Matrealistis

Matrealistis
8-Ketupat


__ADS_3

"Agama memerintahkan untuk menutup aurat, bukan sekedar membungkus aurat."


•••


Baru saja aku memasuki rumah, sudah disambut tatapan horor Mamah yang tengah berdiri dengan berkacak pinggang. Bisa dipending dulu marahnya? Saat ini aku sangat lelah dan butuh ranjang untuk rebahan, bukan malah mendengar omelan dan ceramahan Mamah yang panjang kali lebar. "Adara capek, Mah. Biarin Adara mandi atau istirahat bentar," kataku menghentikan gerak bibir Mamah yang siap melontarkan rentetan petuah.


"Emang dasar kamu itu gak bisa diatur. Pulang larut malam. Mamah pikir dengan berubahnya penampilan kamu, sifat buruk kamu juga akan berubah tapi buktinya nol besar," semburnya dengan nada suara tinggi.


Aku memilih untuk duduk di sofa sebelum akhirnya menjawab, "Adara abis kelarin semua urusan Adara dulu, Mah makanya pulang malem."


"Urusan! Urusan! Paling juga kamu jalan bareng sama temen-temen cowok kamu," sahutnya tepat sasaran. Aku akui kalau alasan utama yang membuat aku pulang tengah malam seperti ini karena bertemu dengan mereka, teman-teman priaku.


"Iya Adara emang abis ketemu sama mereka, tapi---" Dengan tidak sopan Mamah menghentikan perkataanku.


"Kapan kamu bener-bener berubah, Adara?! Mamah capek ngadepin kamu yang kerjaannya main-main mulu, ngabisin waktu sama cowok-cowok yang bukan mahram kamu. Apa kamu gak malu dengan pakaian yang kamu kenakan? Dengan memakai kerudung seharusnya kamu bisa lebih menjaga diri dan menjaga identitas agama. Tapi yang kamu lakukan justru mencorengnya!"


Aku hanya diam mendengarkan Mamah mengeluarkan segala macam asumsi buruk tentang anaknya. Terserah Mamah. Suka-suka Mamah mau berkomentar apa. Kuping aku sudah kebal dengan hinaan dan cacian. Hati aku juga sudah tak mempan dengan hal semacam itu.


"Kenapa kamu diam aja sih?" tanya Mamah pada akhirnya ikutserta duduk di sampingku. Begitulah beliau kalau sudah tidak tahan menghadapi aku yang bikin tensi darahnya semakin melambung tinggi. Marahnya hanya hitungan menit, tidak akan lama. Dan pada akhirnya beliau menanyakannya secara baik-baik dari hati ke hati. Makanya aku tak terlalu ambil pusing semburan lava panasnya yang tadi. Nanti juga baik sendiri.


"Mamahku yang cantik, baik hati, dan tidak sombong dengerin Adara yang mau ngomong," kataku yang langsung dibalas dengan jawaban, "Gak sekalian rajin menabung." Aku terkekeh mendengarnya.


"Iya bener Adara emang abis jalan sama mereka tapi... dengerin dulu, Mah jangan main potong-potong aja." Lagi-lagi bibir tipis bergincunya akan lepas kendali, beruntung aku bisa menahan dan membungkamnya sebelum meledak.

__ADS_1


"Tadi itu Adara sengaja ketemu mereka buat kasih kabar sama mereka, kalau Adara udah enggak bisa lagi jalan sama mereka. Adara gak mau ngilang gitu aja tanpa kasih mereka kejelasan, Mah," terangku yang dibalas dengan ucapan hamdalah.


"Lagak kamu sok bener banget, pake acara gak mau pergi tanpa kejelasan. Tapi bertahun-tahun mereka sama kamu, gak kamu kasih kejelasan tuh akhir hubungan kalian mau dibawa ke mana." Begini nih kalau ngobrol sama Mamah, gak akan ada kata selesai. Pasti ada aja yang dikomentarin.


"Dari awal aku udah kasih mereka kejelasan kali, Mah. Aku bilang jujur sama mereka kalau gak ada status dan cinta-cintaan. Murni hanya sebuah pertemanan yang saling menguntungkan. Aku butuh mereka buat temenin jalan, ngampus, nongkrong, dan semacamnya. Sedangkan mereka butuh teman cerita dan juga gandengan pada saat menghadiri acara-acara penting," jelasku.


"Ya... ya... Terserah kamu ajalah. Berarti sudah clear semua dong, gak akan pernah ada lagi yang kamu ajak ke sini dan hangout bareng?" tanyanya memastikan.


Aku memasang wajah bloon dan menampilkan cengiran. "Masih ada, Mah tapi sisa satu doang. Dia keukeuh gak mau Adara tinggalin." Mamah geleng-geleng mendengarnya.


"Siapa?" todongnya tanpa basa-basi. Aku menyandarkan kepala pada badan sofa sebelum berkata, "Lukman."


Mamah terlihat manggut-manggut tapi detik berikutnya dia bertanya lagi. "Jangan-jangan kamu suka yah sama dia?" Ish, apa tidak ada pertanyaan lain yang lebih berbobot lagi? Tak ada rasa di antara aku dan Lukman, murni hanya sebuah pertemanan. Gak lebih.


"Kalau emang bener ya sudah langsung ke KUA aja. Minta halalin sana," sambung Mamah enteng. Apa-apaan nih? Enak saja tuh mulut kalau ngomong. Pake acara halalin segala. Kalau mau dapet label halal ke MUI aja sana.


