
Dering ponsel milik Ayara terdengar, nama Iren terpampang dibenda pipih tersebut. Iren akhirnya menghubungi Ayara setelah satu hari tanpa kabar yang pasti.
"Hallo Ren" sapa Ayara.
"Ay, temenin gue belanja yuk" ajak Iren.
"Jemput" pinta Ayara.
"Yoi!" saut Iren cepat.
"Gue tunggu, jangan lama gue banyak kerja!" ucap Ayara.
"Alah kaya udah jadi direktur aja buk. Bokap lo aja nyantai" saut Iren malas.
Penggilan singkat itu segera Aya akhiri, gadis itu memilih bersiap-siap dan memikirkan apa yang gadis itu perlukan. Aya tidak mau membeli sesuatu yang tidak penting karna dia harus hemat pengeluaran.
Beberapa saat kemudian, suara mesin mobil terdengar dari arah bawah. Ayara membuka gorden kamarnya melihat mobil siapa yang datang berkunjung. Gadis itu segera turun saat mendapati itu adalah mobil milik Iren.
"Mau kemana?" tanya Keyyle.
"Nemenin Iren" jawab Ayara.
"Iya, nemenin kemana?" tanya Keyyle lagi.
"Umm, mungkin mall" jawab Ayara.
"Oh, mama titip belanja bulanan ya sayang. Nih catatan dan uangnya" ujar Keyyle.
Ayara menerima semua dan memasukan semua kedalam tas yang gadis itu kenakan. Penampilanya terlihat sederhana namun berkelas dan elegen, seorang nona muda yang tidak suka menghamburkan uang, itulah Ayara Valerie Richart.
"Lama nunggu?" tanya Aya basa basi.
__ADS_1
"Basa basi banget, tapi basi" ucap Iren acuh.
"Yee lo mah gaseru!" rajuk Ayara.
"Haha, yaudah masuk gih!" perintah Iren.
Perjalanan dari rumah Aya menuju mall, akan menghambiskan waktu kurang lebih 24 menit karna pasti mereka akan terjebak macetnya jalan raya ibukota. Bagi yang sudah tinggal lama di ibukota pasti tidak heran dengan yang dinamakan macet, tapi bagi yang tidak terbiasa mungkin akan menjadi kesal karna terlalu lama menunggu.
Kepadatan jalanan tidak bisa dipungkiri lagi, itu adalah fakta yang mungkin harus diatasi demi kenyamanan pengguna jalan. Caranya harus bisa mengatur waktu dengan benar, dan memastikan kemana tempat tujuan dan lama waktu yang akan ditempuh.
Setelah tiba di mall mereka segera mencari tempat parkir yang kosong, cukup lama Iren berkeliling karna hampir semua penuh.
"Yaudah, ayo masuk" ajak Iren.
Keduanya berjalan berdampingan dengan berbincang hangat, Iren juga bercerita kenapa dia tidak menghadiri sekolah. Ternyata rumah Iren mengalami ronofasi keseluruhan hingga gadis itu harus membantu orangtuanya memindahkan barang barang.
"Ehh bagusan warna biru apa merah Ay?" tanya Iren.
"Yakali serem lo pikit hantu!" balas Iren.
"Situ yang nanya pendapat gue kenapa sewot sih!" ucap Aya tidan mau kalah.
Iren hanya memutar bola matas malas, dia berpikir tidak akan habis jika meladeni ucapan Ayara. Bener ya, orang yang memiliki tampang dingin dan irit bicara, jika sudah mau bebicara maka dia tidak mau ngalah.
"Woe ada maemunah!" ucap seorang pria.
Kedua gadis itu berbalik keasal suara yang tidak asing bagi mereka, tatapan kesal tiada terkira ditujukan kepada empu yang punya suara. Tapi didetik berikutnya Iren menjadi histeris melihat orang itu ternyata sedang menggandeng tangan seorang gadis.
"WOY ARKA! DIA PACAR LO YA? KOK ADA CEWE YANG MAU SAMA COWO TENGIL KEK LO YANG BAHKAN KETENGILANYA UDAH DIAKUI OLEH PLANET JUPITER!" teriak Iren.
Baik Arka maupun Aya sama sama mendesis karna suara cempreng Iren, sementara sang gadis hanya tersenyum malu membuat Iren membelalakan mata karna sepertinya kenal dengan gadis itu.
__ADS_1
"Bukanya lo Desya Amelia?" tanya Iren.
"Iya, hehe" jawab Desya.
"Ehh kok lo mau sama Arka? dia kan jelak, buliq, nyebelin, dan semua yang buruk deh!" ucap Iren antusias.
"Eh maemunah! mulut lo pengen gue peres terus gue jadiin jus jeruk deh!" saut Arka.
"Udah ah berisik benget sih! diem napa? ohiya lo ngapain disini?" tanya Ayara kepada Arka.
"Ya ngedate lah!" jawab Arka bangga.
"Woah bagus bagus! kita berdua kan belum dapet pajak jadian jadi lo harus bayarin belanjaan kita ya!" ucap Ayara berbinar.
Mendengat ucapan Ayara membuat Arkasa membelalakan matanya, sedangkan Desya hanya diam karna dia memikirkan rumor yang mengatakan jika Ayara adalah gadis miskin. Tapi dengan Arka yang menjadi sepupunya, sepertinya rumor itu salah.
"Ayara Valerie Richart, lo pikir deh. Bokap lo duit nya melintir tak terkira ehh anaknya malah majakin anak orang. Huhuhuhu sedih deh nasib gue" ucap Arka dramatis.
"JIJIK KA!" Ucap Aya dan Iren kompak.
Pria itu hanya mendengus kesal karna kedua gadis itu sepertinya memiliki dendam pribadi denganya, lihatkan wajah mereka yang seakan ingin memakan dirinya hidup hidup, udah kaya predator anying.
"Richart?" ucap Desya kaget.
Ucapan kaget Desya membuat mata ketiga cecuguk itu menatap kearahnya, sepertinya rahasia identitas Ayara tidak akan bertahan lama disekolah. Cepat atau lambat pasti akan diketahui dan disebar oleh seseorang yang tidak bisa jaga rahasia.
"Haah, iya gue anak Abraham Richart. Tolong lo rahasiakan identitas gue, gue mohon sama lo kakak ipar!" ucap Ayara pelan.
Wajah Desya menjadi memerah karna Ayara memanggil dirinya kakak ipar yang berarti gadis itu menyetujui hubunganya dengan Arka, si pria tengil dan mulut lemes.
Sama sekali tidak pernah Desya pikirnya jika dia akan menjalin hubungan dengan Arkasa yang sudah dia sukai sedari Smp. Padahal kala Sd mereka bak tom and jerry yang tidak pernah akur, benci jadi cinta? sepertinya itulah yang mereka berdua alami.
__ADS_1
Enjoy guys!