Matrealistis

Matrealistis
17-Dibawa Santai


__ADS_3

"Bukan bermaksud untuk melukai banyak hati, hanya saja keadaan yang memaksaku untuk berlaku seperti ini."


-Adara Mikhayla Siregar-


•••


Aku bergerak-gerak gelisah tak tentu arah. Bagaimana tidak? Saat ini aku tidur dalam satu ranjang yang sama bersama Arda. Kami tidur dengan posisi saling memunggungi dan dibatasi oleh guling di tengah-tengahnya. Aku tak biasa dan merasa asing serta tak nyaman saat ada orang lain yang berada dalam satu ruangan yang sama, terlebih lagi ini di atas pembaringan dan yang lebih parahnya lagi dengan seorang pria. Kedua mataku sudah berat dan meminta untuk terpejam, tapi pikiranku yang terus bekerja sulit untuk dikendalikan hingga tak bisa terlelap dengan tenang. Aku takut terjadi sesuatu yang tidak aku inginkan dan harapkan pada saat aku tidur. Aku menggeleng cepat saat pikiran buruk mampir begitu saja tanpa dapat kucegah.


"Tidur, Adara aku gak akan ngelakuin apa-apa," cetus Arda. Aku menenggelamkan wajahku di bantal dan tidur tengkurap. Perkataan Arda sukses membuat tubuhku menggigil dan wajahku memanas. Bagaimana munhkin aku tak berpikiran hal buruk, jika sudah jelas-jelas tertulis dalam surat perjanjian kalau Arda menginginkan keturunan. Sampai lebaran monyet sekalipun aku tak akan mau dan sudi mengandung darah dagingnya. Itu adalah mimpi buruk yang sangat-sangat tidak aku inginkan.


Setelah mampu mengendalikan diri, aku mengambil bantal dan juga selimut baru yang ada di lemari. Langkahku terhenti saat Arda kembali bersuara. "Mau ke mana?" Apa perlu aku menjawabnya? Aku rasa tidak. Dia tidaklah bodoh untuk menebak apa yang akan aku perbuat dengan bantal dan selimut.


"Kalau kamu gak nyaman dan keganggu sama kehadiran aku di kamar ini. Bilang, bukan malah kaya gini. Kamu tidur saja di sini, biar aku yang tidur di sofa ruang tengah," ucapnya yang dengan begitu cepat membawa barang-barang yang dia butuhkan.

__ADS_1


Aku sedikit tak percaya dengan apa yang dilakukannya. Aku kira dia akan memaksaku untuk tetap bertahan tidur bersama dengannya di atas ranjang empuk berukuran besar. Tapi syukurlah dugaan aku salah besar dan itu lebih baik untuk kelangsungan nasibku. Aku semakin bernapas lega saat dia sudah menghilang dari pandangan. Sifatnya terlalu berubah-ubah dan sulit ditebak. Kadang baik, nyebelin, dan tak jarang buat aku naik darah.


Apa rumah tangga semacam ini yang aku harapkan dan idamkan? Jelas saja tidak. Tinggal satu atap bersama Arda bukanlah pilihan yang saat ini bisa aku tawar-tawar. Aku memang sudah sah menjadi istrinya tapi aku masih saja berlaku kurang ajar dan tak tahu aturan dalam memperlakukannya. Aku melanggar petuah Mamah dan Papah yang memintaku untuk berbakti pada Arda, secara tidak langsung aku sudah membuat kedua orang tuaku kecewa. Aku masih belum bisa, bahkan mungkin tidak akan pernah bisa menerima kehadiran Arda dalam hidupku. Sehari bersamanya saja sudah berasa bertahun-tahun. Apalagi harus bertahan selama satu bulan setengah? Jika aku mengedepankan ego tanpa menghiraukan perasaan orang tuaku, sudah pasti aku akan pergi dan segera mengurus surat perceraian ke pengadilan agama.


Mengeluh dan meratapi nasib bukanlah sifatku, tapi tak tahu kenapa semenjak status lajangku lenyap, aku menjadi pribadi seperti sekarang. Ternyata benar apa kata orang, bahwa masalah hidup itu bisa mempengaruhi kualitas hidup seseorang. Ingin terlihat seperti baik-baik saja rasanya sangat melelahkan. Menampilkan senyum penuh kebahagiaan, tapi yang terjadi justru di luar perkiraan. Pikiranku sangat mumet hanya karena kehadiran Arda di waktu yang tidak tepat. Di usiaku yang masih muda ini seharusnya dibawa santai dan berbagi kebahagiaan bersama teman-teman sebaya, tapi yang aku alami saat ini sungguh tak masuk di akal pikiran. Semuanya penuh kejutan yang membuatku jantungan.


