Matrealistis

Matrealistis
10-Nikah Kilat


__ADS_3

"Lagi-lagi aku ditampar dengan sebuah kenyataan, bahwa aku dinikahkan tanpa sepengetahuan."


-Adara Mikhayla Siregar-


•••


Belum selesai perihal buku nikah yang terpampang nyata di depan mata,  kini aku kembali dibuat terkejut saat menatap layar televisi yang menampilkan Papah dan Arda yang sedang duduk berseberangan terhalang meja kecil, dengan beberapa orang di sekitar mereka. Mamah, Tante Annisa, dan Om Arga juga ada dalam video itu. Aku menahan napas saat tangan kanan Papah dan Arda saling berjabatan, dan tak lama dari itu sebuah kalimat sakral menguar ke indra pendengaran.


"Saya terima nikah dan kawinnya Adara Mikhayla Siregar binti Ardito Siregar dengan mas kawin tersebut dibayar tunai."


Boom! Kata keramat yang tidak ingin aku dengar itu menggema begitu lancar dari mulut Arda. Pernikahan macam apa yang tidak melibatkan calon mempelai perempuannya? Aku ingin melenyapkan mereka semua sekarang juga.


"Pah! Mah!" Tatapan mataku tajam tapi titik-titik embun siap untuk aku tumpahkan. Elusan lembut yang berasal dari tangan Mamah sama sekali tak membuat aku tenang. Yang aku butuhkan sekarang bukanlah elusan tapi sebuah penjelasan.

__ADS_1


Aku melihat Papah mengembuskan napasnya perlahan sebelum berujar, "Selepas azan Subuh berkumandang Papah sudah menyerahkan tanggung jawab atas diri kamu kepada Nak Arda, suami kamu, Sayang."


Air mataku luruh tanpa bisa untuk kutahan lagi. Rentetan perkataan Papah sudah semakin memperkuat semuanya. Aku, Adara Mikhayla Siregar sudah resmi menyandang status sebagai istri dari Arda Nazma Dewanda. Sebuah kenyataan yang membuat aku lemah lunglai di atas sofa. Aku memukul-mukul dadaku yang terasa begitu sakit. Aku tak terima dengan realitas yang terjadi saat ini. Ini semua pasti mimpi! Ya ini hanya mimpi!


Apa yang kalian pikirkan tentang pernikahan yang aku alami?


Jika aku dihadapkan dengan dua pilihan antara menikah dengan Arda yang sama sekali tak aku sukai, atau memilih menyandang status sebagai jomlo abadi. Dengan cepat tanpa pikir panjang lagi, aku akan menerima opsi kedua. Apa yang aku harapkan dari lelaki modelan Arda? Tampang tidak menjual, bahkan malu-maluin kalau diajak kondangan. Kondisi dompet krisis dan tipis. Sangat jauh dari standar yang aku patok. Masih mending teman-teman priaku yang sudah aku tinggalkan itu.


Pernikahan adalah impian semua perempuan. Sebuah ikatan sakral antara dua anak manusia yang saling mencintai satu sama lain. Menggelar acara di gedung atau hotel mewah berbintang, bahkan mungkin dilangsungkan di tempat terbuka, seperti garden party yang sangat diidam-idamkan sebagian kaum hawa, begitupun dengan aku. Tapi semua itu lenyap begitu saja, hanya dalam hitungan menit bahkan detik. Kehidupanku langsung jungkir balik setelah kata sah menggema dari para saksi.


"Ini hanya akadnya saja, Sayang. Untuk resepsinya akan segera kami langsungkan. Mungkin satu bulan ke depan," kata Mamah yang berhasil kembali membawa aku ke alam sadar.


"Gak ada pernikahan dan gak akan pernah ada pesta pernikahan! Adara akan urus perceraiannya sekarang!" Setelah mengatakan hal itu, aku langsung berlari ke kamar. Menangis sendirian dan berkawan dengan rasa sakit adalah pilihan terbaik untukku menenangkan hati dan perasaan.

__ADS_1


•••


Kepalaku pusing dan berat saat melihat jam yang sudah menunjukkan angka pukul satu dini hari. Ternyata setelah kejadian yang tidak aku inginkan itu, aku tertidur di kamar karena terlalu lelah menangis seharian. Aku berjalan menuju cermin, melihat pantulan diriku yang sangat berantakan. Mata bengkak dan memerah dengan kantung mata menghitam, rambut acak-acakkan semakin menambah kesan betapa hancurnya aku saat ini.


Aku mengambil jubah mandi sebelum masuk ke kamar mandi. Aku butuh kesegaran dan mandi malam bukanlah pilihan buruk untuk aku lakukan. Udara dingin begitu menusuk hingga ke tulang-tulang saat aku memasuki bath up tanpa sedikit pun melepaskan pakaian yang aku kenakan.  Semakin lama aku bergelung di bawah air, semakin dingin pula yang aku rasakan. Bibirku sepertinya sudah membiru dan bergetar. Tapi aku tak mempedulikannya. Semoga saja pada saat aku terbangun esok hari, aku tak lagi melihat orang-orang yang membuat hidupku hancur berantakan.


Aku sudah seperti orang yang kehilangan akal dan iman hingga berpikir demikian. Tapi otakku tak lagi kuat menghadapai semua persoalan. Aku Bukanlah anak yang nurut dan manut-manut begitu saja saat mendapat titah dari Mamah dan Papah. Selalu ada tolakan dan sanggahan yang akan aku layangkan saat aku tak setuju dengan apa yang  mereka putuskan, terlebih lagi perihal kehidupanku di masa yang akan datang. Bisa gila aku kalau terus bergelut dengan segala macam pemikiran yang hanya akan membuatku stres berkepanjangan.


Rasa pening dan pusing semakin mendominasi, aku tak mau mati konyol hanya gara-gara lelaki tak tahu diri itu. Dengan pelan dan tertatih aku bangkit dari bath up, mengambil jubah mandi yang sengaja aku gantung tak jauh dari tempatku berdiri saat ini. Berjalan dengan sebelah tangan menyusuri tembok, dan juga tangan lainnya yang sibuk memegangi kepala. Langkahku lunglai dan sempoyongan untuk menuju pembaringan. Untuk pertama kalinya aku berlaku di luar kadar wajar orang-orang normal. Mandi di tengah dinginnya malam memang biasa aku lakukan, tapi untuk yang saat ini beda cerita dan entah mengapa membuat aku pening kepala. Biasanya juga tidak begini.


"Gue harus cepet-cepet beresin pernikahan gila ini! Dasar Arda kurang ajar. Seenak jidat dia ngucap akad!" gerutuku dengan kedua tangan yang terkepal. Secepatnya aku harus mengurus berkas-berkas perceraian ke pengadilan agama. Kalau bisa sekarang juga!


Jika mereka bisa memutuskan tanpa melibatkanku, aku pun akan berlaku hal yang demikian. Lihat saja tindakan yang akan aku ambil setelah ini. Akan aku pastikan hidup Arda tak tenang, sebisa mungkin aku akan membuatnya lelah mental dan fisik karena kelakukaanku yang terkadang di luar batas normal. Dan untuk kedua orang tuaku tercinta terima kasih karena sudah membuatku stres gak ketulungan. Aku tak akan berlaku kurang ajar pada mereka, sekalipun aku mau. Aku masih sehat dan tak mungkin melampiaskan semua kekesalanku pada orang tuaku sendiri. 

__ADS_1


~TBC~


__ADS_2