Matrealistis

Matrealistis
42-Sebuah Tawaran


__ADS_3

"Aku akan mempertimbangkan semua ini, aku tak ingin salah dalam mengambil keputusan. Karena masa depanku yang akan menjadi taruhan."


-Adara Mikhayla Siregar-


•••


Aku terkesiap saat menyadari pintu kamar yang dikunci dari luar oleh Mamah. Pandanganku lansung jatuh pada Arda yang malah menatapku biasa saja, seolah-olah tak pernah terjadi apa-apa sebelumnya.


"Jangan dengerin kata-kata, Mamah. Lo tidur di bawah dan gue tidur di ranjang. Awas kalau sampai lo macam-macam!" ancamku yang langsung melemparkan bantal, guling, serta selimut ke arahnya.


"Iya, Adara. Tanpa kamu kasih tahu juga aku sudah tahu," cetusnya. Dia langsung menggelar selimut tebal itu di lantai, meletakkan bantal serta guling di atasnya.


"Baguslah kalau emang lo tau diri. Oh ya satu lagi, lo boleh pake kamar mandi tapi dengan syarat lo gak boleh sentuh barang-barang gue, termasuk sabun dan peralatan mandi lainnya. Ganti baju langsung di dalam kamar mandi. Ngerti?" tuturku penuh peringatan.


Arda mendengus pelan. "Yang namanya mandi ya harus pakai sabun dong, Adara. Peraturan kamu ada-ada aja. Ngaco!"


Aku menggeleng keras tak setuju. "Gue takut lo ada penyakit kulit menular. Gue gak mau ambil risiko kena penyakit lo. Paham?"


Dia mengangguk pelan, sangat kentara sekali kalau laki-laki itu keberatan. Bodo amatlah. Ini adalah kamarku, dan dia sebagai tamu tak diundang harus mematuhi segala aturanku. Tanpa ada protes sedikit pun.


"Besok Mamah bakal gelar akad ulang sekaligus resepsi dadakan. Gue gak mau rencana Mamah berjalan dengan lancar, pagi-pagi buta banget lo harus pergi dari sini. Kalau perlu sih jangan balik lagi," ocehku setelah duduk santai bersandar di pembaringan, sedangkan Arda tengah terbaring di lantai beralaskan selimut. Tangannya dia jadikan bantalan, pandangannya lurus menatap langit-langit kamar.


"Kenapa harus aku?" sahut Arda masih terlihat nyaman dengan posisinya sekarang.

__ADS_1


Aku menghela napas singkat sebelum menjawab, "Kalau gue yang kabur pasti kena omel Mamah, Papah. Kalau lo kayanya gak bakal deh, lo kan mantu kesayangan mereka."


Arda bangkit dan duduk bersila menghadap ke arahku. "Aku gak mau, Adara. Sudah cukup aku membohongi orang tua kita dengan sandiwara pernikahan ini, dan aku gak akan mau mengikuti permintaan kamu lagi. Pernikahan bukan untuk dijadikan ajang mainan."


Aku membalikkan arah agar duduk menghadap pada lelaki itu. "Ya gak bisa gitu dong, itu sama aja lo mau ngulangin kesalahan yang sama."


Arda berjalan mendekat dan duduk di tepi ranjang yang berseberangan denganku. "Bukan untuk mengulang kesalahan, justru aku ingin memperbaikinya. Aku tahu cara aku dulu salah karena menikahi kamu secara diam-diam, tapi sekarang aku mau kita menikah secara terang-terangan dan juga dengan hati yang lapang. Niatkan semuanya untuk ibadah Insya Allah apa yang selama ini membebani kamu akan hilang."


"Kalau cuman ngomong doang mah gampang, lo gak tau aja gimana rasanya jadi gue. Lo tahu gue gak pernah hidup susah, apa-apa tinggal minta dan semua yang gue mau bakal datang dengan cuma-cuma. Tapi semenjak gue hidup satu atap sama lo, gue harus bisa menyesuaikan gaya hidup gue sama lo. Lo kira itu gak perlu proses apa? Belum lagi penampilan lo yang maaf-maaf aja nih yah malu-maluin. Gaya lo kelewat kuno dan gak ada modis-modisnya sama sekali," terangku blak-blakan apa adanya. Aku tak peduli kalau sampai perkataanku menyinggung perasaannya. Aku hanya mengungkapkan apa yang menjadi keluhanku selama ini.


Berkali-kali aku mendengar helaan napas beratnya. "Kalau untuk masalah materi kuakui aku memang lemah dalam hal itu, tapi aku percaya bahwa Allah selalu melimpahkan rezeki pada hamba-hamba-Nya yang pandai bersyukur. Untuk apa sih kita menghambur-hamburkan uang hanya untuk urusan dunia yang gak ada manfaatnya? Di luar sana masih banyak orang yang gak seberuntung kita, bahkan untuk makan saja mereka kesusahan. Dan untuk masalah penampilan, cara berpakaian aku memang seperti ini. Aku gak suka mengikuti tren zaman yang terkadang menyalahi aturan. Kalau emang kamu malu buat ngakuin aku sebagai suami, gak papa aku gak bakal marah ataupun nuntut kamu buat go publik. Tapi aku hanya minta satu hal sama kamu, kita jalani kehidupan rumah tangga kita sesuai dengan syariat agama. Sudah cukup selama ini aku lalai dalam menjalani peranku sebagai imam, aku takut murka Allah, Adara."


