
Malam harinya Indah kembali menatap cincin dan surat yang tadi Agung berikan, Indah menatapnya sangat dalam, dengan. Sesekali bayangan Angga kembali muncul yang sedang berada disebuah toko perhiasan bersama dengannya memilih-milih model cincin yang akan dikenakan mereka dihari bahagia mereka.
Indah kembali membuka dan membaca isi surat itu, kini tanpa terasa Indah membaca setiap penggalan kata demi kata dengan ditemani oleh air mata yang sudah mulai membasahi tulisan tersebut.
Setelah selesai membacanya, Indah kini teringat dengan sebuah puisi yang ditulis oleh **. Habiebie untuk ibu Ainun, dan Indah mulai membawa ballpoint kemudian menggoreskannya diatas secarik kertas.
*Sebenarnya ini bukan tentang kematianmu, bukan itu
Karna aku tahu bahwa semua yang ada akan menjadi tiada pada akhirnya
Dan kematian adalah sesuatu yang pasti
Dan kali ini adalah giliran mu untuk pergi
Dan aku sangat tahu itu
Tapi yang membuat aku tersentak sedemikian hebat adalah
Kematian benar-benar bisa memutuskan kebahagiaan dalam diri seseorang
Sekejap saja, lalu rasanya mampu membuatku nelangsa setengah mati
Hatiku seperti tidak ditempatnya
Dan tubuhku serasa kosong melongpong, hilang isi
__ADS_1
Kau tahu sayang
Rasanya seperti angina yang tiba-tiba hilang berganti kemarau gersang
Pada airmata yang jatuh ini
Aku selipkan salam perpisahan panjang
Pada kesetiaan yang telah kau ukir
Pada kenangan pahit manis selama kau ada
Aku bukan hendak mengeluh, tapi rasanya terlalu sebentar kau disini
Mereka mengira akulah kekasih yang baik bagimu sayang
Bagaiman aku bisa setia jika kecenderunganku adalah mendua
Tapi kau ajarkan aku kesetiaan, sehingga aku setia
Kau ajarkan aku arti cinta, sehingga aku mampu mencintaimu seperti ini
Selamat jalan, kau dari-Nya, dan kembali pada-Nya
Kau dulu tiada untuk ku dan sekarang kembali tiada
__ADS_1
Selamat jalan sayang, cahaya mataku, penyejuk jiwaku, Matahari Senjaku*.
Indah meletakan tulisan itu tepat dibelakang tulisan Angga dan menyimpannya bersamaan dengan cincin pernikahan yang seharunya lusa akan mereka kenakan.
Dua hari kemudian 10 Oktober 2010, ini adalah hari pernikahan mereka, namun karena takdir maka pernikahan itu tidak terjadi.
Tapi meski demikian banyak sekali teman-teman Indah dan teman-teman Angga yang berkunjung kerumah Indah, ntah mereka mungkin merasa kasihan dengan jiwa yang malang karena gagal menikah.
Kedatangan mereka bertujuan untuk menghibur Indah, namun Indah merasa dengan kedatangan mereka semakin membuat Indah larut dalam bayang-bayang kegagalan pernikahan dan kepergian Angga.
Sehingga membuat Indah merasa menjadi manusia yang sangat nelangsa dan menyedihkan, Indah mengasihani dirinya sendiri.
Sampai pada akhirnya dia memutuskan untuk pergi menyepi sendiri ketempat favorit mereka berdua “Danau Hijau”
Sore itu cuaca sangat cerah, matahari sangat bersahabat, sinarnya terasa sangat hangat meresap dibalik pori-pori kulit.
Semilir angin membuat suasana menjadi semakin sejuk dan gemercik air membuat suasana menjadi sangat tenang dan nyaman. Ditempat ini biasanya Indah dan juga Angga selalu menghabiskan waktu sorenya, menunggu Matahari Senja meninggalkan tempatnya.
Namun kali ini indah berada di tempat itu sendirian, menatap tajam jauh kedepan, membayangkan moment ketika pertama kali dia berjumpa dengan Angga, di tempat ini di waktu yang sama.
Tiba-tiba seorang laki-laki duduk di sampingnya tersenyum sesaat menatap Indah kemudian memalingkan kembali pandangannya jauh kedepan.
Tiba-tiba laki-laki tersebut merangkul Indah, dan Indah menyambut hangat rangkulannya kemudian menyandarkan kepalanya kepundak laki-laki tersebut dengan senyum yang sangat bahagia.
“Kita memang tidak berjodoh didunia, tapi disini tidak ada lagi kematian yang memisahkan kita.” Ucap laki-laki tersebut.
__ADS_1
“Aku sangat merindukanmu sayang.” Ucap Indah dengan penuh kebahagiaan.