
"Mengerjai orang memang selalu menjadi hiburan tersendiri."
-Adara Mikhayla Siregar-
•••
Baru saja aku membuka pintu, Arda sudah muncul dengan kepala yang masih tertutup helm. Aku mengernyit heran karena kedatangannya yang nongol begitu saja tanpa undangan. "Ngapain pulang lagi?" todongku dengan sengaja mem-block akses masuknya. Bukannya cari uang yang banyak, ini malah pulang lagi. Dasar cowok gak bertanggung jawab.
"ID card aku ketinggalan," jawabnya. Aku sudah salah menduga ternyata. Untung dia gak tahu isi kepalaku, kalau tahu bisa malu tujuh turunan. Aku mengangguk dan segera mempersilakan dia masuk, tak berselang lama dia sudah kembali lagi ke ambang pintu tempat di mana aku berpijak.
"Mau aku antar ke kampus?" tawarnya saat aku sudah berhasil mengunci pintu. Aku melirik sebentar arlojiku, sebelum akhirnya mengikuti usulan Arda. Waktu sudah semakin mepet, kalau aku memaksakan diri untuk memesan taxi sudah bisa dipastikan aku akan telat ke kampus, dan dengan terpaksa juga aku harus mengatur ulang jadwal temuku dengan dosen pembimbing. Aku tak mau ambil risiko yang hanya akan membahayakan kelangsungan nasibku di kampus. Tahun ini aku harus lulus dan wisuda.
Sebelum naik aku mengambil tisue terlebih dahulu dari dalam tasku lantas mengelap bagian jok belakangnya. Aku tak mau ambil risiko jika tempat yang akan aku duduki beberapa menit ke depan tidak steril dan jauh dari kata bersih. Terdengar berlebihan memang, tapi aku memang seperti itu orangnya. Kebersihan adalah sebagian dari iman. Ya setidaknya meskipun imanku masih cetek tapi sedikit-dikit bisa mengamalkan apa yang sudah diperintahkan dan tertera dalam Al-qur'an. Lakukan perubahan dari mulai hal terkecil yang seringkali disepelekan. Tumben nih otak rada beres. Efek baru dapet asupan uang jajan kali yah.
"Bisa cepetan dikit gak sih bawa motornya? Kalau kaya gini ceritanya mending jalan kaki aja," protesku karena laju kendaraan beroda dua itu berjalan seperti siput. Arda menambah kecepatannya dan selang beberapa menit kemudian kami sudah sampai di gerbang kampus.
"Makasih buat tumpangan dan juga kartunya," kataku setelah membuka helm dan menyerahkannya pada Arda. Aku cukup tahu dirilah sebagai manusia, mengatakan maaf dan terima kasih adalah hal sepele yang sudah seharusnya dilakukan, tentunya pada waktu yang tepat.
Suara klakson mobil yang bersumber di depanku menghentikan gerak mulut Arda. Seorang pria berjas yang sangat aku kenal keluar dari balik pintu mobil. Berjalan menghampiriku dan berkata, "Aku hubungi nomor kamu tapi gak bisa-bisa. Tadi aku jemput ke rumah juga kata satpam kamu sudah pindah rumah. Ke mana?" Tumben banget tuh mulut bisa ngomong panjang lebar. Biasanya juga irit.
"Sorry, hape gue lowbat lupa di-charge." Aku hanya menjawab pertanyaan pertamanya. Aku bingung jika harus menjelaskan pada Lukman akan perubahan statusku yang sekarang. Dia pasti shock dan tak akan percaya dengan apa yang aku katakan. Berbicara dengan dia harus pelan-pelan, tidak bisa asal menjelaskan.
"Jangan buat aku khawatir, Adara," sambungnya dengan nada merajuk. Kebiasaan dia saat aku menghilang tanpa pemberitahuan pasti akan seperti ini. Dia yang dingin dan tak suka banyak bicara, bisa berubah total seperti anak-anak yang butuh kasih sayang dan perhatian.
