
Setelah pernyataan Juanda yang membuat heboh satu sekolah, Abbe dan Elang sudah memutuskan untuk bertemu digudang tua yang ada didekat taman sekolah.
Kedua kakak beradik itu ingin mengatur rencana agar menjauhkan Ayara dan Juanda, semua cara mereka gunakan demi mendapat apa yang menjadi obsesi mereka. Barambisi boleh tapi jangan sampai merugikan orang, namun sepertinya Elang dan Abbe hanya peduli kepada diri mereka sendiri.
"Bagaimana cara kita buat misahin mereka berdua kak?!" kesal Abbe.
"Tenanglah, kakak sudah mendapat cara dan bukti palsu untuk membuat hubungan Ayara dan Juanda renggang, kamu hanya perlu ikut alur cerita kakak" ucap Elang licik.
"Baik, aku akan mendengarkan apa rencana kakak selanjutnya!" timpal Abbe.
Mereka berdua terlalu asyik merencanakan rencana licik hingga tidak mengetahui jika seseorang menguping dan selalu merekam pembicaraan mereka, seseorang yang akan menjadi penyelamat hubungan Aya dan Juan adalah orang terdekat mereka berdua.
"Kalian berdua begitu licik, aku malu untuk mengakui jika kalian adalah saudaraku" ucap sesok tersebut miris.
Selesai dengan kata katanya sosok itu pergi meninggalkan gudang tua sekolah menuju kelas 11 Ipa2 untuk menemui seseorang yang menjadi patners dirinya mengungkap semua kebusukan saudaranya sendiri.
__ADS_1
"Bagaimana?" tanya sang gadis.
"Aman, ini rekaman pembicaraan mereka. Gue sungguh malu mengakui mereka sebagai kakak dan adik gue sendiri, huff!" kesalnya.
"Jadi mereka akan memulai aksinya besok? baiklah kita akan mengikuti alur dan lihat saja seberapa besar kepercayaan Juanda kepada Ayara, gue hanya tidak mau Ayara mendapat lelaki tidak baik" ucap gadis tersebut.
"Hmm, lo benar sekali. Gue tidak rela ada yang menyakiti Ayara walau Ayara tidak pernah menganggap gue ada" ujar sosok itu.
Mereka larut dalam pembicaraan mereka berdua tanpa mempedulikan keadaan sekitar mereka, waktu terus berputar hingga tidak terasa waktu pulang sudah mendekat.
"Mau beli permen kapas?" tanya Juanda.
Pria itu bertanya lantaran melihat penjual permen kapas didekat parkiran sekolah, Aya mengangguk senang karna sudah lama tidak dapat merasakan sensasi memakan permen kapas tersebut.
"Bang pesen satu ya" ucap Juanda.
__ADS_1
"Siap!" seru penjual permen kapas.
Angin sore hari sangat cocok untuk Ayara dan Juanda, keduanya tidak pulang kerumah karna ingin menghabiskan waktu bersama. Tentu saja Juanda sudah meminta izin pada Bio dan Abraham agar tidak khawatir.
Cuaca terlihat bersahabat, mereka berada di danau yang selalu menjadi tempat Juanda singgah jika merasa stres akan keadaan. Menjadi putra tunggal keluarga Erlangga tidak semudah yang dibayangkan, dibebenkan oleh status penerus membuat Juan kewalahan.
Jika saja dia memiliki kakak atau adik, maka dia akan memberikan hak miliknya dengan senang hati dan lapang dada. Namun semua hanya hayalan semata, dia tidak mungkin mendapat adik karna bundanya telah tiada dan ayahnya tidak menikah lagi.
Keputusan Herman sudah benar karna Juan tidak akan menerima jika pria itu menikah lagi dengan wanita selain bundanya, bukan egois tapi menurut Juan itu sepadan dengan apa yang ayahnya perbuat dimasa lalu.
"Suasa ini, adalah suasa yang menenangkan perasaan" gumam Juanda pelan.
Pria itu menoleh kesamping, terkekeh kecil karna kekasihnya ternyata sudah terlelap, mungkin karna udara sejuk disini yang dapat mendatangkan rasa kantuk seseorang.
"Menggemaskan!" ujar Juanda pelan.
__ADS_1