
"Kelakuanku pada beliau terkadang tidak sopan dan bar-bar, bahkan aku sering membuatnya marah karena aku yang terlalu banyak berulah."
-Adara Mikhayla Siregar-
•••
Ada begitu banyak tipe manusia dalam menghadapi masalah. Mencoba sabar dan ikhlas serta menjalaninya dengan penuh kelapangan hati. Ada pula yang semakin mendekatkan diri kepada Sang Illahi. Tapi tak jarang ada juga yang memutuskan untuk bunuh diri dan mengakhiri hidupnya-dengan harapan setelah mati tidak lagi mengenal apa yang namanya cobaan dan ujian. Tipe manusia sejenis ini yang paling aku takutkan terjadi padaku, karena imanku yang tak begitu kokoh dan bisa sangat mudah menelan mentah-mentah bisikan setan yang sangat menyesatkan. Opsi pertama dan kedua pun sangat jauh dan tak mungkin aku lakukan.
Bersabar dan mencoba untuk menjalaninya dengan lapang dada? Tidak akan pernah aku mau melakukan hal semacam itu. Hanya membuang-buang waktuku saja. Mendekatkan diri kepada Sang Illahi? Ini lebih gak mungkin lagi. Mana mungkin aku yang gemar berbuat maksiat dan kerjaannya hanya mengurusi dunia ini berlaku hal seperti itu. Itu bukanlah diriku. Aku ini orangnya terlalu berpikir logis serta realistis dan tentunya matrealistis. Lebih banyak menggunakan kerja otak dibandingkan bermain perasaan. Capek kalau hati selalu dijadikan tameng utama. Sakit hati sudah pasti dan mungkin saja bisa sampai sakit jiwa juga, jika otaknya tak berjalan dengan baik dan benar.
Aku langsung memblok jalan Arda saat laki-laki itu baru saja menginjakkan satu langkahnya di ambang pintu. Aku tak akan mengizinkan dia masuk. Bukankah semalam dia bilang tidak akan pulang? Lalu untuk apalagi sekarang dia ke sini. Tak ada gunanya sama sekali.
"Ngapain lo pulang?" todongku tanpa sedikit pun rasa iba melihat wajah lelahnya.
"Maaf, Dar aku gak bisa menuhin keinginan kamu semalem," katanya yang terdengar begitu lemah. Sepertinya dia sangat kelelahan sekali. Tapi aku tak mau peduli.
Aku berkacak pinggang dengan gaya pongah menatap ke arahnya. "Gak ada. Lo sendiri yang semalem mengiyakan omongan gue. Jadi gak ada dispensasi."
"Aku capek, Dar."
"Gue lebih capek. Lo kira hidup gue apaan, hah? Lo udah ngancurin semuanya!"
Arda menghela napas berat sebelum berucap, "Sekarang apa mau kamu?"
Ditanya seperti itu tanpa mau berbasa-basi lagi aku langsung menjawab, "Ceraiin gue sekarang!"
Dia menggeleng kuat dengan kedua tangan yang saling mengepal hebat. "Gak akan pernah aku lakuin." Sorot matanya yang tadi sayu sekarang berubah menjadi tajam menyeramkan.
"Kenapa? Lo gak ada hak sedikit pun atas diri gue. Apalagi gue lagi hamil anak Lukman." Sebisa mungkin aku berkata dengan suara lantang. Tapi jujur saja lututku sudah bergetar hebat karena melihat wajah tak santai Arda.
"Kamu istri aku." Hanya tiga kata itu yang keluar dari bibirnya. Tapi kalimat singkat itu membuat sesuatu dalam dadaku bergemuruh tak keruan. Aku tak tahu apa yang saat ini tengah aku rasakan. Tapi logikaku menentang, dan mengomando agar aku segera mengakhiri semuanya. Sekarang atau tidak sama sekali.
__ADS_1
"Istri sementara, hanya sebatas kontrak kerja sama." Aku memberanikan diri untuk kembali bertemu pandang dengan netra tajam miliknya.
Tangannya yang sedaritadi mengepal kuat kini beralih pada kedua pundakku. Mencengkramnya pelan. Aku yakin dia pasti mati-matian menahan gejolak amarah dalam dirinya. Tapi kenapa? Seharusnya dia lampiaskan saja sekarang padaku.
"Aku capek mau istirahat," katanya dengan sedikit sunggingan. Aku membatu dengan kepala yang sudah berkunang-kunang. Apa dia tidak salah?
Aku sama sekali tak meresponsnya, dan malah diam mematung bingung. Ada apa ini? Kenapa dia begitu pandai mengendalikan diri dan emosi? Aku tak mengerti dengan pola pikirnya yang begitu aneh dan berbeda dari kebanyakan orang. Arda. Nama itu kini memenuhi pikiranku. Manusia sejenis apa dia sebenarnya?