__ADS_1
Aku hanya terkekeh menanggapi ucapannya. Aku dan Lukman sama sekali tak menghiraukan keberadaan Arda, dan malah asik berbincang dengan diiringi tawa. Aku berharap dengan cara seperti ini, dia bisa sadar diri dan memilih mundur sebelum tenggang waktu yang ditentukan habis. Aku yakin dia merasa harga dirinya diinjak-injak karena ulahku. Tapi bagus sih kalau emang dia berpikiran seperti itu. Biar dia tahu diri. Masih mending Lukman ke mana-mana kalau dibandingin sama Arda yang banyak kurangnya.
"Anda siapa? Kenapa masih diam di sini?" tanya Lukman setelah menyadari keberadaan orang lain di tengah-tengah kami. Jantungku berdebar tak terkendali, takut Arda akan berkata yang tidak-tidak. Bisa bahaya kalau sampai dia jujur dan membeberkan statusku yang sekarang. Seantero kampus pasti akan mem-bully-ku habis-habisan.
Aku terhenyak kaget bukan main saat mendengar jawaban Arda. "Saya hanya driver ojeg online. Jangan lupa bintang limanya, Mbak," ucapnya dan langsung berlalu begitu saja. Aku cukup bersyukur karena dia tak membocorkan jati dirinya yang merupakan suami sementaraku. Baguslah kalau dia sadar diri dan gak berbuat ulah. Tapi memang sudah seharusnya seperti itu sih. Ternyata dia masih bisa diandalkan dan bisa diajak kerja sama juga.
"Hey... kok malah bengong?" Suara Lukman kembali menyadarkanku dari lamunan panjang.
"Eng... enggak papa kok... Nanti jemput gue seperti biasa yah. Ada yang perlu gue omongin sama lo," sahutku antara sadar tak sadar. Masih sedikit shock.
"Ok." Setelahnya dia segera pergi meninggalkan aku yang masih berdiri tak jelas di depan gerbang kampus. Awalnya aku tak begitu memikirkan perihal perasaan Arda saat dia bertemu dengan teman-teman priaku, tapi sekarang rasanya berbeda. Aku merasa jadi wanita terkejam di dunia. Sadar Adara! Sadar! Bukannya ini bagus? Dengan cara seperti ini pasti Arda dengan mudah melepaskan kamu dari jerat surat perjanjian. Berbahagialah karena status lajang sudah berada di depan mata.
•••
"Ngapain lo?" tanyaku langsung pada intinya. Dari gerak tubuh dan aura wajahnya dia seperti sedang memendam kekesalan tingkat dewa. Apa dia marah karena kejadian di kampus tadi? Syukurlah, semoga saja sekarang dia akan melayangkan talaknya. Kalau bisa sih talak tiga aja sekalian, biar aku gak pernah bisa rujuk lagi sama dia.
"Kenapa jam segini baru pulang? Kamu kesasar di mana? Masih muda kok sudah pelupa," ungkapnya begitu lancar tanpa beban. Heh. Dia mau berlagak seperti suami-suami overprotektif di luaran sana? Kaca mana kaca?!
"Mendadak penyakit amnesia gue kumat," jawabku asal. Aku malas berdebat saat malam seperti ini, apalagi jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Waktunya untuk istirahat, bukan malah adu mulut tak jelas.
Arda terlihat geleng-geleng dengan bibir melantunkan istigfar berulang kali. "Dari mana?" ulangnya dengan nada lembut tapi menuntut.
Aku memutar bola mata malas dan berlalu begitu saja, tapi saat sebelum aku benar-benar masuk ke kamar aku berujar, "Tanpa gue jawab pun lo udah tau jawabannya." Aku tak bodoh untuk membaca kerisauan hatinya yang seperti diliputi rasa tak tenang, terlebih tadi saat aku bersama Lukman tepat di depan mata kepalanya sendiri. Ada dia saja aku seperti tidak menganggapnya, apalagi pada saat dia tidak ada. Mungkin itu yang ada di pikirkannya. Mungkinkah cowok modelan Arda bisa cemburu juga? Cemburu? Punya hak apa dia bersikap seperti itu. Aku hanya istri di atas kertasnya saja. Tidak lebih.
