Matrealistis

Matrealistis
33-Sebuah Kebetulan?


__ADS_3

"Semenjak mengenal laki-laki itu, hidupku menjadi penuh kejutan yang tak pernah aku bayangkan. Mengenalnya, dipersatukan dalam pernikahan kontrak, hingga terlibat konflik pelik yang tak berkesudahan. Entah sampai kapan aku terus menerus terpenjara oleh dia dan segala bentuk drama hidupnya."


-Adara Mikhayla Siregar-


•••


Karena bingung harus pergi ke mana akhirnya mau tak mau aku kembali menghubungi Lukman untuk mengantarkanku pulang ke tempat Mamah dan Papah. Gengsi sebenarnya, tapi mau apa dikata daripada aku mati mengenaskan karena kelaparan dan kelelahan berjalan. Alamat bisa geger seluruh makhluk di bumi ini menyaksikan kemalangan nasibku. Dan beruntungnya Lukman bukan tipe manusia ribet yang menanyakan ini dan itu terlebih dahulu saat aku memintanya untuk menjemput.


Dia kelewat lempeng dan untuk apa juga dia menanyakan sesuatu yang sebenarnya tidak penting untuk dia ketahui. Itulah enaknya berteman dengan Lukman, bahkan lelaki itu juga sangat mudah melupakan kejadian yang baru saja terjadi. Anggap saja semuanya seperti awal kita bertemu, tanpa ada masalah dan percekcokan paham. Ya begitulah kira-kira kalimat mujarab yang dia lontarkan pada saat kami dihadang banyak ujian dan cobaan.


"Thanks, Man lo udah mau nganterin gue ke tempat Bonyok," kataku saat baru saja memasuki mobil bermerknya.


Dia yang tengah memasang kembali sabuk pengaman, sedikit menoleh dengan diiringi sunggingan. "Gak papa, santai saja."


Sebelum dia menginjak pedal gas, dia menyodorkan kembali kartu gold unlimited yang semalam aku kembalikan. "Kamu simpen saja, siapa tahu kamu masih membutuhkannya," cetus Lukman.


Dengan tanpa pikir panjang lagi aku langsung menyerobot kartu tersebut dan berujar, "Bukan butuh lagi ini mah tapi emang butuh banget. Mampir dulu ke restoran bintang lima yang ada di depan tikungan, Man," kataku dengan diikuti cengiran.


Lukman terkekeh melihat kelakuanku yang tidak pernah berubah saat mendapati sesuatu-yang menurutku sangat berharga. "Adara.... Adara...." Kepalanya dia geleng-gelengkan sedangkan aku hanya tertawa kecil saja.


"Gue tuh kelaparan. Dari semalem gue gak makan, mana gue gak punya duit lagi. Miris banget kan hidup gue?" ocehku membuka sesi curhat yang pasti akan berakhir panjang.


Lukman melirik sekilas ke arahku lantas kembali fokus menatap jalanan yang cukup ramai lancar. "Lagian kamu juga sih, pake acara ngambek dan sok-sokan gak butuh aku," katanya.

__ADS_1


Aku berdecih pelan sebelum menjawab, "Gue tuh bukan butuh lo tapi kartu lo," sahutku dengan tampang enteng tanpa dosa.


"Aku sudah tahu tak usah kamu perjelas lagi," timpal Lukman.


"Eh, Man sekalian anterin gue ke Mall bentar. Baju gue udah bau, gak enak banget nih di badan." Aku berkata seakan-akan Lukman adalah seorang sopir yang harus siap sedia mengantarkan majikannya ke mana pun pergi.


Beginilah definisi orang maruk yang sesungguhnya. Sudah dikasih hati malah minta jantung, kan ngeselin. Untung Lukman orangnya baik dan pengertian, jadi sangat tak mungkin dia perhitungan hanya perihal urusan seperti ini.


Dia hanya mengangguk pelan dan tak lama dari itu mobil yang kami tumpangi sudah nangkring di parkiran restoran, yang menjual berbagai makanan mewah dengan harga fantastisnya. Aku sih sudah biasa jadi tak heran apalagi shock melihat bil-nya, toh itu uang Lukman kok.


Tanganku melambai pada seorang waiters yang tengah berdiri dengan sebuah pena dan kertas di tangannya. Dia berjalan menuju mejaku dan Lukman. "Ada yang bisa saya bantu?"


"Saya pesan makanan yang paling enak dan mahal yang ada di restoran ini. Pokoknya menu yang jadi andalan," kataku enteng dengan gaya songong. Lukman yang duduk berseberangan denganku hanya menggeleng pelan.


Selagi kartu ajaib ini ada di tangan apa pun pasti bisa aku bayar. Tak ada lagi tuh istilah mati kelaparan dan hidup susah. Pokoknya mah say god bye dengan hal semacam itu.


