
Semenjak Angga meninggal, Bunga kini hidup sebatang kara, namun pak Andy dan bu Lisna mengajak Bunga untuk tinggal bersama di rumahnya, dan segala kebutuhan Bunga kini menjadi tanggung jawab pak Andy dan bu Lisna.
Mereka tidak keberatan dengan hal itu, karena mereka hanya mempunyai satu anak sehingga kedatangan Bunga membawa kebahagiaan tersendiri untuk keluarga pak Andy.
Malam itu tepat satu minggu Angga meninggalkan Indah untuk selamanya, namun kesedihan Indah tidak sedikit pun berkurang, yang ada semakin hari kerinduan nya semakin memuncak dan tidak tertahan lagi.
Indah ingin sekali memeluknya, menyandarkan kepalanya di bahu Angga, merasakan setiap sentuhan dan belaian yang biasa Angga selalu berikan kepada Indah dikala Indah sedang sedih.
Setiap malam sepeninggal Angga, Indah selalu tidur ditemani oleh Bunga. Indah dan Bunga sudah mencoba untuk merelakan kepergian Angga, meskipun tidak mudah tapi mereka berusaha ikhlas karena tidak ingin Angga tersiksa dengan setiap tangisan yang dikeluarkan oleh mereka.
Malam itu Indah sedang berada didepan swalayan menunggu kedatangan seorang laki-laki yang sedang membelikannya minuman.
Tidak lama laki-laki tersebut datang dan memberikannya minuman, laki-laki tersebut duduk didepan Indah kemudian memegang tangan Indah dan berkata
__ADS_1
“Sudah jangan menangis lagi, aku sudah bahaga disini.” Sambil tersenyum laki-laki itu berucap dan mengahpus air mata Indah dengan ibu jarinya.
Setelah menghapus air mata Indah, kemudian laki-laki itu pergi meninggalkan Indah yang sedang duduk terdiam sendirian.
“Angaaaaaa”.
Seketika Indah terbangun dari mimpinya dengan nafas yang berderu tidak beraturan, keringatnya mengalir bagai orang yang sudah berlari, muka Indah sangat pucat.
Mereka bertiga datang menemui Indah, terlihatnya Indah sedang duduk dengan wajah menunduk sambil memegangi tangannya.
Segera lah bu Lisna, pak Andi dan Bunga mendekap Indah sambil menangis.
“Mah, Angga mah, Angga datang dan menggenggam tangan Indah mah, dia menyeka air mata Indah dan bilang jangan menangis lagi karna dia sudah bahagia disana, Angga mah, Angga dateng nengokin Indah mah Indah kangen Angga mah Indah kangen.” Indah berkata sambil menangis dipelukan bu Lisna.
__ADS_1
"Ini mah rasa nya nyata sekali, sentuhannya masih Indah rasain mah, Indah yakin Angga ada disini sekarang nengokin Indah, Angga juga rindu mah sama Indah."
Setiap ucapan Indah membuat seisi kamar kembali mengharu biru, semua mengencangkan pelukannya pada Indah, merasa sangat tega melihat Indah selalu tersiksa atas kepergian Angga.
“Ini bukan mimpi mah, pah ini bukan mimpi, Angga, Angga dimana kamu sayang aku merindukanmu” teriak Indah dengan mata yang seakan sedang mencari seseorang yang berada di kamarnya.
Malam itu adalah malam yang sangat menyakitkan bagi Bunga dan kedua orangtua Indah, sebab harus menyaksikan anak yang paling dicintai nya kini sedang sangat terpuruk dan terguncang perasaan nya.
Akhirnya mereka berempat memutuskan untuk tidur di kamar Indah, menungguinya karena takut terjadi hal-hal yang tidak di Inginkan menimpa Indah.
"Sayang, kenapa jadi seperti ini ? hati mamah sangat hancur nak melihat kamu seterpuruk ini, ayo nak kamu harus kuat, kamu harus kuat melewati setiap takdir yang tuhan sudah gariskan kepadamu, Angga sudah bagaia disana, jika dia melihatmu selalu menangis maka diapun akan ikut menangis, bukankah dia tidak suka jika melihat mu menangis sayang "
Bu Lisna mulai menengkan Indah yang kini berada di pelukannya
__ADS_1