Matrealistis

Matrealistis
43-Sisi Lain Arda


__ADS_3

"Aku di matamu mungkin bagaikan nun mati di antara idgham billagunnah, terlihat, tapi dianggap tak ada."


-Arda Nazma Dewanda-


•••


Ketenangan yang selama ini belum pernah aku dapatkan, akhirnya bisa terealisasikan. Segala urusan dunia yang selalu tumpang tindih memenuhi kepala entah mengapa saat ini hilang lenyap hanya dengan mendengar lantunan doa yang Arda panjatkan. Aku tak mengetahui artinya, tapi hatiku seakan terketuk dan tertampar. Selama ini aku menjalani ibadah hanya karena rasa takut akan amukan Mamah. Salat yang aku dirikan hanya sebatas gerakan tanpa iman. Bacaan demi bacaan yang aku ucapkan hanya bermodalkan hapalan. Tanpa pernah aku tahu makna dan kandungan dari arti di dalamnya.


Tepukan lembut di puncak kepala membuatku mendongak ragu, Arda tengah mengukir senyum indahnya di sana. Sedangkan aku sudah banjir air mata karena ulahnya. "Menangislah jika itu bisa membuat kamu lega. Aku harap air mata ini, air mata penyesalan akan dosa-dosa yang selama ini kamu perbuat. Air mata yang akan membawa kamu pada pintu taubat."


Tubuhku menggigil hebat saat mendengar penuturan penuh ketulusan dan harap yang Arda lontarkan. "Gue pendosa, Arda! Masihkah ada pintu taubat untuk gue?" Isak tangisku semakin menjadi. Rasa sesak di dadaku kian bertambah, dan menimbulkan kesakitan yang tidak bisa aku jelaskan.


Kedua tangan Arda menangkup lembut wajah berlinang air mataku. "Selama kamu masih bernyawa pintu taubat akan selalu terbuka."


Aku menatap netranya yang berbinar dengan begitu terang. "Bimbing gue, Arda," pintaku dengan sorot mata penuh permohonan.


Arda mengangguk tanpa ragu, dan menepuk pelan ubun-ubunku. "Kita sama-sama belajar untuk menggapai keridhoan-Nya."


Untuk kali pertamanya aku memberikan dia senyuman tulus penuh keikhlasan. Aku bisa melihat pancaran mata penuh kelegaan di kedua netranya, bahkan berkali-kali aku mendengar dia melantunkan hamdalah serta kalimat pujian untuk Allah.


"Nah gitu dong akur, Mamah kan seneng liatnya," cetus Mamah yang ternyata sudah berdiri santai di ambang pintu. Sejak kapan beliau nangkring di sana?


Aku menghapus kasar cairan bening yang tadi sempat keluar tanpa izin. "Mamah kurang kerjaan banget sih. Ngurung Adara dalam kamar, terus sekarang malah ngintip lagi. Kalau mata Mamah bintitan gimana?" cercaku yang hanya beliau balas dengan kekehan.


"Mamah cuman mau pinjem mukena sama sajadah doang, Adara. Sensi banget sih acara romantis-romantisannya Mamah gangguin," ocehnya yang membuatku menggeram kesal.

__ADS_1


Aku bangkit dan mencari peralatan salat yang masih bersih di dalam lemari. Gak mungkin kan kalau aku kasih pinjam Mamah mukena serta sajadah bekas?


"Nih." Mamah langsung mengambilnya dan kembali menutup pintu dengan rapat. "Mamah kunci lagi yah pintunya. Yang akur-akur di dalam, inget jangan berantem dan buat drama lagi."


Aku memutar bola mata malas dan membanting tubuhku di atas pembaringan. Mukena masih menempel lengkap di tubuhku. "Gak mau tadarusan bareng, Dar?" tawar Arda saat mataku akan menutup.


"Gue gak bisa ngaji, bisa sih tapi kalau ada translate bahasa Indonesianya," sahutku yang masih bertahan dengan posisiku.


"Ya udah sini ngaji bareng sama aku, kita belajar sama-sama," ajaknya. Aku bangkit tapi belum ada niatan untuk menganyunkan kedua kakiku untuk menuju ke arahnya. Keraguan dan kebimbangan masih sangat mengakar kuat dalam diriku.


