
Pagi yang cerah tapi tidak secerah suasana hati Ayara, gadis itu memakan sarapan milik dirinya dengan pandangan mata kosong. Tak ada kata yang keluar dari bibir pucat Ayara.
Gadis itu bersekolah diantar oleh sopir yang disipakan oleh Abraham, Juanda tidak dapat menjemputnya karna pria itu akan sedikit telat datang kesekolah. Setidaknya Aya masih memiliki teman untuk berbagi ceritanya.
Cacian yang menyambut gadis iru ketika sudah tiba disekolah, mulut siswa disekolah ini sungguh sangatlah tajam. Kenapa mereka begitu menyebalkan? Aya tidak suka mereka.
"Wah wah ada anak pembunuh disini!"
"Kenapa dia masih bersekolah? oh, dia sudah tidak memiliki urat malu!"
"Dasar anak pembunuh!"
"Ayahnya pembunuh berarti anaknya bisa juga dong membunuh! ishh serem"
"Gue takut nanti dia bunuh!"
"Cabut gengss nanti kita dibunuh!
Ayara menutup rapat telinganya dan bersabar mencoba menenangkan hatinya, jika dirinya melawan pasti mereka aka semakin menjadi untuk membully dan menghina dirinya.
__ADS_1
Dipertengahan jalan Ayara berjumpa dengan Arkasa dan Desya, kedua orang itu terlihat memandang sinis kepada Ayara. Aya berjanji untuk tidak akan mudah termakan ucapan Arka lagi walaupun dia adalah keluarganya.
"Hai anak pembunuh" sinis Desya.
"Ih beb jangan ajak dia bicara nanti kamu dibunuh loh!" ucap Arka tak kalah sinis.
"Upss, sorry"
"Lain kali jangan bicara dengan seorang anak pembunuh!" sindir Arka tajam.
Tuhan sedang memberi Ayara dan keluarga Richart sebuah ujian, dengan ini Aya dapat melihat seperti apa Arkasa Prayudah yang sebenarya, pria itu sangat menjijikan.
"AYA!" seru temanya kaget.
"Hei ada apa?" tanya Lily cemas.
"Hiks..kenapa Arka begitu tega?" isaknya.
"Pria brengsek itu!" kesal Aulia.
__ADS_1
"Bersabarlah, tunggu sebentar lagi!" ucap Lily.
"Lo kuat Ay lo bisa!" seru lantang Roni.
Sontak mata semua orang memandang sinis kepada Roni, pria itu masih memiliki wajah untuk berbicara kepada Ayara setelah pria itu membully habis habisan Ayara kemarin.
Tiba tiba suaa berisik terdengar dari arah lapangan utama sekolah, semua orang cepat berhamburan untuk melihat yang terjadi. Itu adalah Juanda, Iren, dan Gama. Ayara yang ikut serta melototkan matanya ketika melihat Juanda dan Iren.
"Hallo semuanya, hari ini kebenaran akan terungkap! dalang sebenarya akan ditangkap dan kalian akan membayar mahal semua perbuatan kalian!" seru Iren.
Bisikan terdengar yang lebih mengarah pada cacian untuk Iren, tetapi gadis itu malah memberi senyum sinis dan memandang Aya dengan menerbitkan senyum manis seolah isyarat 'kamu akan baik baik saja'.
Juanda dan Gama sudah menyiapkan semua dengan sempurnah, setelah ini keluarga Richart akan mendapatkan nama baiknya lagi dan dapat memberi tampara keras kepada mereka yang telah menjauhi mereka.
Gama membesarkan volume suara kepada sebuah pengeras suara, rekaman rencana jebakan Elang Sadewa untik Ayara terdengar dengan sangat jelas mengagetkan mereka.
Habislah mereka, Abraham Richart pasti tak akan membiarkan mereka menghiruf nafas bebas setelah ini. Perlakuan mereka kepada Ayara sudah melewari batasanya.
Wajah Arka memucat menyadari apa yang mungkin akan terjadi, Abraham dan Bio pasti tidak memaafkan keluarganya dan sudah pasti akan memutuskan hubungan keluarga Richart dan Prayudha.
__ADS_1
"Dengan ini sudah terbukti bahwa Abraham Richart bukanlah pembunuh bunda saya, tapi pembunuhya adalah...."