__ADS_1
Selepas membersihkan tubuh aku memutuskan untuk keluar kamar. Mendadak cacing-cacing di perutku berdemo. Mandi dan makan hampir tengah malam sudah menjadi kebiasaan yang sulit untuk aku tinggalkan. Berulang kali Mamah mengingatkan, tapi sama sekali tak aku hiraukan. Mengingat namanya saja sudah membuat aku kangen tingkat akut, aku kangen mendengar ocehan dan omelan Mamah yang menggelegar dan memekakkan telinga. Rasanya aku sangat ingin pulang dan bertemu dengan kedua orang tuaku. Tinggal seatap bersama Arda hanya menyiksa jiwa dan ragaku saja.
"Lo ngapain tengah malem begini obrak-abrik dapur?" semburku saat melihat keberadaan Arda yang sedang berkutat di dapur. Kompornya masih mati tapi ada panci kecil yang sudah diisi air. "Aku laper, mau masak mie instant tapi mie-nya gak ada," balasnya dengan kedua tangan sibuk mencari.
"Minggir sana. Lo mau mie instant, kan?" Dia mengangguk seperti bocah. Aku mengambil mie instant dengan merek terkenal di lemari atas. Merebusnya sebentar dan segera menyerahkannya pada Arda yang sudah duduk manis di kursi meja makan. Baik kan aku? Jawab iya dong. Maksa ini mah.
"Kamu gak makan?" Semenjak nikah nih orang tiba-tiba jadi suka banyak nanya. Dan pertanyaannya itu lho buat aku muak dan kesal sendiri. Hal-hal yang ditanyakan sangat sepele dan tidak penting untuk dijawab. Hanya buang-buang energi saja.
"Kalau lo mau makan ya makan aja, gak usah pake sok perhatian kaya gitu. Gak suka gue!" kataku dan dengan cepat berjalan menuju ke dapur.
Aku mengeluarkan telur, sosis, sayuran hijau, bawang, cabai rawit, dan segala tek-tek bengek yang aku butuhkan untuk memasak nasi goreng spesial ala-ala. Aroma harum dari penggorengan membuat cacing-cacingku semakin berdemo minta jatah. Sabarlah sedikit, sebentar lagi aku akan memenuhi kebutuhan kalian.
Satu piring penuh nasi goreng sudah berada di tangan, aku berjalan ringan menuju meja makan. Ada Arda di sana yang masih terlihat sibuk memakan mie instant-nya. Mendaratkan bokongku dan mulai menyuapkan sendok demi sendok makanan hasil karyaku ke dalam mulut. Sekilas aku melihat wajah Arda yang tertekuk seperti orang yang ingin memakanku hidup-hidup. Ada yang salah?
Karena risih dengan tatapan Arda yang membunuh, aku memberanikan diri untuk bertanya, "Gitu amat lo liatin guenya? Terpesona akan kecantikan gue yang cetar membahana."
Dia mendengus sebelum menjawab, "Apa kamu gak ngerasa bersalah sama sekali?" Dengan pipi mengembung aku menggeleng tanpa dosa. Dia berdecak. "Kamu kasih makan aku mie instant tapi kamu malah makan nasi goreng spesial."
Rasanya aku ingin menyemburkan tawa tepat di depan wajah Arda. Dia seperti bocah pada saat mengatakan keberatannya. Aku sengaja tak menjawabnya dengan cepat, dan justru melanjutkan acara makanku terlebih dahulu. Beberapa kali aku melihat dia meneguk ludahnya sendiri, mengerjai orang memang selalu menjadi hiburan tersendiri.
"Tadi kan gue nanya sama lo. 'Lo mau mie instant, kan?' Terus lo ngangguk ya udah sebagai istri yang baik gue turutin dong mau lo. Jadi salah gue di mana?" Aku berlagak bego tak mengerti dengan maksudnya. Aku pun sengaja menyebut diriku dengan kata 'istri' tujuannya sih agar membuat dia semakin kesal dan dongkol saja.
Dia menghela napas sejenak sebelum akhirnya berucap, "Kamu gak salah tapi aku yang salah." Tawaku pecah tak terbendung saat langkah dia semakin menjauh pergi.
__ADS_1
~TBC~