"Sudah sini, gampang kok, apa lagi kalau niat kamu kuat," bujuknya lembut. Kedua kakiku berjalan tanpa bisa kucegah. Entahlah seperti ada yang menggerakkannya, padahal aku sama sekali tak ada minat untuk belajar membaca Al-qur'an.


Arda bangkit dan berjalan menuju ke arah nakas, lantas kembali duduk bersila di hadapanku. "Kamu sudah tamat Iqra belum? Kalau belum kita belajar dulu dari sini," cetusnya. Sebuah buku Iqra berukuran sedang berada dalam genggaman tangannya.


Aku mendengus tanpa sadar. "Ini mah bacaan buat anak SD kali, dulu waktu bocah gue pernah baca, tapi sekarang udah lupa. Gak mau ah, gengsi bener kalau sampai orang-orang tau gue baru mau belajar iqra. Umur gue udah kepala dua, Arda," tolakku.


Aku memberengut sebal. "Ah gak asik. Lo mulai ngelunjak sekarang, gue belum siap, Arda."


"Ya sudah gak papa. Maafin aku yah," bujuknya lembut. Kenapa mulut lelaki itu sangat mudah mengucapkan permohonan maaf? Padahal jelas-jelas dia tidak salah di sini. Emang dasarnya aku saja yang belum siap untuk menyambut ajaran agama darinya. Masih setengah hati dan belum mantap. Tadi aku sudah sangat yakin, tapi entah mengapa sekarang lain? Imanku memang selalu seperti itu. Naik turun terus menerus.


"Sebenarnya kenapa sih lo keukeuh banget mau mertahanin hubungan kita yang gak jelas ini? Lo itu emang minus dalam urusan dunia, tapi lo banyak plusnya dalam urusan agama. Kenapa lo gak cari cewek masjid yang ilmu dan akhlaknya udah pasti aja. Dan kenapa harus gue yang lo pilih?" Aku merebahkan tubuhku di atas sajadah, dan menunggu jawabannya.


Dia terkekeh pelan sebelum menjawab, "Dalam urusan jodoh gak ada istilah kenapa dan mengapa? Karena itu mutlak kuasa Allah. Kamu nanyain ini sama aku? Jelas aku gak bakal bisa jawab. Tapi kamu harus percaya bahwa Allah gak pernah salah dalam memilihkan jodoh untuk setiap hambanya, Adara."


Aku diam mencerna kalimat yang baru saja Arda lontarkan. Aku belum puas mendengar jawabannya, yang terlalu klasik dan tidak begitu mendetail. "Aku selalu berdoa agar Allah berkenan menjodohkan aku dengan wanita yang sepadan denganku. Dan Allah menyatukan kita dalam ikatan halal pernikahan," sambungnya yang membuatku sontak langsung terduduk tegak.

__ADS_1


"Tapi gue kan gak sepadan sama lo. Mau diliat dari segi mana pun kita itu gak punya kesetaraan," selaku. Dari segi keimanan jelas aku kalah banyak darinya. Dilihat dari rupa pun jelas aku berada di atas dia. Dari harta dan kemampuan finansialnya? Jelas sangat bertolak belakang. Lantas di mana letak kesepadanannya?


Arda mengedikan bahunya acuh tak acuh. "Jodoh itu misteri Sang Illahi, hanya Dia-lah yang mengetahui. Mungkin ini memang yang tebaik untuk kita berdua."


"Terbaik dari mananya? Rugi yang ada. Kehadiran gue dalam hidup lo itu cuman jadi benalu yang ngehambat jalan lo. Ya simpelnya gini aja deh, ibadah lo gak pernah kendor otomatis pahala lo ngalir terus. Beda sama gue, maksiatnya jalan terus tapi ibadahnya jarang dan bolong-bolong. Ya secara gak langsung gue nabung dosa dan nambah tanggungan dosa lo dong. Bukannya kalau seorang perempuan udah nikah dosa-dosanya akan dilimpahin sama suaminya? Berarti selama ini gue udah gusur lo ke lubang keburukan dong," terangku. Entah ada angin dari mana aku dan Arda bisa duduk akur dan saling berbicara. Biasanya juga berantem dan adu argumen terus.


"Hitungan matematika Allah sama manusia itu beda. Gak bisa asal tambah kurang gitu aja. Kamu emang sudah menjadi tanggung jawab aku, tapi selama aku selalu ingetin kamu dalam kebaikan tapi kamu tetep keukeuh gak mau ngikutin. Ya aku gak berdosa, karena memang tugas aku hanya mengingatkan dan mengarahkan. Untuk urusan kamu ngikutin perkataan aku atau gak itu mutlak menjadi urusan kamu sama Allah." Dia seperti sengaja menjeda kalimatnya, agar membuat rasa penasaranku muncul ke permukaan.


