
"Jangan pakai perasaan. Ini hanya sebuah pernikahan yang dibumbui dengan sebuah kesepatakan."
- Adara Mikhayla Siregar-
•••
Cinta bukanlah sesuatu yang tabu bagi manusia zaman sekarang, hal itu seringkali didengar dan sangat mudah untuk diucapkan. Luasnya laut masih bisa diukur sedangkan isi hati manusia siapa yang tahu? Mulutnya selalu berkoar-koar mengatakan kekaguman serta perkataan cinta membinasakan, tapi siapa tahu itu hanya bualan saja. Bermodalkan cinta yang salah tempat dan datang bukan di waktu yang tepat, seringkali membuat para insan salah dalam memilih langkah. Cinta yang seharusnya mendatangkan kebahagiaan, justru mendatangkan malapetaka besar yang memalukan. Cinta tanpa dibarengi dengan iman memang menyesatkan dan membuat kalap sebagian orang. Menghalalkan segala macam cara agar dia yang dicinta mampu bersanding dengan dirinya.
Aku tak bisa mempercayai seratus persen ungkapan hati yang baru saja Arda lontarkan. Aku bukan tipe manusia yang mengutamakan perasaan dibandingkan berpikir dengan akal kecerdasan. Otakku yang lebih dulu jalan, sedangkan hatiku sengaja aku biarkan istirahat pada tempatnya. Jangan pernah percaya dengan bualan manis pria. Kata cinta yang mereka gaungkan tidak hanya ditujukan untuk kamu seorang. Ada banyak wanita di luaran sana yang sudah menjadi korbannya. Ingat Adara. Jangan pakai perasaan. Ini hanya sebuah pernikahan yang dibumbui dengan sebuah kesepatakan. Hanya itu.
"Kita perbaiki semuanya. Membuka lembaran baru dan melupakan semua kesalahan kita di masa lalu. Kamu mau kan?" Arda kembali mengulang kalimatnya. Tapi aku bingung harus menjawab apa. Otakku belum menemukan kosakata yang pas untuk menolaknya.
Menarik napas dalam-dalam dan mengembuskannya secara perlahan, hal itu aku lakukan secara berulang-ulang. Menjauhkan tangan Arda yang sudah lancang menjamah bagian wajahku terlebih dahulu. Melihat ke arahnya dengan sorot mata yang sulit untuk diartikan. "Gue gak bisa."
"Kenapa, Adara?" sahutnya cepat. Aku melihat banyak pengharapan di kedua netranya.
"Gue hamil, dan itu bukan darah daging lo. Lo gak ada sedikit pun tanggung jawab atas janin yang gue kandung---"
"Anak itu ada dalam pernikahan kita, maka secara gak langsung dia juga menjadi tanggung jawab aku. Aku gak akan mengungkapan ataupun mempermasalahkan siapa dan dari mana asal-usulnya. Dia bayi suci tanpa dosa, aku gak mau dia dicap buruk oleh orang-orang. Biarkan kenyataan ini kita pendam berdua," potongnya dengan sedikit sunggingan. Aku merasakan ketulusan dalam setiap kalimat yang baru saja Arda katakan. Terbuat dari apa hati lelaki itu? Bukannya memarahi dan menggugat cerai, tapi malah membujukku agar tetap berada di sampingnya. Dia lelaki terbodoh yang pernah aku temui.
Bagaimana kalau sampai Arda tahu jika kehamilan ini hanyalah sebuah kebohongan yang aku ciptakan agar segera terbebas dari jerat pernikahan? Apakah dia akan tetap berlaku baik padaku? Atau mungkin dia akan mencampakkanku begitu saja. Aku tak mau ambil risiko jika sampai hal itu terjadi karena aku tahu, sepintar-pintarnya aku menyembunyikan bangkai kebohogan, akhirnya pasti akan ketahuan juga. Tak ada yang namanya kebohongan abadi.
"Lo perlu istirahat. Kerja otak lo udah gak sehat," kataku. Jujur saja aku sangat bingung untuk merespons penuturan Arda dengan kalimat seperti apa. Aku harus pergi sekarang, merilekskan pikiran.
"Gue pergi ada urusan," ucapku dengan tungkai berjalan cepat menuju kamar untuk mengambil tas.
__ADS_1
Arda hanya diam tanpa suara, aku tahu dia masih ingin berbicara panjang lebar denganku. Tapi aku tak mau memperpanjang perbincangan dengannya. Semakin banyak kata yang dia keluarkan, maka akan semakin membuatku bingung tak ketulungan. Lebih baik menghindar.
•••
Aku menghubungi Lukman untuk segera meluncur ke rumah yang aku tempati, aku sangat membutuhkan teman untuk berbagi dan mencari solusi. Bisa gila kalau aku hanya memendamnya seorang diri. Tak berselang lama mobil yang sudah sangat aku kenali itu sudah berada di depan mata, aku langsung memasukinya tanpa menunggu Lukman turun untuk sekadar membuka pintu.
"Ada apa lagi, Adara?" Baru saja aku duduk dan memasangkan sabuk pengaman, dia sudah menghadiahiku dengan sebuah pertanyaan.
"Biasa," jawabku acuh tak acuh. Sangat puyeng rasanya memikirkan masalah yang tak kunjung usai, dan justru semakin panjang.
