
"Mereka meninggal kenapa ?" Tanya Indah dengan penasaran.
Angga hanya menatap nya dan menghela nafas panjang, seperti merasakan kembali luka yang pernah ia rasakan dulu.
"Mereka kecelakaan di tol ketika hendak pulang dari urusan kerjaan dari luar kota, Ayah meninggal di tempat, sedang Ibu meninggal di rumah sakit setelah beberapa hari koma."
Mendengar cerita itu hati Indah ikut tersayat seakan hal itu terjadi pada dirinya.
"Sorry Ga aku tidak bermaksud untuk mengembalikan luka lama mu." Ucap Indah dengan penuh penyesalan.
“Tidak masalah, itu adalah takdirku, tidak usah merasa bersalah begitu. Akupun sudah menjalani hidupku seperti biasa. Awalnya memang berat, tapi lama-lama aku terbiasa dan memang harus begitu karna aku punya adik yang masih butuh perhatian dan kasih sayang ku.”
Begitu besar tanggung jawab yang dipikul Angga, sehingga membuat Indah semakin kagum dengan sosoknya.
"Ga, apa aku boleh tanya sesuatu ?" Tanya Indah.
Angga hanya mengangguk kemudian menunggu apa yang akan Indah tanyakan.
"Bagaimana perasaan mu pada ku setelah beberapa bulan ini kita sudah saling mengenal ?"
Pertanyaan Indah membuat Angga sedikit kaget sebab tidak memyangka bahwa Indah akan menanyakan hal itu dengan sangat cepat.
"Perasaan ku ? hufhh..... Sebetulnya tidak usah kau tanyakan lagi bagaimana perasaan ku pada mu." Ucap Angga.
__ADS_1
"Aku hanya ingin memastikan kalau kamu merasakan hal yang sama seperti yang aku rasakan."
"Memang nya apa yang kamu rasakan." Tanya Angga.
"Ich nyenelin." Gerutu Indah.
Angga hanya tersenyum melihat Indah yang sedang cemberut.
"Menggemaskan" Ucap Angga.
"Oke, aku jawab, jangan cemberut gitu dong."
"Ich aku kan serius"
Indah hanya bisa tersenyum bahagia mendengar apa yang di ucapkan Angga.
"Jadi...?" Tanya Indah.
"Jadi apa ?" Jawab Angga.
"Ich kan mulai nyebelin lagi." Gerutu Indah.
"Hahahh lucu sekali sih kamu" sambil mencubit hidung Indah.
__ADS_1
"Oke oke jadi.... mau kan kamu jadi Istri dan jadi ibu untuk anak-anak ku nanti ?" Ucap Angga dengan kembali menggenggam tangan Indah dan menatapnya sangat tajam.
Indah mulai merasakan degup jantungnya semakin tidak beraturan, wajahnya mulai memerah, rasa dingin karena hembusan angin pun seketika berubah menjadi panas.
"Ko kejauhan ngajak nya, udah sampai nikah aja ?" Celetuk Indah yang seketika menghancurkan moment romantis mereka.
"Kamu ini...." Angga semakin gemas dengan tingkah Indah.
"Karna aku serius sama kamu, aku tidak ingin mempermainkan mu, makanya dari awal aku sudah berniat untuk mengajak mu kejenjang yang lebih serius."
"Tapi...." Indah mengentikan ucapannya.
"Aku tidak memaksa mu untuk menikah dalam waktu dekat, aku akan membebaskan mu meraih apa yang kamu inginkan, asalkan kau selalu ada di samping ku, itu sudah cukup untuk ku." Ucap Angga.
Dengan sangat cepat Indah mulai menganggukkan kepala dan melemparkan senyum manisnya.
"Aku janji akan selalu ada di samping mu apapun dan bagaimanapun keadaan mu." Ucap Indah.
Kemudian mereka saling berpeluk bahagia, akhirnya mereka bisa memulai perjuangan hidup bersama dengan orang yang mereka cintai.
Waktu berjalan sangat cepat, tidak terasa malam sudah semakin larut, udara dingin sudah sangat terasa menusuk kedalam sendi-sendi tubuh mereka.
Melihat Indah yang sudah semakin pucat karena kedinginan, Angga mengajak nya untuk segera pulang.
__ADS_1
Mereka pulang dengan membawa perasaan bahagia, sepanjang jalan Indah memeluk Angga dengan sangat erat sambil sesekali melirik ke arah laki-laki tampan yang kini sudah resmi menjadi pacar nya itu