"Semisal kamu mengikuti sebuah kajian, tapi setelah kamu pulang dari acara tersebut kamu malah berbuat dosa. Apakah penceramah yang tadi sempat memberi materi kajian sama kamu ikut berdosa juga? Gak dong, karena kewajiban penceramah itu memberitahukan kebenaran. Untuk urusan apakah diamalkan atau ditingalkan itu urusan jamaahnya. Ya begitu juga aku sama kamu. Aku sudah berusaha untuk memberitahu kamu mana yang benar dan mana yang salah, tapi aku gak diberi kuasa untuk memaksa kamu. Allah saja gak mengekang umatnya dalam hal beragama, kenapa aku harus memaksa kamu untuk mengikuti aku? Untukmu agamamu, dan untukku agamaku. Gak ada keterpaksaan dalam beragama. Kamu ngerti kan maksud aku, Adara?"


Aku termenung mendengar penuturannya. Sederhana tapi berhasil membuatku sadar dan tertampar dengan begitu hebatnya. Baru beberapa menit dikurung bersama Arda saja sudah banyak membuka mata dan hatiku. Kenapa selama tiga minggu ini aku tak menemukan sosok Arda yang seperti sekarang? Apakah selama sandiwara pernikahan ini berjalan dia pun bersandiwara untuk menutupi jati dirinya? Ah, Arda memang manusia misterius yang sangat sulit untuk ditebak.


"Kenapa sekarang lo jadi doyan banget ngomong panjang kali lebar? Ke mana Arda yang selama ini kalau ngomong ngirit dan itung-itungan." Bukannya menyahuti penjelasannya, aku malah sibuk mengomentari yang lain.


"Kamu belum mengenal aku, Adara. Kalau menyangkut urusan agama aku pasti akan dengan senang hati membahasnya sampai tuntas tanpa perlu ada yang ditutup-tutupi. Sepertinya kita memang perlu banyak waktu untuk saling mengenal," tuturnya yang membuatku memutar bola mata malas.


"Alah ternyata semua cowok sama aja. Ujung-ujungnya modus doang," sahutku kesal. Kalimat terakhirnya sungguh sangat menjijikan dan tak enak didengar.


"Gue kira lo itu orangnya kelewat kaku dan gak bisa diajak nyantai. Tapi ternyata lo juga sama aja kaya temen-temen cowok gue yang lain. Doyan gombal dan modusin anak gadis orang," imbuhku.


"Itu kan hanya pemikiran kamu saja, Adara. Kamu mengenal aku hanya sebatas tahu, tanpa pernah mau mencari tahu. Ya makanya yang selalu bersarang dalam otak kamu itu hanyalah hal-hal buruk saja," katanya dengan tangan yang sudah siap untuk membuka Mushaf Al-qur'an.


"Ya buat apaan juga gue cari tau tentang lo. Kurang kerjaan banget, orang tiap hari lo berkeliaran mulu depan mata gue," sanggahku. Memangnya dia siapa sampai aku harus mengetahui seluk-beluk tentang kehidupannya. Dia ada saja seringkali tak aku anggap. Terus sekarang dengan enteng tanpa beban dia memintaku untuk mencari tahu tentangnya? Maaf-maaf saja nih yah aku masih banyak pekerjaan lain, yang tentunya jauh lebih penting.


"Kamu tahu nun mati di antara idgham billagunnah apa hukumnya?" tanyanya yang langsung aku balas dengan gelengan. Jangan tanya aku tentang tajwid dan kawan-kawannya. Untuk membaca Al-qur'an saja masih terbata-bata, apa lagi mengetahui hukum-hukumnya. Nih orang gak nyambung banget pertanyaannya. Lagi bahas soal modus-modusan eh malah lari ke hukum-hukum tajwid yang ada dalam Al-qur'an. Kan kepalaku langsung puyeng.

__ADS_1


"Terlihat tapi dianggap tak ada." Awalnya aku tak mengerti dengan maksud dari kalimat yang Arda lontarkan, tapi setelah aku telaah lagi, aku mulai paham.


~TBC~


__ADS_2