
"Kondisi pasien saat ini tengah kritis, dan mungkin akan mengalami koma" tutur Dimas.
Kaki Abraham bergetar mendengarnya, Iren dan teman Ayara yang lain sudah bercucuran air mata. Sementara Juanda menatap tidak percaya kearah dokter Dimas.
"Ti-tidak mungkin!" bantah Bio
"Jangan bercanda!" teriak Juanda.
"Kau pasti salah!" ucap Abraham lirih.
"Maaf tuan, tapi kami tidak membohongi mau keluarga pasien" ucap Dimas.
"Tenanglah nak, dokter tolong berikan calon menantu saya penanganan terbaik!" pinta Herman dengan suara tegasnya.
"Baik tuan" jawab Dimas gugup.
Bagaimana dia tidak gugup jika banyak mata yang menatap dirinya seakan ingin membunuh, apalagi orang orang itu bukanlah orang sederhana. Berhadapan dengan orang berkuasa ternyata memiliki kesan berbeda.
"Apakah saya bisa melihat putri saya?" tanya Abraham dengan suara lemah.
"Silahkan tuan tapi saya sarankan agar masuk secara bergilir" ucap dokter Dimas.
"Bio" panggil Abraham.
__ADS_1
Pria itu tidak mendengar perkataan Abraham, tubuhnya bersandar pada dinding rumah sakit dengan kaki bergetar seperti akan tumbang. Adiknya koma? apakah bisa Bio saja yang koma jangan adiknya? kenapa adiknya bisa mengalami hal hal seperti ini.
"Ta-tapi belum pasti bukan jika Aya koma? dia masih dalam pengarush obat, belum tentu Aya koma!" tutur Bio parau.
"Saya pasti akan mengusahakan yang terbaik untuk nona muda Richart" kata Dimas.
Yang pertama masuk adalah Abraham dan Bio, keduanya menangis dalam diam melihat Ayara terbaring dengan wajah pucatnya. Bella Utami Sadewa tidak akan bebas dari tangan Abraham dan Bio. Gadis itu membangunkan harimau dalam diri kedua pria tersebut.
Ayara Valerie Richart, gadis itu adalah berlian bagi keluarga Richart. Tidak pernah sekalipun Abraham melukai hati putri kecilnya, putrinya adalah gadis yang mandiri dan tidak suka jika seseorang mengasihaninya. Aya gadis kuat pasti dia akan segera sadar!
~~
Hari telah malam semua orang sudah pulang kerumah masing masing. Hanya Keyyle dan Iren yang tetap berada menunggu Ayara.
Juanda awalnya ingin tetap dirumah sakit, tapi tidak diizinkan oleh Herman karna alasan sekolah. Abraham juga menyarankan pulang karna pria itu pasti lelah.
"Kenapa lo belum sadar? satu hari penuh lo tidur, apa tidur begitu menyenangkan?"
"Gue kangen suara lo Ay! semoga besok pagi lo sudah membuka mata" lirihnya.
"Nak tidurlah, Aya pasti akan sadar besok" tutur Keyyle. Wanita itu sangat terpukul saat mendengar kabar putrinya koma. Tapi dia tidak ingin sampai Iren turut sakit karna tidak beristirahat yang cukup.
"Baiklah tante" jawab Iren pelan.
__ADS_1
Gadis yang menjabat sebagai sahabat Ayara itu sudah seperti anak bagi Keyyle. Hatinya akan lebih terpukul jika kedua putrinya yang cantik itu terbaring direnjang rumah sakit.
Kenapa tuhan memberikan cobaan sebesar ini pada keluarganya. Wanita itu sangat sedih ketika membayangkan bagaimana sakitnya terkena tembakan timah panas. Kepana tidak dirinya saja yang tertemak? kenapa harus Aya putrinya? pasti Aya merasa kesakitan.
~~
Paginya Aya belum juga terbangun, gadis itu belum sadar tadi tidurnya yang mereka tidak tahu sampai kapan. Koma, satu kata empat huruf, tapi maknanya berjuta juta kesedihan.
"Semoga lo segera sadar. Gue tidak menjamin apakah nyawa Abbe akan tetap berada pada tempatnya" ujar Juanda pelan.
"Jangan gila Juan" ujar Gama.
"Maaf, adik lo sudah keterlaluan Gama"
"Sejahat apapun dia, dia tetap adik gue Juan. Dan ingatlah, lo memiliki hutang budi pada Abbe. Gue tidak akan melarang lo menyiksa Bella tapi jika membunuh, bukankah terlalu berlebihan" ucap Gama dengan ekspresi yang tidak bisa dijelaskan.
"Hahahaha, apa? hutang budi? Gama! bokap lo hutang nyawa terhadap keluarga Erlangga!"
"Apa maksud lo?" tanya Gama tidak mengerti.
"Dengar ini baik baik tuan muda Sadewa!"
Gama memasang telinganya dengan baik, beberapa saat kemudian matanya melotot tak percaya dengan ala yang dia dengar. Kenapa papanya sangat kejam? apakah keluarganya adalah keluarga pembunuh.
__ADS_1
Papanya seorang psikopat? dan ternyata papa Gama adalah pelaku dari?
"Tidak mungkin!"