Akhirnya makanan yang sudah sangat aku nanti-nantikan datang juga, dan tanpa ampun aku langsung melibasnya. Tapi baru saja aku memasukkan satu suap makanan, bayanganku teringat pada gadis malang yang makan dari hasil mengorek-ngorek tempat sampah. Selera makanku langsung hilang. Bukannya merasa jijik atau apalah itu, tapi aku merasa iba saja dengan kehidupannya. Di sini aku makan dengan menu yang enak-enak dan bernilai gizi lengkap, tapi di luar sana dia makan dengan tak layak. Kenapa hatiku gampang terenyuh dengan gadis malang itu? Biasanya tidak seperti ini.


"Kenapa?" suara Lukman membuyarkan lamunanku akan kemirisan nasib anak kecil yang aku temui tadi pagi.


"Kalau gue mau take away makanannya gak papa, kan? Tapi jumlahnya banyak sih," kataku yang menerbitkan kerutan di dahi Lukman. Mungkin dia heran dengan apa yang baru saja aku katakan. Toh selama ini aku tak pernah menanyakan hal yang demikian. Kalau pakai ya pakai saja tanpa pernah meminta izinnya terlebih dahulu.


"Kenapa kamu tanya kaya gitu?" selorohnya yang memang sudah aku perkiraan akan seperti itu.

__ADS_1


"Tadi kan lo jemput gue di sekitar perkampungan kumuh yang padat penduduk tuh, sebenarnya tadi tuh gue abis nganterin anak kecil yang gue temuin lagi ngobrak-abrik tempat sampah, dia ngelakuin itu buat cari makanan sisa yang masih bisa dia komsumsi. Ya karena gue iba akhirnya gue beliin lah tuh dia makanan, itu pun makanan pinggir jalan yang murmer karena uang gue gak cukup---"


"Jadi kamu mau kasih dia makanan, begitu?" potong Lukman cepat. Dia memang sangat pandai jika berbicara perihal kemanusiaan. Jiwa sosialnya terlalu tinggi, sudah banyak dana yang dia gelontorkan untuk memakmurkan anak-anak yatim piatu, serta kaum duafa.


Aku mengangguk cepat. Dan dia memberikan senyum lebar. "Boleh dong, jadi kapan kita pergi ke sananya?" tanyanya begitu antusias.


"Gue kelarin dulu makan, dan untuk list pergi ke Mall gue cancel ajalah," kataku yang dia sambut dengan sunggingan.


"Aku seneng kalau kamu sudah mulai peduli dengan orang-orang yang kekurangan," cetusnya yang membuat kunyahan di mulutku terhenti sejenak.


"Ya mungkin aja ini efek karena tadi gue sempet kelaparan dan ngerasain susahnya cari makan, terus secara kebetulan ketemu sama anak perempuan itu. Jadi tuh rasa iba yang selama ini gue kubur dalam-dalam nongol juga ke permukaan," ocehku yang langsung disambut dengan kekehan ringan.


Mataku memicing saat mendapati seseorang yang aku tinggalkan di rumah sendirian tengah duduk berbincang santai dengan seorang perempuan. Untuk apa dia di sini? Dan siapa perempuan yang bersama dengan lelaki itu? Mendadak hatiku panas melihat interaksi akrab di antara mereka. Drama macam apa ini sebenarnya? Di depanku dia berlaku seperti lelaki sejati yang sempurna tanpa celah. Bahkan kedua orang tuaku saja menganggap dia seperti malaikat tak bersayap yang tak pernah berlaku jahat. Tapi lihatlah sekarang? Dia sedang bertemu dengan seorang perempuan.


Rasanya aku ingin menghampiri dia dan memaki-makinya tanpa ampun. Tenyata dia sama saja sepertiku, gemar bermain dengan seseorang yang bukan mahram. Sepertinya keputusanku untuk bercerai dengannya sudah sangat tepat, dan akan aku perlihatkan pada Mamah dan juga Papah tentang kelakuan bejat menantu ksesayangannya itu. Arda, akan aku bongkar semua kebusukanmu itu.


"Bukannya itu Marwah yah? Tapi kok sama suami kamu sih, Dar?" tanya Lukman yang ternyata tengah melihat pada titik fokus yang sama.


Aku semakin mempertajam indra penglihatku. Wow! Aku sangat terkejut saat kedua netra ini melihat dengan jelas bahwa sosok perempuan yang bersama dengan Arda itu memang Marwah, perempuan yang akan dijodohkan dengan Lukman. Apa dunia sesempit ini? Dari banyaknya kaum perempuan, kenapa harus Marwah yang Arda jadikan sebagai selingkuhan.


Semenjak mengenal laki-laki itu hidupku menjadi penuh kejutan yang tak pernah aku bayangkan. Mengenalnya, dipersatukan dalam pernikahan kontrak, hingga terlibat konflik pelik yang tak berkesudahan. Entah sampai kapan aku terus menerus terpenjara oleh dia dan segala bentuk drama hidupnya.


~TBC~

__ADS_1


__ADS_2