"Suami kamu lagi?" Aku mengangguk tanpa ragu.
"Terus sekarang mau ke mana?" tanyanya dengan kepala yang sesekali melirik ke arahku.
Aku menurunkan kursi yang aku tumpangi, agar bisa lebih merilekskan diri. "Serah lo."
"Ayo turun, Dar," katanya setelah dia membuka pintu mobil. Aku mengerjap pelan, ternyata kita sudah sampai tempat tujuan.
"Kenapa lo bawa gue ke sini?" tanyaku saat melihat pamflet yang terpampang bertuliskan, Paradista Caffe & Bakery untuk apa dia membawaku ke tempat seperti ini?
Lukman menggaruk bagian belakang kepalanya. "Sebenarnya tadi aku ada janji temu dengan seseorang di sini, tapi karena kamu menghubungiku jadi aku memutuskan untuk menjemput kamu terlebih dahulu. Temani aku sebentar yah, Dar," terangnya yang membuatku menghela napas panjang.
"Kalau emang lo gak bisa, gue gak maksa. Lo kan jadi repot," kataku. Dia memang selalu mendahulukanku dibandingkan dengan urusan pribadinya.
"Sudahlah, lebih baik kita masuk ke dalam saja," cetusnya yang langsung aku balas dengan anggukan singkat.
__ADS_1
"Lo mau ketemu siapa sih?" tanyaku penasaran, bersamaan dengan kedatangan seorang pelayan yang membawa semua pesanan yang telah Lukman pesan sebelumnya. Dua cangkir teh, secangkir kopi, dan juga beberapa donat, muffin, serta croissant sebagai pelengkap.
Lukman menyesap sejenak kopi panas yang masih mengepulkan asap. Dia memang pecandu kopi, jika sehari tanpa minuman hitam itu jiwanya terasa kosong dan hampa. "Seseorang, kamu juga mengenalnya. Mungkin sekarang dia sedang dalam perjalanan," jawabnya yang aku balas dengan anggukan.
Menikmati hidangan yang tersaji di meja adalah pilihan utama yang aku lakukan. Menunggu adalah hal yang sangat tidak aku sukai dan menghabiskan makanan yang terhidang adalah cara ampuh membunuh kebosanan. Baru saja aku memasukan sepotong donat bertoping selai cokelat yang dilengkapi dengan mashmellow ke dalam mulut, tiba-tiba saja ada sebuah tangan yang menjewer telingaku tanpa izin. Kurang ajar! Siapa orang yang sudah lancang memperlakukanku seperti ini di tempat umum.
"Lo---" Ucapanku menggantung di udara saat melihat wajah sangar tak santai Mamah. Matilah aku! Kenapa beliau bisa ada di sini? Bukannya tadi pamit izin pulang?
"Eh... Ma... Mamah...," kataku cengengesan.
"Kamu yah. Masih belum tobat juga, hah! Sudah punya suami bahkan sebentar lagi mau punya anak, masih saja keluyuran sama laki-laki lain. Di mana otak kamu, Adara?!"
Aku meringis menahan sakit, belum lagi menahan malu karena suara Mamah yang bervolume cukup kencang. Beliau memang tidak tanggung-tanggung kalau sedang mengamuk besar.
"Kamu hamil beneran, Dar?" Pertanyaan itu bersumber dari Lukman. Aku langsung menendang tulang keringnya di bawah meja sana. Mulutnya gak bisa dijaga dikit apa? Sudah tahu aku sedang disiksa dan dipermalukan depan umum. Eh dia dengan enteng malah berkata seperti itu.
"Pulang sekarang! Dan kamu," Mamah menunjuk Lukman yang tengah mengaduh kesakitan karena ulahku barusan, "jangan dekati putri saya lagi!"
Mamah tak melepaskan jerat tangannya di telingaku, beliau dengan tanpa dosa menyeretku hingga masuk ke dalam mobil dengan kondisi kuping yang masih dalam jeweran jari-jari kejamnya. Orang-orang yang berada di tempat itu menontonku, bahkan tak segan ada yang memfoto serta mentertawakanku habis-habisan. Ah Mamah memang ratu tega sejagad raya! Mau ditaruh di mana mukaku ini?
Mamah menghempaskanku masuk ke dalam mobil dengan rusuh tak sabaran. Aku yakin beliau akan kultum panjang kali lebar sekarang! Siapkan indra pendengarmu, Adara. Aku shock saat melihat kepala Mamah jatuh tertunduk pada kemudi mobil, tak lama dari itu suara isakan terdengar begitu memilukan. Kenapa beliau malah menangis?
"Mamah capek, Adara! Sampai kapan kamu terus seperti ini? Mamah merasa gagal dalam mendidik kamu. Gak bisa apa kamu hidup normal seperti wanita kebanyakan? Menjalani rumah tangga bersama suami dan juga keluarga kecilnya. Bukan malah kaya gini! Keluyuran sama cowok lain."
Aku tersentak melihat wajah sembab dan juga perkataan dengan nada penuh emosi yang Mamah tunjukan. Semarah-marahnya Mamah, beliau tidak pernah melakukan hal semacam ini sebelumnya. Apa kesalahanku saat ini sudah sangat keterlaluan?
__ADS_1
~TBC~