh." Basa basi yang menyebalkan sekali dari sang ibu.
"Tidak bisa. Kami ingin menemui kakek lagi." Tolak Will, Keduanya berjalan keluar diantar oleh kedua orang tua yang katanya dewasa, tapi nyatanya hanya suka memaksa.
Gisha hanya diam disepanjang perjalanan di dalam mobil, tanpa dia sadari dia terus menggenggam lengan Will. Mau ceria bagaimana? Adik satu-satunya yang selalu ada dipihaknya pergi tanpa pemberitahuan apapun, pergi tanpa izin, meninggalkan tanpa salam. Seperti luka yang tak berdarah, Gisha berakhir kecewa.
Drttt
Ponsel di saku jas Will bergetar, pria itu segera melihatnya. Diam sebentar, sebelum akhirnya mengangkat telepon itu.
Gisha tidak peduli, siapapun yang menelpon itu, tidak ada pengaruhnya untuk mood buruknya saat ini.
"Ya, aku mengerti." Will segera menutup teleponnya lagi.
"Adamson, putar balik, kita akan ke Gudang sekarang." Perintahnya pada sang supir di depan sana.
"Baik Tuan." Adamson mengangguk mengerti, satu perintah sudah turun, dan harus dilaksanakan.
Gisha langsung tersadar, dia melirik ke arah William. "Bukannya harus ke tempat kakek ya? Kalau dibatalkan lagi nanti kita bisa kena amuk."
"Udah dibatalin pertemuan hari ini."
"Itu gak bohong? Nanti kita ditipu lagi."
"Itu Kakek sendiri yang menelpon, jangan khawatir, beliau hanya sibuk. Saat senggang, dia pasti menemui kita."
__ADS_1
Gisha mengangguk mengerti, kalau informasi dari yang bersangkutan sendiri, tidak mungkin ada kebohongan kan?
"Terus Gudang itu maksudnya apa? Kenapa kita kesana?" Tanya Gisha lagi, sedikit penasaran, dia lupa mungkin William tidak akan menjawabnya.
"Cari Asisten Rumah Tangga. Aku gak mau kamu cape, nanti kalau kamu hamil biar gak bingung cari asisten lagi."
"Tapi aku belum hamil, dan aku gak mau punya asisten rumah tangga. Aku bisa masak, bisa bersihin rumah itu sendiri, rumah itu juga gak besar-besar banget, aku gak mau punya asisten rumah tangga." Protes Gisha lagi. Tentu saja dia menolak, dia sudah merasakan ketenangan dan kenikmatan dari sendirian di dalam rumah itu. Akan sangat mengganggu kalau ada orang lain juga di dalamnya, Gisha merasa tidak nyaman.
"Kamu harus mau dan kita harus punya asisten rumah tangga. Gisha, tidak boleh menolak kali ini." Tegas William, tapi masih dengan senyuman manisnya yang sejuta makna.
"Kenapa maksa banget sih? Itu selingkuhan kamu? Mau masukin dia ke rumah jalur asisten rumah tangga?" Entah kenapa, Gisha tiba-tiba berpikir begitu. Pergi kemana rasa takut yang sebelumnya. Mungkin karna dia benar-benar tidak menginginkan asisten rumah tangga.
William melirik Gisha, kali ini dengan lirikan tajam tanpa senyuman lagi. Membuat seluruh badan Gisha kaku seperti batu. Dalam sedetik dia menyesal telah mengatakan itu, hingga mengundang William mode dingin.
"Maaf." Ujar perempuan itu lagi, saat dia tau, dia dalam posisi tidak bisa melawan.
"Jangan pernah mengatakan itu lagi, atau bahkan berpikir begitu. Kau, satu-satunya dan untuk selamanya. Dan Asisten rumah tangga, kita tetap harus punya. Ayo turun, kita sudah sampai. Pilih sendiri asisten seperti apa yang kau mau."
Tanpa Gisha sadari mobil sudah berhenti beberapa detik yang lalu, berhenti di depan sebuah rumah sederhana, tapi besar dan bertingkat tiga, tidak mewah, tidak cerah, tidak juga mencolok.
'Apa ini? Rumah kumpulan orang-orang aneh? Lagipula siapa yang mau asisten rumah tangga! Aku gak mau! Aku suka sendiri di rumah itu! Kan yang mau kamu! Kamu aja pilih sendiri!'
