Matrealistis

Matrealistis
47-Mencoba Membuka Hati


__ADS_3

"Bibirku sudah terbiasa memanggilnya hanya dengan sebutan nama saja, dan pasti akan terdengar aneh jika aku menambahi kalimat sapaan di depannya."


-Adara Mikhayla Siregar-


•••


Hari yang panjang dan sangat melelahkan. Ternyata menjadi sepasang pengantin itu sangat tidak mengenakan sama sekali. Berdiri berjam-jam menyalami para tamu undangan yang bejibun banyaknya. Belum lagi beberapa fotografer yang kerjaannya memotret diriku dan Arda dari segala angle. Heh! Sungguh sangat menyebalkan sekali bukan? Kontak fisik walau hanya sebatas saling menggenggam tangan itu tak bisa dihindarkan. Arda dan aku sudah menolak mentah-mentah titah mereka, tapi Mamah dengan sikap otoriternya tak sejalan denganku dan juga Arda.


Aku yang memang enggan dan tidak pernah bersentuhan dengan seorang pria sangat risih serta canggung. Sedangkan Arda yang memang memegang teguh syariat agamanya, bahwa memamerkan kemesraan di khalayak ramai itu tidak dibenarkan. Tapi karena ulah para tetua, terlebih Mamahku tercinta kita harus mau menerimanya. Aku tak merasakan kebahagiaan dalam acara ini, sebuah ketenangan pun sama sekali tak aku rasakan.


Aku langsung menghempaskan tubuh di atas pembaringan yang sudah dihias dengan bunga mawar berbentuk hati, sepasang hiasan angsa yang entah terbuat dari apa itu aku singkirkan begitu saja. Untuk apa menghias ranjang dengan hal-hal semacam itu? Hanya membuang-buang uang saja. Entah apa yang malam ini akan terjadi padaku. Semoga saja Arda tidak berbuat hal gila yang sangat tidak aku inginkan. Aku belum siap.


"Bersih-bersih dulu, Dar. Masa mau tidur pake baju kaya gitu sih?" Kalimat itu aku dapatkan dari Arda yang baru saja keluar dari kamar mandi. Dia sudah berpakaian lengkap, tapi kedua tangannya sibuk memegang handuk yang dia gosok-gosokan di kepala.


"Gue capek, Arda. Badan gue pada pegal-pegal semua ini," sahutku yang sangat enggan untuk mengikuti titah dari lelaki itu.


Aku merasakan ranjang yang sedikit bergoyang, Arda sudah duduk tepat di sampingku. "Setidaknya kamu berganti pakaian dan bersihkan wajah kamu, Dar," katanya lembut dengan sunggingan.


Dengan sedikit kesal aku bangun dari posisi rebahanku. "Lo keluar dulu gih, gue mau mandi," titahku yang langsung dia balas dengan anggukan. Tak lama dari itu kedua tungkainya berjalan keluar kamar.


Aku segera turun dari pembaringan, mengambil bathrobe lantas berjalan lunglai tak bertenaga menuju ke arah kamar mandi. Yang pertama kali aku lakukan adalah mencuci bersih wajahku terlebih dahulu, setelah selesai aku langsung melakukan ritual mandiku. Entah sudah berapa lama aku berendam, yang jelas tubuhku sudah lumayan rileks karena air hangat yang aku gunakan.


Setelah tubuhku aman dan berpakaian lengkap, aku langsung keluar dari kamar mandi. Berjalan ke arah meja rias untuk memakai segala jenis skincare yang bisa memaksimalkan wajah cantikku. Mengeringkan rambutku lantas dengan cepat kembali menutupnya dengan khimar terusan yang berwarna senada dengan baju tidur yang aku kenakan.

__ADS_1


"Adara makan malam sudah siap. Ayo buruan turun, Sayang," teriak Mamah dari lantai dasar. Kebiasaan beliau ternyata belum ada perubahan. Masih doyan berkoar-koar dengan suara melengking.


"Iya." Aku pun membalasnya dengan suara tak kalah keras. Menuruni satu persatu anak tangga, dan setelah masuk ke area ruang makan sudah disambut dengan Mamah, Papah, Tante Annisa, Om Arga, dan juga Arda. Formasi keluarga ini sangat lengkap rupanya.


Aku mendaratkan bokong di kursi kosong samping Arda, karena memang hanya itulah yang tersedia. Sepertinya para tetua itu sudah sangat matang mempersiapkan semuanya. Mamah mengambilkan nasi beserta lauk lauknya untuk Papah, lantas untuk dirinya sendiri. Setelah itu Tante Annisa pun melakukan hal yang serupa. Aku mendengus saat otakku mulai bekerja. Mereka ingin mengajariku bagaimana caranya memperlakukan suami dengan baik dan benar.


Tanganku secara spontan mengambil piring kosong yang berada di depan Arda, mengambil dua centong nasi berserta lauknya juga. Persis sama dengan apa yang dilakukan Mamah dan juga Tante Annisa.


"Makasih, Dar," katanya dengan senyum lebar. Aku Hanya mengangguk saja.


Tak ada perbincangan santai yang terjadi di meja makan. Semuanya hening dan sibuk dengan santapan masing-masing. Aku pun tak ambil pusing, dan lebih baik menghabiskan masakan Mamah yang sudah sangat lama tidak aku jumpai.