Aku hanya mampu diam mencerna kata demi kata yang terlontar dari mulut Arda. Baru kali ini dia berbicara dengan panjang lebar, dan mengutarakan secara langsung apa yang tengah dia rasakan. Aku cukup terkejut mendengar pengakuannya. Bahkan dia tanpa malu mengakui kelemahannya dalam hal materi dan masalah duniawi. Di mana biasanya sebagian orang beramai-ramai mengumumkan kelebihan mereka, dan sangat enggan mengakui sisi lemahnya. Tapi yang Arda lakukan sungguh sangat berbeda dengan manusia kebanyakan.


"Tapi gue gak bisa, Arda. Gue gak cinta sama lo. Sebuah hubungan tanpa didasari dengan cinta gak akan berjalan dengan baik-baik aja," sanggahku.


Arda menatap kedua iris mataku. "Cinta bukanlah pondasi utama terciptanya rumah tangga yang bahagia. Letakkan cinta kamu pada Allah, cinta pada-Nya lebih utama. Kalau untuk urusan aku, kamu jangan khawatir, aku gak akan mempersalahkan hal itu."


Suaraku tercekat di kerongkongan. Selama ini aku sama sekali tak pernah mengutamakan perasaan dalam sebuah hubungan, tapi pada Arda kenapa aku malah menjadikan hal itu sebagai alasan utama? Padahal sejak dulu pun aku tak pernah percaya dan memusingkan dengan cinta yang selalu orang-orang agungkan. Tapi kenapa sekarang lain?


"Terus gimana soal urusan nafkah? Hidup gue udah kelewat hedon dan gak bisa diajak susah. Lo pasti bakal gak tahan." Aku masih mencoba untuk menolak ajakannya. Aku tak yakin hidupku akan bahagia dengan Arda yang hanya seorang pekerja kasar pabrikan saja.


Arda mengukir senyum tipisnya. "Selagi Allah masih memberikan aku kesehatan, Insya Allah aku akan bekerja lebih keras lagi untuk mencukupi semua kebutuhan kamu. Tapi itu pun sesuai dengan batas kemampuanku," tuturnya.

__ADS_1


"Gue gak suka cara berpenampilan lo yang kuno dan ketinggalan zaman. Gue malu, Arda," cetusku. Aku masih belum puas mendengar jawaban-jawaban Arda yang sebelumnya. Hatiku masih meragu.


"Aku akan merubahnya, tapi gak sampai keluar dari syariat Islam," sahutnya mantap penuh kesungguhan.


Aku berpikir sejenak sebelum akhirnya menjawab, "Kasih gue waktu buat mikir, seenggaknya sampai besok sebelum acara yang Mamah siapin dimulai. Kalau besok pagi gue kabur, itu artinya gue nolak. Tapi kalau sebaliknya, gue ada di sini berarti gue menyanggupi usulan lo."


Arda mengangguk dengan senyum lebar. Sangat terlihat sekali binar kebahagiaan di wajahnya. Aku akan mempertimbangkan semua ini, aku tak ingin salah dalam mengambil keputusan. Karena masa depanku yang akan menjadi taruhan.


Suara kumandang adzan Magrib menggema menghentikan perbincangan serius di antara kami berdua. "Kita salat jamaah yah, Adara. Sekarang kamu ambil wudhu biar aku yang siapin alat-alat salatnya."


Aku menurunkan kedua kakiku di lantai. "Tapi lo jangan macem-macem yah. Ini cuman salat Magrib doang," kataku mengingatkan.


Arda malah mengukir senyum tipis menyebalkan. "Iya, Adara." Aku curiga dengan tarikan di kedua sudut bibirnya itu, dengan langkah malas aku berjalan ke kamar mandi.


Aku duduk di atas sajadah dengan dada berdebar. Mendadak perasaanku menjadi ketar-ketir tak jelas seperti ini. Aku memakai mukenaku sambil menunggu laki-laki itu selesai mengambil air wudhu. Tak lama Arda muncul di balik pintu dengan wajah dan rambutnya yang basah. Aku langsung memalingkan pandangan saat tertangkap basah tengah melirik sekilas ke arahnya. Ingat yah, hanya sekilas. Tidak lebih.


"Langsung salat Magrib, gak ada salat Sunnah-Sunnah'an," ucapku saat Arda sudah berdiri di posisinya. Anggukan kecil dia berikan sebagai jawaban.


Suara takbir dengan diiringi angkatan kedua tangannya memulai acara ibadah kami. Lantunan ayat suci Al-qur'an begitu mengalun indah dari sela bibirnya, hatiku sangat merasa tenang dan damai dibuatnya. Aku sama sekali tak fokus dan malah hanyut dalam suara merdunya. Selama ini aku tak pernah meresapi dengan betul suara Arda saat melantunkan Kalam Illahi. Ini adalah kali pertama aku merasa nyaman berada di dekatnya.


Sampai akhirnya suara salam terdengar, tanda salat sudah usai dilakukan. Jika biasanya aku langsung lari tanpa melantunkan doa terlebih dahulu, kini aku malah duduk anteng dan menengadahkan kedua tanganku. Mengaminkan doa yang Arda panjatkan. Entah apa yang dia ucapkan, aku tak mengetahui artinya. Dia membalikkan tubuhnya agar menghadap ke arahku, menyodorkan tangan kanannya agar aku salami. Dengan ragu serta tangan gemetar aku mengikuti kemauannya.


Arda meletakkan tangan sebelah kirinya pada puncak kepalaku, lalu tangan lainnya dia tengadahkan. "Allahumma innii asaluka min khoiri ma jabaltaha alaihi. Wa audzu bika min syarri wa syarri ma jabaltaha alaih." Entah sadar atau tidak aku kembali mengaminkan doanya. Mendadak air mataku sudah menggenang siap untuk ditumpahkan. Apakah ini yang dinamakan dengan nikmatnya menjalin sebuah hubungan atas dasar cinta kepada Allah?

__ADS_1


~TBC~


__ADS_2