Meskipun begitu, Gisha tetap turun dengan tangan yang digandeng oleh William. Ah, William tidak ingin melepaskannya sama sekali, bahkan rangkulannya lebih erat dari sebelumnya.
Gisha sendiri hanya diam, dia tidak tertarik mengatakan apapun. Tugasnya sekarang kan hanya diam, tenang, dan menurut saja, dia kan boneka.
"Kau boleh pilih berapapun." Ujar William lagi saat dia sampai di depan pintu rumah itu.
Adamson langsung membukanya tanpa membunyikan bel apapun.
Bukhh! Tukhh!
Seketika Gisha melihat orang-orang yang semula duduk mulai panik wara wiri berbaris di kanan dan kiri membentang jalan untuk William, mereka menunduk dengan penuh ketakutan dan hormat. Gisha sadar akan hal itu, dia mengerti, terkadang Gisha juga merasakan hal yang sama dari tekanan yang William punya.
Padahal tadi mereka masih sibuk bermain kartu, mengelap pedang, menggosok pistol dan senapan. Tapi semua mendadak rapi saat William melangkah masuk. Banyak orang disini, baik perempuan maupun laki-laki.
Jantung Gisha berdegup begitu kencang, dia takut. Bagaimana tidak, di berbanyak tempat tergeletak aneka senjata dari yang biasa Gisha lihat di film, sampai yang tidak pernah Gisha lihat.
__ADS_1
Gisha tau sejak menghabiskan waktu dengan Will, dia sadar bahwa suaminya bukan orang biasa, dan William adalah orang yang mengerikan. Ada yang tidak normal dari William. Tapi dia tidak tau, suaminya berkaitan dengan hal-hal seperti ini. Gisha tau, William terlalu banyak menyimpan rahasia.
"Aku ingin mencari asisten rumah tangga, istri ku terlalu lemah untuk pekerjaan seperti itu." Will duduk di sebuah kursi khusus, dia menarik Gisha untuk duduk di pangkuannya.
Gisha ingin menolak, tapi dia takut satu peluru itu bisa kapan saja menancap di tubuhnya bagian mana saja tanpa di duga arahnya darimana. Jadi menurut saja dan duduk di pangkuan orang itu.
'padahal yang fisiknya lemah itu dia! Kenapa malah menjual nama ku! Aku gak mau punya asisten rumah tangga!' jeritan hati Gisha benar-benar tidak di dengar oleh Will.
"Saya saja Tuan!" Ujar gadis berambut pendek yang berbaris di antara mereka. Gisha mengenalinya, itu gadis yang sama yang dia temui tadi pagi di rumah mereka.
"Saya juga bersedia!"
Tiba-tiba semua orang mengangkat tangannya.
"Harus perempuan." Tegas William dengan mata setajam elang yang siap memangsa kapan saja.
Semua pria yang semula angkat tangan, seketika menurunkan tangannya sembari menunduk.
"Sayang, pilihlah yang mana yang kau suka." Suara William berubah seratus delapan puluh derajat. Dari yang super dingin, menjadi super hangat.
"Terserah." Gisha mengangkat bahunya. Dia gak tau, dia gak peduli, toh itu bukan keinginannya, kenapa harus dia yang memilihnya?
"Hoo terserah ya?"
Gisha mengangguk tanpa suara, wajahnya tidak peduli.
"Kalian semua dipecat, sikap kalian sangat tidak sopan sampai istriku tidak mau memilih kalian. Sepertinya kalian benar-benar mengecewakan." Will melirik sinis ke setiap bawahannya.
Gisha tersentak seketika, dia membulatkan matanya menatap suaminya. Mana dia tau jawaban seperti itu akan membuat banyak orang kehilangan pekerjaannya.
"Tu-tuan, kami salah, maafkan kami, dan silahkan hukum kami." Semuanya berteriak, berlutut seketika.
"Will! Kenapa dipecat?!" Gisha tidak percaya suaminya akan mengatakan hal itu.
"Kan kau tidak suka, buat apa ada mereka."
"Suka!! Aku pilih gadis rambut pendek itu! Jangan pecat mereka." Refleks Gisha menunjuk gadis itu, hanya karna gadis itu yang Gisha kenal.
__ADS_1
"Baiklah, sesuai kemauan istriku. Kalian semua tidak jadi dipecat." William tersenyum ramah, senyuman aneh seperti biasanya.
Semua bawahan juga lega, mereka melihat Gisha bak malaikat yang entah turun darimana, berhasil menyelamatkan mereka dari sang raja iblis.