MATAHARI SENJAKU

MATAHARI SENJAKU
KEMATIAN


__ADS_3

Setelah suasa haru di ruang tersebut berlangsung beberapa lama, dengan langkah yang gontai Agung memapah Indah diikuti oleh kedua orang tuanya dan juga Bunga untuk menuju ke sebuah ruang tempat Angga disemayamkan.


Disebuah ruangan yang ada di sudut Rumah Sakit, perlahan Agung membuka pintu ruangan tersebut.


Terlihatlah seorang yang sudah ditutupi kain putih sedang terbujur kaku tidak berdaya.


Perlahan keduanya mendekati sosok tersebut, dengan sangat berat Indah membuka setengah kain yang menutupi wajah mayat tersebut.


Betapa histerisnya Indah ketika orang yang ada dihadapannya adalah benar-benar Angga kekasih hatinya, calon suami tercinta yang selama ini dirindukan nya.


Indah berteriak sangat kencang, air matanya sangat deras bercucuran, sambil memeluk tubuh yang sudah tidak berdaya itu.

__ADS_1


Indah terus berteriak berusaha membangunkan Angga karena masih tidak percaya dengan apa yang sedang dilihatnya.


“hikh hikh hikh sayang, bangun sayang, aku tau kamu hanya sedang tertidur dan aku sedang bermimpi, ayo bangun sayang kita kan mau nikah, kamu kan mau punya anak dari aku kita akan hidup lebih bahagia setelah menikah nanti, ayo sayang bangun, aku janji akan berhenti dari pekerjaan ku dan hanya mengabdikan hidupku untukmu, mengurus kamu dan anak-anak kita, ayo sayang bangun….” Teriak Indah sangat lirih sambil terus menggoyang-goyangkan badan yang sudah terasa sangat dingin tersebut.


"Sayang bangun bukan kah kamu sudah berjanji tidak akan membuatkan aku menangis lagi. Kenapa kamu ingkari janji mu sayang. Ayo bangun ... bangun sayang..."


Mendengar Indah terus berkata seperti itu membuat semua orang yang ada diruang tersebut semakin tidak tega dan hatinya serasa sedang disayat-sayat, membuat tangis didalam ruang tersebut semakin pecah.


Sepanjang malam itu Indah tidak beranjak dari sisi Angga, dia ingin menikmati masa-masa terakhir bersama dengan calon suaminya.


Bayangan tentang kebersamaannya dengan Anhga dimasalalu kembali mulai tergambar di memori nya, bayangan tentang pertama kali mereka bertemu, kenangan ketika di acara pameran foto sampai moment ketika pertama kali Angga menyatakan perasaannya pada Indah membuat hati Indah kembali teriris.

__ADS_1


Masih sangat lekat di ingatan tentang bagaimana Angga melamarnya dimalam itu, dengan acara yang sangat sederhana namun ditaburi dengan kebahagiaan menciptakan senyum disetiap wajah yang hadir malam itu.


Indah kembali menatap tubuh yang dulu selalu ada melindungi nya berada di garda terdepan dalam setiap kebahagiaannya kini telah terbujur kaku diselimuti kain berwarna putih.


Indah kembali mengajak Angga berbicara tentang mimpi-mimpi yang sudah mereka bangun bersama, tentang sebuah keluarga yang harmonis dan bahagia, tentang cita-cita masa depan yang penuh dengan tawa.


Tidak hanya itu yang Indah ceritakan, tapi dia juga bercerita tentang apa saja yang dia lakukan selama dua minggu terakhir tanpa Angga, sambil sesekali mengusap air mata yang jatuh dikedua matanya.


Pemandangan itu membuat hati kedua orang tua, adik dan sahabat Indah terlihat sangat hancur, tidak pernah sebelumnya melihat Indah serapuh ini. Perempuan ceria dan selalu tersenyum itu kini sedang mendung diselimuti kabut kedukaan.


Kematian benar-benar mampu membuat jiwa seseorang menjadi sangat terguncang, terlebih orang yang meninggal tersebut adalah orang yang selalu hadir hampir disetiap sendi kehidupannya.

__ADS_1


__ADS_2