
Perlahan Indah membuka kotak merah berisi dua cincin yang sudah dipesan nya beberapa bulan lalu, dengan ukiran nama mereka berdua didalam cincin tersebut dan membuka perlahan kertas yang ada di dalamnya.
Indah mulai membaca isi surat yang di tulis oleh Angga.
“Dear kekasih hatiku”
*Sekarang kamu sudah bukan lagi kekasihku,
Kini kamu sudah menjadi istri dan calon ibu untuk anak-anak ku
Aku adalah suami mu dan kamu adalah tanggung jawab ku
Jika kau tertelan empedu, maka akulah penawarmu
Jika aku tertusuk duri, maka kau adalah penawarku
Kita adalah takdir, dan aku bersujud di atas pertemuan ini
Terimakasih tuhan kau telah ciptakan perempuan baik hati seperti bidadari
Yang akan temaniku berjalan menuju ajungan cintanya ditaman syurga nanti
Kan ku jadikan kau permata dipentas hidupku dan di dalam hati nurani
Sayangku….
Inilah hari yang kita tunggu selama bertahun-tahun lamanya itu
Dan kini wajahku membenam rindu diuntai doa
Kau ku jemput dengan selembar cinta
Untuk mendiami ruang hati yang sangat hampa
Sayangku…..
Aku tidak ubahnya embun yang kau tadah di daun sunyi
Hasratku menemani desah nafasmu sampai ke senja
__ADS_1
Jiwaku akan menjadi perisaimu yang sejati
Hingga tak ku biarkan kau untuk terluka
Wahai Permaisuriku……
Percaya atau tidak, kamu adalah cahaya dalam gelapnya dunia
Kaki untuk tubuhku yang jika kau hilang, maka jalanku tidak lagi sempurna
Tetaplah bersamaku, temani aku dalam menyelami samudera
Menapaki jejak dan melawan setiap badai rumah tangga
Aku sangat kuat bersamamu, dan rapuh tanpa mu tak berdaya
Tetaplah mencintaiku seperti saat pertama kali kau mengakuinya
Tetaplah disampingku seperti saat kita duduk bersama
Dan tetaplah disini menjadi seorang pengatin sejatiku untuk selamanya
Angga*
Indah membaca setiap kalimat demi kalimat dengan rasa kesakitan didalam hatinya, Indah menyelami dan meresapi serta membayangkan wajah Angga yang sedang ada dihadapannya seakan sedang membacakan isi surat itu untuk nya.
Hati Indah kembali teriris mengingat tepat dua hari lagi adalah tanggal pernikahan mereka seharunya.
Namun takdir berkata lain, ketika tangan Tuhan sudah bekerja maka manusia sehebat apapun tidak akan mampu melawannya. Itu adalah kenyataannya, rencana yang sudah dipersiapkan sebegitu matangnya pun mentah kembali karena Tuhan mempunyai kehendak berbeda.
Selesai membaca surat tersebut Indah dan Agung bertemu tatap, Agung seakan mengerti mengerti tatapan Indah yang mengisyaratkan kerinduan yang teramat dalam kepada calon suaminya tersebut.
Dengan seketika Agung memegang tangan Indah dan berkata.
"Ndah... Angga tidak suka melihat mu menangis, Angga selalu bilang jika kamu adalah wanita terkuat yang pernah dia temui, kamu adalah wanita dengan sejuta kebahagiaan didalam hidup Angga, jadi aku mohon kamu jangan menangis lagi, percayalah Angga akan sangat bangga melihat calon istrinya bisa melanjutkan hidupnya kembali seperti sedia kala."
🎶🎶
*Seusai itu senja jadi sendu
__ADS_1
Awan pun mengabu
Kepergian mu...
Menyisakan duka dalam hidup ku
Ku meminta rindu
Menyesali waktu mengapa dahulu
Tak ku ucapkan aku mencintai mu
Sejuta kali sehari
Walau masih bisa senyum
Namun tak selepas dulu
Kini aku kesepian….
Kamu dan segala kenangan
Menyatu dalam waktu yang berjalan
Dan aku kini sendirian
menatap dirimu hanya bayangan
Tak ada yang lebih perih
Daripada kehilangan dirimu
Cintaku tak mungkin beralih
sampai mati hanya cinta padamu
Ku mencintai
Kamu dan kenanga*
__ADS_1
Alunan lagu itu mengiringi lamunan Indah dengan tatapan yang kosong, hal itu membuat Agung sangat sedih dan merasa bersalah, seharusnya cincin dan surat itu jangan dulu dia berikan pada Indah. Tapi nasi sudah menjadi bubur, sekarang tinggal memikirkan bagaimana caranya Agung menghibur Indah yang terlihat sangat sedih meskipun tidak menitkan air mata.