
"Pembunuh sebenarnya adalah.."
DOR..
Sebelum Juanda menyelesaikan ucapanya suara tembakan terdengar, para siswa siswi berhamburan pergi menyelamatkan diri dari tembakan senjata api tersebut.
Namun, mereka tidak menyadari jika Ayara telah tertembak dan jatuh pingsan, untung saja Roni melihat gadis itu dan berteriak memanggil Juanda dan yang lainya untuk mendekat dan membawa Ayara ke rumah sakit terdekat.
Darah keluar dengan deras mengubah warna seragam yang gadis itu kenakan, Juanda mengambil Ayara dari dekapan Roni. Iren dan Gama mentajamkan pandangan mencoba mencari siapa sang pemegang pistol.
"Tangkap Bella cepat! gadis itu yang telah menembak Ayara!" teriak Aulia saat melihat Bella mencoba melarikan diri.
Teriakan Aulia membuat orang yang berjarak tidak terlalu jauh dari Bella manarik tubuh gadis itu dan menjatuhkan pistol yang ada ditangan Bella. Bella meronta tetapi yang menahanya kini berjumlah enam orang, tentu dirinya kalah jumlah dan tenaga.
Elang sendiri sangat terkejut karna Bella telah menembak orang yang dia cintai, walaupun Elang jahat tapi pria itu tidak akan pernah berani bermain main dengam senjata api, apalagi sampai membunuh orang.
Iren menggigit bibir bawahnya panik, apa yang akan dikatakanya kepada Abraham? ini buruk. Abraham dan kakak Ayara pasti akan mengamuk saat mendengar berita ini.
Ingin merahasiakanya tidak bisa karna Abraham adalah ayah kandung Ayara, lebih baik Iren memberi tahukan Keyyle terlebih dahulu agar pikiranya sedikit jernih, kalau berbicara dengan Abrahan, pikiran Iren akan tambah pusing karna amarah Abraham.
"Ha..halo tante" ucap Iren bergetar.
Ponsel gadis itu turut begeter hingga nyaris jatuh dari genggaman tangan Iren, Keyyle mengerutkan dahinya heran dengan suara Iren yang terdengar panik, khawatir, takut, dan sedih yang menyatu menjadi satu.
"Ada apa Ren?" tanya Keyyle tenang.
__ADS_1
"Datang ke.. ru..mah sakit xx se..gera" gugup Iren, gadis itu tidak berani mengatakan yang terjadi karna tidak ingin melukai hati Keyyle dari sambungan telepon.
Sebelum Keyyle menyauti ucapanya Iren mematikan sambungan telepon dan pergi bersama ambulance yang baru tiba, sungguh ini adalah saat yang paling mengerikan dalam hidup Juanda maupun yang lainya.
Ketika tiba dirumah sakit Juanda segera membentak perawat untuk segera membawa Ayara untuk ditangani, timah panas dari pistol milik Abbe terkena dada kiri gadis yang dia cintai itu. Juanda tidak akan mau memaafkan Abbe atas perbuatanya hari ini.
Beberapa menit berlalu tetapi dokter yang menangani Ayara belum keluar dari dalam ruangan operasi.
"Juanda, Iren ada apa? kenapa kamu harus kerumah sakit? dan dimana Ayara?" suara Bio terdengar membuat kepala Iren tertunduk.
Airmata Juanda turun membasahi kedua pipi pria itu yang membuat kaget Bio, Abraham, dan Keyyle. Ada apa yang terjadi? dimana Aya sekarang? kenapa gadis itu tidak terlihat.
"Ini semua salah Juanda, Juanda tidak dapat menjaga Aya" ucap Juanda berlutut dikaki Abraham membuat yang punya kaki kaget.
"Umm, tante sebenarnya" ucap Tirta ragu.
"Ada apa?" tanya Keyyle cepat.
"Maafkan kami semua karna sedikit ceroboh, tadi disekolah ada siswi yang membawa senjata api dan menembak Ayara" ucap Tirta dengan nada lirih dan pelan.
"APA?!" teriak Abraham dan Bio. Sementara Keyyle hampir terjatuh jika saka Iren tidak menangkap tubuh wanita cantik tersebut.
"Siapa yang melakukanya?!" teriak Abraham menggelegar memenuhi sesisi rumah sakit.
Tidak ada yang dapat mencegah ataupun mendekati Abraham karna mereka sangat tahu siapa pria tersebut, apalagi beberapa menit yang lalu vidio klarifikasi masalah berita pembunuhan Ms.Erlangga yang bukan salah Abraham Richart menyebar luas.
__ADS_1
2 jam berlalu tapi dokter tidak kunjung keluar, dirumah sakit sendiri hanya tersisa keluarga Richart, Juanda, Iren, Aulia, Jihan, Tirta, Lily, dan Herman Erlangga yang baru tiba.
Abraham dari tadi mondar mandir didepan ruangan operasi putri tercintanya, Bella Utami Sadewa, awal saja gadis itu nanti! Abraham tidak akan melepaskanya dengan mudah. Bella sendiri kini berada dikurungan khusus ruang bawah tanah keluarga Erlangga.
Keyyle sendiri sudah dari tadi tidak sadarkan diri dan dirawat diruangan VVIP rumah sakit untuk beristirahat dan menenagkan pikiran wanita itu. Ibu mana yang tidak sedih ketika mendengar kabar putrinya tertembak.
"Juanda, tolong biarkan saya sendiri yang menghukum gadis Sadewa itu nanti!" ujar Abraham dengan nada amarah yang jelas.
"Ba..baik om" gugup Juanda.
Sosok pria berkepala empat yang berdiri tepat didepan ruang operasi Ayara kini sangat berbeda dengan Abraham Richart yang kemarin dia temui. Wajah hangatnya berubah menjadi wajah penuh amarah.
Ternyata benar jika Abraham adalah sosok menyeramkan seperti rumor yang selama ini tersebar diseluruh negara ini. Pria itu memiliki tampang yang tegas dan berwibawa, walau usianya sudah tidak lagi muda namun aura yang terpancar sangat kuat, ditambah wajah Abraham yang tampak masih muda.
Ceklek...
Pintu ruangan terbuka, dokter dan beberapa perawat keluar dengan wajah lega, mata sang dokter terbelalak saat melihat wajah sangar pria yang sangat dia kenal, bagaimana bisa orang pertama yang dia lihat setelah selesai menangani pasien adalah pria dingin ini.
"Tu..tuan Richart kenapa a...anda ada disini?" tanya sang dokter yang bername tag Dimas.
"Bagaimana kondisi putriku?! apakah dia baik baik saja?! jika terjadi sesuatu kepadanya aku akan membongkar rumah sakit ini?!" teriak Abraham dengan lantang.
Dokter Dimas dan perawat dibelakangnya sangat terkejut karna mengetahui jika gadis yang mereka tangani tadi adalah nona muda keluarga Richart yang terkenal itu.
"Kondisi pasien..."
__ADS_1