"Malam ini kalian menginap di sini yah. Istirahat yang cukup, Mamah tahu kalian pasti capek, kan?" tuturnya lembut penuh perhatian. Tanpa dikasih tahu pun aku sudah tahu. Tapi bodo amatlah mau tidur di mana saja, yang penting nyaman dan kedua mataku bisa terpejam.


•••


Aku duduk termenung di depan meja rias. Entah apa yang harus aku lakukan saat ini. Mataku sudah berat minta diistirahatkan, tapi hatiku bergejolak untuk tetap terjaga. Keduanya tidak sinkron dan membuat pening kepala. Pintu kamar berdecit, Arda muncul di baliknya. Aku tak berniat untuk menyambut ataupun melihat ke arahnya. Pantulan dari cermin sudah sangat cukup bagiku.


"Kenapa belum tidur?" tanyanya dengan kedua tungkai yang berjalan ke arah ranjang. Aku hanya diam tak mau berkomentar, tanpa aku kasih tahu pun seharusnya dia sudah tahu.


"Tidur Adara. Sudah malam," sambungnya lagi yang dengan santai merebahkan tubuh di atas pembaringan berukuran queen size milikku.


Tak mendapatkan respons dariku membuat helaan napas berat terdengar, dengan diiringi tubuhnya yang kembali duduk dengan tegak. "Kalau emang kamu belum siap untuk tidur satu ruangan dengan aku, gak papa. Aku bisa tidur di kamar tamu, atau menggelar selimut di lantai kaya waktu itu."

__ADS_1


Aku memutar arah dudukku agar bisa menghadap ke arahnya. "Kasih gue waktu untuk beradaptasi sama lo. Gue emang berteman dengan banyak pria, tapi gue---"


"Aku tahu, Adara. Kamu gak usah khawatir, aku tahu batasan," potongnya yang seperti tak ingin mendengar kelanjutan kalimat yang akan aku ucapkan.


"Omongan orang tua kita jangan kamu pikirkan. Dengan kamu menerima keberadaanku saja aku sudah bersyukur. Kamu gak berdosa karena aku ikhlas, Adara," cetusnya yang justru berhasil membuatku membisu.


Beban hidupku seperti tak mengenal kata libur dan selalu datang di waktu yang tidak tepat. Baru saja aku mencoba untuk membuka hati dan menerima takdir yang diberikan oleh Sang Maha Kuasa, tapi detik berikutnya aku sudah kembali berjumpa dengan masalah baru yang begitu menggangu kerja otakku. Bagaimana tidak merasa terganggu, Mamah dan Papah secara terang-terangan menceramahiku habis-habisan, dan yang lebih fatalnya lagi hal itu dilakukan di depan Tante Annisa dan juga Om Arga. Sungguh aku sangat malu dan tak punya muka lagi bila berhadapan langsung dengan kedua orang tua Arda.


"Ingat, Adara! Gak ada lagi perjanjian-perjanjian konyol dengan segala macam pasal yang di luar dari batas wajar. Kalian sudah sah menjadi sepasang suami istri, hak dan kewajiban di antara kalian berdua sudah sangat jelas diatur dalam agama. Jangan menyalahi aturan-Nya dengan berbagai macam alasan yang kamu ciptakan." Serentetan kalimat itu aku dapatkan dari Papah selepas acara makan malam selesai. Jika Mamah yang mengatakannya pasti akan aku anggap sebagai angin lalu saja, tapi kali ini lain.


Aku curiga Mamah sudah membongkar sandiwara yang aku ciptakan, makanya mereka sengaja menggelar pesta besar-besaran. Tujuannya sederhana saja, agar aku tahu diri dan tak lagi bermain gila di belakang sana. Orang-orang di sekelilingku sudah tahu kalau aku bukan lagi seorang wanita lajang yang bebas keluyuran dengan sembarang pria. Dan itu cukup bisa membentengi gerakku agar tak kembali berbuat ulah.


"Gue akan coba untuk menjalani peran gue sebagai seorang istri, tapi hanya sebatas---"


"Aku gak maksa kamu, Adara. Biarkan semuanya berjalan sesuai dengan takdir yang sudah Allah gariskan. Aku tahu kamu membutuhkan waktu untuk bisa menerima keadaaan dan status kamu yang sekarang, aku tahu itu, Adara." Lagi-lagi Arda memotong ucapanku.


Aku menarik napas berkali-kali dan membuangnya dengan begitu kasar. "Ok. Gue harap omongan lo bisa gue pegang," kataku yang dia balas dengan anggukan penuh keyakinan.


"Apa aku boleh minta satu hal sama kamu?" tanyanya. Aku mendengus tanpa sadar. Baru saja aku bisa bernapas dengan lega, tapi kini sudah dibuat ketar-ketir lagi olehnya. Anggukan singkat aku berikan sebagai jawaban.


"Bisa kan kalau kamu panggil aku gak cuma sekadar nama. Setidaknya di depan orang tua kita berdua, aku gak mau kamu dianggap gak sopan. Mungkin lebih baiknya lagi kalau kamu bisa menggunakan aku---kamu, bukankah itu hanya permintaan sederhana yang mudah untuk kamu penuhi?"


"Ok." Hanya itu sahutan yang aku berikan. Entahlah, apa aku bisa atau tidak. Yang jelas aku akan mencoba. Bibirku sudah terbiasa memanggilnya hanya dengan sebutan nama saja, dan pasti akan terdengar aneh jika aku menambahi kalimat sapaan di depannya. Belum lagi aku harus mengunakan aku---kamu, ini yang membuatku ragu.

__ADS_1


~TBC~


__ADS_2