•••


"Kenapa? Mau protes? Segitu juga udah untung gue masakin," sahutku sangar. Aku sengaja hanya memasak telur dadar saja, bukannya tak bisa memasak menu yang lain tapi aku memang sengaja ingin mengerjai dia saja.


"Perasaan di kulkas masih banyak bahan masakan deh. Tapi yang kamu olah tak pernah berubah, telur terus setiap hari," ucapnya dengan nada protes. Sebisa mungkin aku memasang wajah serius penuh kegarangan. "Kalau gue cuman bisa masak telur doang gimana?"


Matanya melotot dan segera meletakkan sendok di atas piring berisi nasi putih dan telur dadar. "Serius?" tanyanya antara percaya tak percaya. Dasar Arda, otaknya ditaruh di mana sih? Yang baru saja aku katakan adalah sebuah pertanyaan bukan pernyataan. Kayanya tuh orang pas masih sekolah nilai bahasa Indonesianya jeblok deh. Belajar lagi sana.

__ADS_1


Aku mau dia tidak bergantung hidup padaku, makanan cepat saji banyak di luaran sana dan bisa dengan mudah didapatkan. Aku tidak mau membuat dia terbiasa dengan kehadiranku dalam hidupnya. Dengan cara memberikan makanan yang itu-itu saja pasti dia akan bosan, dan tidak mau lagi aku masakan dan masalah pun selesai. Andaikan bisa sesimpel itu, tapi nyatanya tidak semudah itu.


Aku tak menjawab apa pun, hanya sibuk menghabiskan teh hangatku. Aku tak mau berucap bohong padanya, biarkan saja dia yang berasumsi sendiri. Dia terlihat memasukkan suap demi suap nasi beserta lauknya ke dalam mulut dengan ogah-ogahan. Setiap hari aku mencekoki dia dengan olahan telur saja, dari mulai telur mata sapi, telur dadar, telur balado, telur rebus, dan segala jenis olahan telur lainnya tanpa pendamping apa pun selain nasi putih hangat. Kalau aku jadi dia sih ogah dan lebih memilih untuk membeli makanan cepat saji saja.


"Kamu gak makan?" selorohnya yang aku balas dengan gelengan. Aku hanya menjadi pajangan yang melihat wajah menderita dan sengsara Arda karena ulahku yang membuat siapa pun geleng-geleng kepala.


Selama Lukman masih bisa diandalkan untuk memenuhi semua kebutuhan, aku tidak akan mungkin mati kelaparan. Lah wong setiap pagi, siang, atau bahkan malam sekalipun kita selalu ketemuan di kafe atau restoran untuk memenuhi kebutuhan giziku agar tak kekurangan. Aku tak lagi mengambil pusing persoalan yang saat ini aku alami, kepalaku bisa pecah kalau terus menerus mengeluh dan meratapi nasib hidup yang tak sesuai harapan.  Beruntung masih ada Lukman yang bisa aku harapkan dan bisa aku jadikan ATM berjalan. Uang yang Arda berikan hanya cukup untuk dua hari saja, selebihnya aku meminta jatah pada Lukman yang dengan sukarela tanpa paksaan memberikannya padaku. Kelakuanku memang kurang ajar dan tak tahu aturan, berstatus sebagai istri orang tapi masih doyan keluyuran dan ngabisin uang orang lain.


Desas-desus omongan sinis para tetangga sama sekali tak kuanggap. Biarkan saja mereka berkoar-koar hingga mulutnya berbusa. Yang rugi mereka, aku sih enak dapet transferan pahala dari mereka. Selama kelakuanku tak terendus oleh Mamah dan Papah, aku merasa aman-aman saja. Kalau pun ketahuan, bawa santai saja, toh aku menikah dengan Arda hanya sebatas status dan paksaan. Tak ada yang perlu aku risaukan jika memang kedua orang tuaku mengamuk dan menistakanku sebagai anak. Untuk saat ini aku masih ingin bebas tanpa terikat oleh siapa pun.


Hanya tinggal sekitar satu bulan satu minggu lagi aku akan terbebas dari perjanjian konyol tak masuk akal yang aku dan Arda sepakati. Sebentar lagi status lajang akan aku sandang, lebih tepatnya janda. Aku bergidik ngeri membayangkan diriku yang muda ini sudah berstatus sebagai janda. Ini adalah mimpi buruk yang sangat tidak ingin ada dalam kamus hidupku. Tapi apa boleh buat jika semua ini memang sudah menjadi jalan takdir yang tidak dapat aku hindarkan. Cukup jalani saja dan untuk urusan ke depannya biarkan semesta yang berbicara.


~TBC~

__ADS_1


__ADS_2