"Mamah bingung sama jalan pikiran kamu. Apa tuh kuping gak panas dengerin omongan tetangga yang bilang inilah itulah. Mamah aja kesel dan gak terima denger kamu dihina-hina, tapi emang dasar kamunya juga sih susah dibilangin," cerocosnya.


"Gak ada kelarnya kalau aku ngurusin omongan orang. Yang ada capek hati terus. Gak papalah buat tabungan akhirat, kan enak nanti tiba-tiba dapet hibahan pahala dari nyinyirin orang-orang," balasku santai tanpa beban. Dosa aku itu terlalu banyak dan aku butuh suntikan pahala. Gak peduli itu pahala datangnya dari mana dan siapa. Yang jelas aku sangat berterima kasih kepada mereka yang mulutnya pada julid.


"Punya anak kok gini-gini amat," desis Mamah pelan tapi masih bisa aku dengar. Buah jatuh itu gak jauh dari pohonnya. Kalau anaknya modelan begini, ya pastinya ibu sama bapaknya jauh lebih parah dong?


Cukup lama kami terdiam dan mengarungi pikiran masing-masing, hingga suara Mamah kembali memecah keheningan. Nada suaranya sedikit serius dan aku segera menegakkan tubuh, serta menatapnya lekat-lekat yang juga tengah menatapku dengan penuh kesungguhan. Aku berdebar penasaran dengan apa yang akan Mamah bicarakan. Kalau sudah seperti ini keadaannya Mamah sedang dalam mode siaga, tak main-main.

__ADS_1


"Kamu tahu gak bedanya membungkus sama menutupi?" tanyanya yang membuat aku bingung tak mengerti.


"Ish, aku kira Mamah mau ngomong apaan. Taunya cuman nanya gitu doang. Udah tegang ini, Mah takut ditanya macem-macem." Bukannya menjawab aku malah berkata demikian.


"Jawab, Adara!" Ok, kalau sudah seperti ini jalan ceritanya aku hanya bisa pasrah dan menjawab seadanya. "Gak ada bedanya lah, Mah. Tapi bentar... kayanya beda sih... tunggu aku mikir dulu." Aku bingung jelasinnya tapi aku bisa bedain antara membungkus sama menutupi.


"Kamu kelamaan mikir," cela Mamah mengganggu kinerja otakku yang sedang berpikir. "Gini aja deh kamu tahu ketupat, kan? Menurut kamu ketupat itu dibungkus apa ditutupin?" Pertanyaan macam apa ini pake acara ketupat dibawa-bawa segala. Gak sekalian opor ayamnya juga?


"Dibungkus sih kayanya, kan masih bisa keliatan tuh dalemnya kaya apaan," sahutku pada akhirnya. Mamah mengangguk, entah setuju atau hanya menghargai jawabanku.


"Ok kalau gitu kamu sama dong kaya ketupat," sahutnya yang membuat mataku melotot. Apaan coba maksudnya?


"Mulut Mamah gak bisa apa sekali aja bikin adem hati. Pake acara samain aku kaya ketupat segala lagi," selaku.


Dengan ringan tanpa beban Mamah berucap, "Ya lagian kamu juga sih. Itu aurat apa ketupat, kok dibungkusnya pake baju ketat?"


Aku mengembuskan napas berat setelah paham arah perbincangan ini mau dibawa ke mana. "Adara belum bisa pake baju kaya Mamah," tukasku langsung pada intinya tanpa mau berputar-putar sama seperti yang Mamah lakukan. Perumpamaan yang Mamah gunakan cukup menyinggung. Beliau menyamakan anaknya yang menjadi buruan para pria di luaran sana dengan ketupat lebaran. Apa gak ada yang lebih bagus lagi?


Mamah menggenggam kedua tanganku dan menatap kedua netraku lebih intens. "'Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya'. Kamu tahu apa maksud dari ayat itu, kan?" Aku mengangguk paham. Aku tahu Mah, tapi bisakah Mamah memberikan aku waktu dan kelonggaran untuk sampai pada titik itu. Proses masing-masing orang itu berbeda-beda dan tidak mungkin bisa langsung berubah secara keseluruhan begitu saja.


Mendengar perkataan Mamah aku jadi teringat dengan sepenggal materi kajian beberapa hari lalu. Hanya satu kalimat saja, tapi itu berhasil menyita perhatian kinerja otakku. "Agama memerintahkan untuk menutup aurat, bukan sekadar membungkus aurat." Ya, aku cukup tahu diri dan menyadari bahwa pakaian yang aku kenakan ini masih jauh dari kata layak sesuai syariat. Lekukkan tubuhku masih terlihat karena pakaian ketat yang menjiplak. Bahkan kerudung yang aku gunakan juga tak menutupi dada, karena sengaja aku tarik ke belakang untuk saling aku kaitkan satu sama lain.


"Mamah tahu kamu masih dalam tahap berproses, dan Mamah juga tahu kalau kamu masih belum terbiasa. Maka dari itu Mamah minta kamu untuk segera mengunakan pakaian yang seharusnya, agar kamu bisa menyesuaikan diri. Kalau kamu terus pake baju kaya gitu, lama kelamaan kamu akan nyaman dan menganggap bahwa yang kamu pakai itu sudah lebih dari cukup. Kamu paham, kan maksud Mamah?"

__ADS_1


~TBC~


__ADS_2