•••
Selepas kejadian tadi pagi aku langsung pergi meninggalkan Arda seorang diri. Aku sama sekali tak sudi untuk hidup satu atap bersamanya lagi. Meski sebenarnya aku bingung harus pergi ke mana, tapi bodo amatlah yang penting aku bisa bebas dari lelaki misterius semacam Arda.
Mau pulang dan mengadu pada Mamah jelas itu pilihan bodoh yang tak mungkin aku lakukan. Bukannya mendapat pembelaan, yang ada akan mendapatkan amukan panjang kali lebar. Dan endingnya aku diceramahin tujuh hari tujuh malam. Heh! Sangat mengerikan.
Perutku yang memang sudah sangat keroncongan kembali bersuara. Merogoh tasku yang hanya terdapat selembar uang berwarna hijau. Mana cukup uang segini untuk makan? Coba saja tadi aku sedikit merampok isi dompet Arda terlebih dahulu, mungkin ceritanya tidak akan seperti ini. Berjalan menyusuri trotoar dengan tujuan yang tak jelas. Aku sangat tidak suka situasi seperti ini.
Netraku memicing saat melihat seorang anak perempuan dengan baju kotor yang sudah tak layak pakai tengah mengobrak-abrik tempat sampah. Apa yang dia lakukan? Apa dia tidak merasa jijik sedikit pun? Itu sangat jorok dan sudah bisa dipastikan sarang dari segala jenis penyakit bersumber di sana. Aku terus memperhatikan setiap gerak tangannya yang tanpa sungkan merogoh lebih dalam lagi ke tempat paling menjijikan itu.
"Alhamdulillah," katanya saat makanan tak layak konsumsi itu habis dan masuk ke dalam perutnya dengan begitu lancar. Lututku lemas, air mataku sudah menggenang rasanya. Dalam keadaan seperti itu dia masih bisa bersyukur? Bahkan kalimat hamdalah keluar begitu saja dari bibir mungilnya yang pucat.
Dadaku begitu sesak melihat pemandangan tersebut. Aku yang hidup berkecukupan masih seringkali mengeluh tanpa tahu aturan, bahkan tak segan menyalahkan takdir hidup yang menurutku begitu kejam. Tapi apa yang dilakukan gadis kecil itu sungguh berhasil menamparku secara berulang-ulang. Aku tak pandai bersyukur, dan selalu menuntut kemewahan tanpa pernah mau melihat ke bawah, bahwa masih ada orang yang hidupnya tak seberuntungku.
Tanpa dikomando sama sekali, kedua tungkaiku berjalan menghampiri dia yang masih duduk bersila di trotoar samping tempat sampah. Rasa iba yang tak perlu aku perlihatkan pada orang-orang kini aku tunjukan pada gadis malang berambut ikal itu. Aku berjongkok tepat di depannya, aroma tak sedap langsung menguar ke indra pembauku. Rasanya begitu memabukkan hingga membuat kepalaku pusing berkunang-kunang. Tapi sebisa mungkin aku tahan. Aku penasaran ada motif apa di balik kejadian yang baru saja dia pertontonkan.
"Hai," sapaku sebisa mungkin dengan suara riang menyenangkan, tapi aku tak bisa bohong bahwa hatiku terasa dicabik-cabik melihatnya yang sangat mengenaskan.
Dia mendongak dan memberikanku senyuman tipisnya. "Kakak lapar? Mau makan juga?" tanyanya. Tangan mungil gadis itu memperlihatkan kantung keresek yang berada di pangkuannya, "tapi makanannya sudah habis, Kak," sambungnya dengan memasang wajah sendu.
Aku bingung harus menjawab apa perkataan gadis mungil itu, yang jelas dadaku semakin sesak mendengar rentetan demi rentetan kata yang dia lontarkan. Dalam keadaan seperti itu saja dia masih memikirkan orang lain dan berniat untuk membagi makanan tak layak konsumsi itu. Aku saja yang hidup dalam keadaan ekonomi menjamin tak pernah sedikit pun memikirkan hidup orang lain. Tapi apa yang gadis kecil itu lakukan sungguh berhasil mencambukku tanpa ampun.
"Kenapa kamu makan makanan seperti itu?" tanyaku dengan netra melihat ke arah kantung keresek bekas makannya.
__ADS_1
Dia mengikuti arah pandangku dan menjawab dengan diiringi senyum tipis, "Selagi masih bisa aku makan, kenapa enggak, Kak?"
