
Indah yang juga sudah menyelesaikan kuliah nya dari beberapa tahun lalu kini mulai meniti karirnya didunia bisnis.
Sedikit demi sedikit dia mulai membangun perusahaan nya sendiri, diluar dari perusahaan milik ayahnya.
Indah membuka bisnis di bidang Jasa EO dan WO tentunya bekerja sama dengan Angga sebagai video dan fotografer nya. Meskipun karirnya belum semelesat Angga tapi Indah merasa bangga karena sudah berhasil mewujudkan cita-cita nya satu persatu.
Minggu malam
Seperti malam-malam sebelumnya jika memang tidak ada pekerjaan ke luar kota Angga selalu mengajak Indah pergi ntah itu hanya sekedar makan malam atau nonton saja.
Begitupun dengan malam ini.
Tok tok tok...
"Eh den Angga, silahkan masuk." Ucap ni Ina.
__ADS_1
"Terimakasih bi."
Tidak lama kemudian Indah dan orang tuanya datang menemui Angga.
"Malam om, tante."
"Malam sayang, sehat kamu nak ?" Tanya bu Lisna.
"Sehat tante, cuman memang beberapa hari terakhir aga flu saja mungkin karena terlalu kecapean kali tan." Ucap Angga.
"Bukan karena kecapean tapi karena ga ada yang ngurusin." Goda bu Lisna sambil tersenyum.
"Ih mamah apaan sih, Udah ah Indah berangkat dulu ya." Ucap Indah dengan salah tingkah.
"Sebentar Indah, papah ingin bicara dengan kalian berdua." Ucap pak Andy.
__ADS_1
Indah mulai bisa menebak kemana arah pembicaraan tersebut.
“Nak Angga, Indah, hubungan kalian kan sudah cukup lama, kalian juga sudah saling mengenal satu sama lain, papah liat cita-cita Indah juga satu persatu sudah mulai tercapai, dan lagi mengingat umur kalian yang sudah cukup matang, apa tidak sebaiknya niat baik itu segera dilaksanakan?" Tanya pak Andy.
Indah dan Angga saling bertatapan kemudian menghela nafas panjang.
“Kalau Angga sih gimana Indahnya saja om, jika Indah nya sudah siap maka Angga juga sudah lebih siap, tapi Angga juga tidak ingin memaksakan semuanya, biarkan mengalir saja om.” Jawab Angga.
Angga menatap Indah yang mulai kelihatan tidak nyaman dengan situasi tersebut.
“Indah sayang, bagi seorang perempuan menikah adalah sebuah impian, membangun rumah tangga, mengurus anak dan suami adalah sebuah pekerja mulia, banyak hal lagi yang bisa kalian lakukan bersama setelah menikah nanti, dan tentunya setiap apa yang dilakukan pasangan suami istri itu akan dicatat sebagai amal ibadah.” Jelas bu Lisna sambil memegang tangan Indah.
Indah menghela nafas panjang, sejenak berfikir apa yang akan dia katakana.
“Indah juga sudah sangat ingin untuk menikah mah, pah, tapi indah takut jika nantinya setelah menikah hubungannya tidak akan semulus saat ini, Indah tidak ingin menikah terus bercerai, Indah ingin menikah untuk pertama dan terakhir kalinya. Indah juga takut jika Indah tidak bisa menjadi istri dan juga ibu yang baik nantinya.” Jelas Indah.
__ADS_1
“Sayang ku, didalam pernikahan itu tidak ada yang instan, semua selalu berproses, penikahan itu adalah sekolah seumur hidup, dimana kalian akan terus saling belajar satu sama lain sampai akhir hayat. Kamu tidak akan tahu kamu mampu atau tidak jika kamu tidak pernah mencobanya, dan lagi ketakutan itu datangnya dari dalam pikiran kamu sendiri, makanya jangan terlalu memikirkan sesuatu yang belum tentu akan terjadi di masa depan. Tugas kamu hanyalah menjalani hidup saat ini dengan belajar dari hari kemarin.” Jelas bu LIsna.
Angga melihat Indah sudah semakin kikuk dia tidak tega melihatnya dan berniat untuk menyudahi pembicaraan ini.