Masa Remaja Ayara

Masa Remaja Ayara
Kesedihan


__ADS_3

Mulut Roni terbungkam melihat Juanda karna dirinya sama sekali tidak bisa dibandingkan dengan keluarga Erlangga yang terkenal akan cara membisnis yang hebat dan kejam.


"Hai Ay, Ren" sapa Juan hangat.


"Juan, cowo brengsek ini menghina Aya" ucap Iren mendramatis membuat Aya menatap gadis itu tajam.


Ayara hanya bisa diam, lidahnya terasa keluh untuk sekedar berbicara apalagi ada Roni dihadapanya. Sumpah demi apapun, lelaki itu adalah pria yang paling Aya hindari adanya. Rasa kecewa dihati Aya terlalu besar apalagi setelah dia mendengar jelas alasan kenapa Roni berselingkuh dengan teman Aya dulu.


"Siapa nama lo?" tanya Juan dingin.


Kepala pria itu menunduk karna tidak ada keberanian untuk menatap Juanda, karna pria itu merasa jika dia menjawab maka masalah akan menjadi semakin besar. Roni tidak ingin Juanda menjadi boomerang untuknya juga untuk keluarganya nanti.


"Ma..maaf" ucap Roni gugup.


Dengan bisa membuat sikap Roni berubah sedemikian rupa, dapat dipastikan sudah jika latar belakang Juanda tidak sesederhana penampilanya, walau tidak dapat dipungkiri jika semua barang yang Juan pakai adalah barang bermerk dan terbatas adanya.


"Gue mohon jangan memperbesar dan memperkeruh keadaan" ucap Ayara lirih.

__ADS_1


Terdengar lirih tapi seperti mutlak sehingga baik Juanda dan Roni tidak berani berkata- kata lagi. Pikiran gadis cantik itu sungguh sudah sangat pusing, tugas sekolah sudah cukup membuatnya pening.


"Permisi"


Dengan cepat Roni pergi setelah mendengar ucapan mantan kekasihnya, sebenarnya dia merasa kesal dan tidak terima karna ucapan Aya seperti memerintah dirinya. Tidak dapat dipungkiri jika Roni tidak tau identitas asli Ayara, andai saja dia tau mungkin dia akan berpikiran ratusan kali untuk mengatakan hal seperti tadi kepada Ayara Valerie.


Melihat Roni yang sudah semakin menjauh, ketiga orang disana hanya terdiam karna suasana canggung yang dicpitakan oleh dua orang yang tidak tau seperti apa perasaanya. Juanda sibuk mencari kata-kata yang pas untuk meminta maaf karna dia sudah dengan tidak tahu malunya mengaku sebagai kekasih hati Ayara.


"Maaf, gue tadi gaada maksud mau bicara gitu tapi cowo tadi brengsek dan harus diberi pelajaran" ucap Juanda canggung.


Senyuman tulus terbit dikedua sudut bibir tipis Ayara, untuk pertama kali bagi Juanda melihat senyum manis dan tulus dari Ayara. Dengan tersenyum membuat pesona gadis itu bertambah dua kali lipat.


"Kalau begitu kita permisi ya" saut Iren cepat.


Biasanya Iren akan menjadi cerewer jika berhadapan pria tampan seperti Juanda tapi minus Elang. Juanda hanya mematung saat memandangi punggung Aya yang perlahan menghilang diikuti Iren disampingnya.


"Apa ini? apa mungkin gue sudah jatuh cinta kepada Aya? bagaimana dengan perasaan gue kepada Abbe?" gumam Juan pelan.

__ADS_1


Suasana hati pria itu mendadak kacau saat menyebut kedua nama perempuan itu. Disatu sisi ada Bella/Abbe yang sudah menjadi cinta pertama Juanda Erlangga, dan disisi lainya ada Ayara Valerie yang sudah menjadi gadis pertama yang membuat hati Juan berdebar.


Setelah terdiam cukup lama, pria itu hendak pulang karna hari juga sudah gelap. Juanda mengendarai motor besar miliknya yang tidak pernah disentuh orang lain selain dirinya.


Dirumah dia hanya diam, rumah milik Juan sangat besar tapi tidak ada cahaya kehidupan didalamnya. Rumah ini hanya ditempati oleh Juan dan papanya Herman. Hubungan kedua pria itu juga tidak dalam kondisi baik setelah kepergian mama Juanda.


Alasan itu karna Juan merasa kecewa pada papanya karna tidak hadir saat proses pemakaman mama Juanda dilaksanakan. Pria itu tidak ada kabar disaat Juanda membutuh kan sandaran dan pelukan seorang ayah.


"Bisakah kamu mengucapkan salam dan tidak mengabaikan keberadaan saya! ingat Juan saya papa kamu!" bentak Herman.


Langkah kaki Juan berhenti tepat sebelum dia menaiki anak tangga pertama, seringaian muncul saat mendengar perkataan Herman. Dia membalikan badanya dan menatap tajam kepada papa yang dia pikir adalah pahlawan.


"Ayah? are you kidding? dimana anda saat mama akan dimakamkan diperistirahatan terakhirnya? dimana anda saat saya sedang membutuhkan sandaran dan pelukan seorang ayah?! dimana!!" teriak Juanda menggebu.


Herman terdiam, dia sangat ingin memeluk Juanda saat ini tapi bisa saja Juanda akan memukul dan mengatakan hal yang hanya akan menyakiti hatinya jika dia memeluk Juan saat ini. Herman cukup mengenal anaknya.


Tidak mendapat jawaban dari Herman cukup membuat Juanda sadar jika ayahnya tidak menyayangi dirinya dan mencintai mamanya. Kesalah pahaman terjadi diantara keduanya yang entah kapan habisnya, tidak seharusnya ayah dan anak bertengkar terus menerus.

__ADS_1


Melihat punggung Juanda yang perlahan menjauh menaiki anak tangga menuju kamar miliknya membuat Herman tersenyum kecut. Tidak ada ayah yang tidak sedih mendengar perkataan buruk anaknya apalagi Juanda adalah anak semata wayangnya.


"Andai kamu tau nak, pembunuh mamamu bukan orang yang sederhana, jika papa saat itu hadir dipemakaman mamamu maka papa juga akan melihatmu terbunuh" gumamnya.


__ADS_2