"Tapi itu kotor dan sangat tak layak untuk kamu konsumsi," beritahuku. Tapi respons yang dia berikan hanyalah sebuah sunggingan senyum. Aku tak bisa menangkap apa arti dari tarikan di kedua sudut bibirnya.
Dia bangkit dari duduknya dan kembali mengobrak-abrik isi tong sampah. Entah apalagi yang tengah gadis kecil itu lakukan. Sebuah bungkus roti yang terdapat sekitar dua lembar roti tawar gadis itu dapatkan. Untuk apalagi? Apa dia masih lapar?
"Kamu masih lapar?" tanyaku setelah bangkit dari posisi berjongkok. Dia menggeleng pelan.
"Lalu?"
"Ibu aku sudah menunggu, kasian dia sedang kelaparan," jawabnya dengan wajah sendu. Anak kecil yang tidak aku ketahui identitasnya itu lagi-lagi memukul telak kebatuan hatiku yang tak pernah berlaku baik pada Mamah. Kelakuanku pada beliau terkadang tidak sopan dan bar-bar, bahkan aku sering membuatnya marah karena aku yang terlalu banyak berulah.
"Kembalikan roti itu ke tempat sampah, ayo ikut Kakak. Kita cari makanan buat Ibu kamu," kataku yang langsung menarik lembut pergelangan tangannya.
Semoga saja dengan uang duapuluh ribu ini bisa cukup untuk membeli makanan. Entah makanan apa yang bisa dibeli dengan uang yang segitu. Aku tak tahu, tapi aku harap itu bisa cukup untuk membeli sebungkus nasi. Sebuah warung yang menjual berbagai jenis masakan khas rumahan menjadi pilihanku.
"Bu beli makanan tapi uangnya cuman segini. Apa cukup?" Aku berkata dengan suara cukup pelan seraya menyerahkan selembar uang yang sedaritadi mengendap dalam dompet.
Ibu penjual itu mengangguk. Tangannya begitu lincah mengambil bungkus nasi, mengambil sekitar dua centong nasi dan juga ada beberapa lauk pauk yang tidak aku ketahui namanya. Aku baru melihat makanan sejenis itu, dan jujur saja selera makanku hilang. Aku heran kenapa orang-orang pada berdesakan hanya untuk sepiring makanan di warung sederhana ini. Entahlah. Mungkin karena harganya yang ramah di kantong, tapi aku sedikit sanksi perihal kebersihannya. Tidak meyakinkan kalau tempat yang penuh sesak ini bersih serta higienis.
"Makasih, Bu," kataku saat setelah menerima makanan yang sudah terbungkus oleh keresek berwarna hitam.
Aku menyerahkan bungkusan itu pada gadis kecil yang sedaritadi diam membisu di sampingku. "Ini buat Ibu kamu makan. Jangan pernah lagi kamu cari makanan di tempat sampah kaya tadi, itu gak baik buat kesehatan kamu." Aku berkata dengan nada selembut mungkin agar gadis malang itu tak tersinggung.
Dia hanya diam tak mengangguk ataupun menggeleng tak setuju. Tapi raut wajahnya sangat bisa aku baca, bahwa dia tengah kebingungan. Pasti dia mengkhawatirkan bagaimana nasib perutnya besok jika dia tak mengorek-ngorek tempat sampah.
Aku mengelus pelan rambut ikalnya yang sudah gimbal, seperti tidak pernah keramas berbulan-bulan. "Di mana rumah kamu? Kalau besok Kakak ada uang Kakak akan ke rumah kamu buat nganterin makanan," tuturku dengan sedikit sunggingan.
Mata anak itu berbinar begitu terang, tapi detik berikutnya dia menunduk dalam. "Ibu mengajarkan aku untuk tidak meminta-minta pada orang, selagi aku masih mampu untuk mencarinya. Makasih buat niat baik Kakak, dan makasih juga buat makanan ini."
Terbuat dari apa hati anak malang itu? Sudah hidup susah, tapi tidak mau dibantu. Dia selalu bersyukur di tengah kekurangan dan kekejaman dunia. Tak mau merepotkan orang lain dan malah memilih untuk menyiksa dirinya sendiri. Aku tak mengerti dengan jalan pikiran anak itu. Aku saja yang hidup dalam keadaan cukup masih sering menyusahkan orang lain, bahkan aku tak segan meminta uang dari beberapa teman priaku. Padahal Papah dan Mamah sudah memberikanku fasilitas terbaiknya, tapi emang dasar aku yang boros dan tak pandai bersyukur selalu saja merasa kurang. Sepertinya aku harus banyak belajar perihal kehidupan pada gadis malang itu. Di usianya yang masih belasan, dia sudah mampu berpikir dewasa. Sangat berbeda jauh denganku.
__ADS_1
~TBC~