
Abbe dan Elang akan memulai tuduhan palsu mereka untuk Ayara, bukti bukti palsu sudah berada ditangan mereka. Tanpa mereka sadari jika perbuatan mereka akan menjadi malapetaka awal kehancuran mereka.
Bersakit sakit dahulu, bersenang senang kemudian. Ayara akan mengalami hal sama dengan pribahasa tersebut. Setidaknya gadis itu harus memiliki mental yang besar untuk menghadapi musuh musuhnya kali ini.
Juanda menjemput Ayara seperti biasanya, pria itu terus berusaha mencari muka agar memiliki kadidat kuat yang mendukungnya untuk menjadi pendamping hidup Ayara, pria itu terlalu berpikir kedepan padahal mereka bahkan masih duduk dibangku sekolah.
"Pagii tante" sapa Juanda
"Pagi nak Juan, masuklah ikut kita sarapan"
"Aduh jadi ngerepotin tante" ucapnya.
"Tidak perlu sungkan" jawab Keyyle lembut.
Keduanya masuk kedalam dengan wajah ceria, Keyyle sangat menyukai calon menantu seperi Juanda ini karna memiliki watak baik walau sedikit keras kepala. Wanita itu telah tertipu tampang polos Juanda.
"Ehh udah sampai" kaget Ayara, gadis itu baru saja ingin memulai sarapanya tapi dikagetkan dengan wajah sumringan kekasihnya.
"Makan aja aku tunggu"
Setelah makanan mereka telah habis, mereka langsung pergi menuju sekolah dengan mengendarai motor sport milik Juanda. Ayara sebenarnya memiliki ketakutan untuk manaiki motor tetapi dia singkirkan karna tidak mau diejek Juanda.
Sekolah mereka tengah ramai bergosip karna dimading terpampang besar dan jelas poster bertuliskan jika Abraham Richart adalah seorang pembunuh nyonya Erlangga. Siapa yang tidak terkejut? sebagian mereka parcaya dan sebagian lagi tidak percaya.
"Apa apaan poster itu? paman Abra adalah pria baik dan berbudi luhur!" kesal Iren.
__ADS_1
"Jangan termakan ucapan mereka, gue yakin paman Abra tidak seperti itu!" tambah Tirta.
Teman teman Ayara tentu saja menolak apa yang digosipkan sekolah mereka, bahkan para guru telah mengetahui kabar hangat itu karna sangat cepat tersebar.
Meski begitu mereka tidak ingin mengambil keputusan bodoh yang malah berakhir hidup menderita, berurusan dengan kelurga besar Richart terutama Abraham Richart, bukanlah sesutu yang baik.
Bagi mereka yang tidak menyukai Aya akan langsung membenarkan berita tersebut tanpa ingin menyelidiki dahulu, bukti yang dimiliki hanya berupa tulisan yang menyatakan jika nyonya Erlangga meninggal setelah kembali dari perusahaan Richart.
Ada yang beranggapan Abraham telah meracuni nyonya Erlangga, dan banyak lagi. Juanda dan Ayara sangat kaget mendengar berita tersebut. Kebanyakan teman dikelas Ayara tidak percaya dan mendukung Ayara.
Roni Wiranto, pria itu menggunakan situasi ini untuk memanas manasi kedua belah pihak, tetapi lebih mendukung berita tersebut karna merasa tidak suka akan sikap Aya kepadanya, pria itu sungguh tidak tahu malu.
"Gue tidak pernah berpikir jika Abraham Richart yang terhormat adalah pembunuh!"
"Dasar keluarga hi*a!"
Berbagai cacian terdengar jelas ditelinga Ayara, Juanda hanya diam karna dia tahu yang sebenarnya terjadi. Dia bersyukur karna papanya lebih dulu memberi tahu dirinya jika tidak, pasti dia telah termakan gosip murahan yang beredar disekolahnya.
"Media pasti akan heboh" lirih Ayara.
"Apa benar papa pembunuh?" tambanya.
"Hustt! jangan didengarkan merekalah orang hina karna telah menghina tanpa bukti" tutur Juanda lembut.
"Kamu tidak marah? maksudku, berita itu menyangkut bundamu. Seharusnya kamu akan marah dan membenciku" lirih Ayara.
__ADS_1
"Atas dasar apa aku harus marah? itu hanya berita murahan, jikapun benar yang salah adalah papamu bukan dirimu" jelas Juan.
"Terimakasih" balas Ayara terisak. Gadis itu merasa beruntung karna Juan tidak akan turut membenci dirinya.
Setiba dikelas Aya disambut tatapan iba dari teman teman kelasnya, hanya beberapa saja yang percaya akan gosip dan lebih banyak tidak percaya gosip murahan seperti itu.
"Yang sabar Ay pelaku yang sebenarnya pasti akan tertangkap!" ucap Lily.
"Benar! kita akan selalu percaya dan siap membantu lo Ay" tampan Gibran.
"Lo jangan termakan ucapan mereka karna mereka hanya dapat menghina tanpa tahu sehina apa diri mereka sendiri!" kata Alyne.
"Benar itu!" tambah Laras.
"Aya semangat!" seru Jihan dan Aulia.
"Lo pasti bisa! anggap saja ini ujian yang akan segera berlalu" timpal Iren.
"Teriakasih teman teman" ujar Ayara tulus.
Gadis itu tidak dapat membendung air matanya lagi, dia sangat merasa beruntung karna mendapat teman yang selalu percaya dan siap membantu dirinya. Mereka pasti akan mendapat upah atas perlakuan mereka, ingatlah jika tuhan tidak tidur.
Satu kelas mendekat dan memeluk tubuh Aya dengan kata hiburan untuk menyemangati gadis cantik itu. Juanda ikut terharu atas kekompakan mereka semua, keputusanya untuk kembali ke Indonesia adalah keputusan terbaik yang pernah dia ambil.
Konflik udah mulai nihh hahaha. Terus dukung author dengan kasih like dan vote kalian, author akan lebih semangat nulis!
__ADS_1