
Juanda memandang Abbe dengan wajahnya yang dipenuhi amarah. Gadis dihadapanya ini adalah pelaku yang telah menembak Ayara. Siapapun yang menyakiti gadisnya (Ayara) akan mendapatkan hukuman darinya.
"Gimana kabar lo" tanya Juan basa basi.
"Baik, lo kesini pasti mau bebasin gue kan? iyalah orang gue cinta pertama lo dan gue tetap akan lo cintai!" ucap Abbe.
"Terlalu percaya diri" sinis Juanda.
"Apa maksud lo? gue benar kan?" tanyanya.
"Dengar ini Bella. Gue mencintai Ayara dan akan selalu mencintai Ayara. Lo cuma masa lalu gue yang menghilang tanpa kabar, tidak ada sedikitpun dihati gue tempat buat lo jadi berhentilah berharap!" bentak Juanda.
Bella terdiam memandang sendu pria yang baru saja membentak dirinya. Bella adalah tipe gadis yang muda mengeluarkan air mata jika ada yang melukai hatinya.
"Lo jahat!" teriak Bella.
Wanita itu terisak membuat Junada terkejut, tapi apa pedulinya? mau Bella matipun Juan tidak akan memiliki simpati padanya. Semua ini pantas untuk Bella karna gadis itu harus bertanggung jawab atas perbuatanya.
DOR..
Darah mengalir dari kaki gadis itu, Juanda merasa puas ketika jeritan Bella terdengar di telinganya. Perasaanya menjadi sedikit lega karna sudah membalas perbuatan Bella. Tapi ini masih belum cukup, gadis itu masih harus mengalami penyiksaan.
__ADS_1
"Sakit" ringis Bella.
"Nikmati rasa sakit itu, dua hari lagi gue akan kembali untuk menyiksa lo. Semoga lo masih bernafas!" kekeh Juanda.
Rasa tidak percaya memasuki hati Bella, pria ini terlalu kejam. Kenapa tidak ada yang mengatakan padanya jika Juanda Erlangga bukanlah pria yang baik.
Oh astaga, Bella ingat gosip yang dia dengar saat berada dikantim Juanda. Rumor yang mengatakan jika Juanda adalah pria kejam san dingin ternyata benar? lihatlah wajah pria itu yang tampak sangat tenang setelah menembak kakinya.
Berbeda dengan Bella yang menjadi panik setelah melepaskan timah menuju dada Aya. Nasi sudah menjadi bubur dan sesal sudah tidak berguna kini. Dia berharap Juan tidak membunuhnya dan memaafkan perbuatanya.
"Ayo masuk!" bentak seseorang.
Juan dan Bella menoleh keasal suara, mata wanita itu melotot melihat papa, mama, dan Elang diseret oleh Gama dan Bio kakaknya Ayara. Gama terlihat biasa saja menyeret ibu kandung Bella yang menjadi ibu tiri untuk Gama dan Elang.
"Awalnya gue mau nyelamatin lo Bel, tapi saat gue mengetahui fakta jika pembunuh bunda Juanda adalah papa. Gue langsung berubah pikiran, mama gue pernah berkata untuk gue selalu menjunjung tinggi kejujuran!"
"Kurang ajar lo Gama! dia papa kenapa lo begitu tega?!" teriak Elang.
"Dan kenapa lo tega menghancurkan nama baik Abraham Richart?" tanya Gama santai.
"Lo-!" Elang menggertakan giginya.
__ADS_1
"Sudah selesia debatnya?" sindir Bio.
Lelaki itu menarik Elang dengan kasar menuju penjara yang sudah didesain khusus. Entalah apakah penjaga ini bisa dibobol karna penjara ini dirancang dengan tegangan listri tinggi.
Sandra mereka kali ini adalah seluruh orang keluarga Sadewa kecuali Gama seorang. Ini cukup bagi Bio karna dia bisa menyiksa Abbe sepuas hatinya. Target Bio adalah Abbe, Juan sendiri menargetkan semuanya kecuali ibu Abbe yang tidak terlibat rencana mereka.
"Kenapa kalian tidak menyiksaku?" tanya ibu Abbe dengan air mata bercucuran.
"Ini karna kau tidak terlibat dalam rencana mereka, suamimu telah meembunuh ibunda saya nyonya, Elang dan Abbe telah merusak nama baik tuan Abraham Richart, dan Abbe juga telah menembak Ayara Valerie Richart!" jelas Juanda dengan nada santai.
Kedua tangan dan kaki keluarga itu dirantai, Gama sebenarnya tidak tega, tapi mereka telah membuat kesalahan. Papanya adalah pembuat kesalahan paling besar karna beliau telah membunuh bunda Juanda.
"Maafkan Gama pah, tapi ini karna kesalahan papa dimasa lalu" ucap Gama meneteskan air matanya yang telah membanjir.
"Kau tak salah,,,nak" ujar pria itu tersenyum.
"Gama, lanjutkan menangani perusahaan, papa akan mempercayakan ini kepadamu. Dendam telah membutakan hati papamu ini nak, papa adalah seorang pendosa. Maafkan papa nak tetapi papa adalah seorang psikopat dan daftar orang telah telah papa bunuh ada dibuku catatan dilaci lemari pakaian papa. Tolong beri mereka bantuan untuk meringan kan beban keluarga mereka" tutur Mr.Sadewa.
Penuturan papanya sungguh membuat Gama kaget, bukan hanya Gama tetapi semua yang ada disana ikut kaget. Bagaimana bisa pria itu merahasiakanya dengan begitu baik? Gama berpikir jika papanya hanya membunuh bunda Juanda, tetapi pikiranya salah.
Dirinya berjanji akan membantu keluarga korban yang telah papanya bunuh, mungkin dengan memberi mereka pekerjaan atau sembako yang meringankan beban. Tetapi Gama tidak ingin mengungkap fakta bahwa papanya adalah seorang psikopat. Dirinya tak ingjn papanya menjadi buronan polisi.
__ADS_1
"Gue mohon kalian bisa jaga rahasia" pinta Gama kepada Bio dan Juanda.
"Tentu saja!" jawab mereka kompak.